Mengintip Kampung Adat Reka dan Sa’o Ria Tenda Bewa di Ende

Kampung Adat Reka dan Sa’o Ria Tenda Bewa di Ende, Flores. Foto : Marsel/Majalah Fortuna

Kampung adat Reka merupakan perkampungan adat yang berada di kawasan Desa Reka, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Desa ini terletak di pedalaman Lio yang berada pada ketinggian 689meter dpl  dengan luas wilayah 4.20km dan merupakan kampung adat yang dihuni oleh masyarakat etnik Ende-Lio dengan aneka ragam budaya lokal.

Ragam budaya lokal Ende Lio terdiri atas sub sistem religi dengan Du’a Nggae sebagai wujud ke-Illahian tertinggi.Tana watu dan Embu Mamo Ku Kajo sebagai keyakinan dan kekuatan rohani yang mendasari kehidupan keseharian.

Ritual-ritual  adat dalam konteks kehidupan yang berbasiskan pertanian tradisional menjadi daya religius dan kekuatan sosial budaya masyarakat kampung Reka.

Masyarakat adat Reka mempunyai Sa’o Ria Tenda Bewa sebagai pusat kekuasaan dan cermin stratifikasi sosial masyarakatnya. Secara tradisional Mosa Laki Ria Bewa adalah lembaga tradisional yang dilegitimasi oleh masyarakat adat setempat dan menempati Sa’o Ria Tenda Bewa.

Kelompok elite penguasa adat ini terdiri atas Ata Ngga’e atau Ata ria, sedangkan kelas bawah disebut Ana Kalo Fai Walu dan Aj Ana.

Sungguh indah dan berkesan beranjangsana ke Desa Reka. Desa yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota dengan sejuta kesunyian negeri merdeka yang masih berterangkan kerlap kerlipnya lampu minyak di malam hari dan gemerciknya air pegunungan.

Anda pengunjung yang ingin mendatangi desa adat ini dipastikah barus melewati terjalnya jalan bebatuan yang meliuk liuk sampai pesisir menggambarkan keperawanan yang tak terjamah.

Memasuki Desa ini anda dapat menjumpai beberapa bangunan rumah adat dengan arsitektur lokal yang sangat eksotis.

Ada beberapa sebutan bangunan adat ada di tempat ini misalnya Sa’o Ria (rumah besar ), Keda (tempat musyawarah), Kanga ( arena lingkaran ), Tubu Musu (tugu batu ) dan Rate ( kuburan ) berada di tengah perkampungan adat.

Tantangan Peradapan

Nah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah perubahan nilai budaya lokal. Membangun rumah adat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat tradisional dimana rumah sebagai tempat tinggal salain jadi lokus pegaleran ritual adat.

Rumah adat merupakan arsitektur yang dibuat berdasarkan tradisi membangun berdasarkan hukum adat istiadat yang sangat kental.

Bahkan Adat istiadat sangat berperan penting dalam proses pembangunan sehingga menghasilkan suatu bentuk bangunan yang berkarakter dan mempunyai filosofi tersendiri.

Membangun rumah adat di Desa Reka sejatinya harus melalui seremonial yang ketat dan dilakukan sesuai dengan tahapan pelaksanaannya.

Pengadaan bahan dan ramuan rumah adat diawali dengan Tai Ndolu, yaitu membuat tali sipat dari kapas adat untuk tukang kayu tradisional yang dibasahi dengan darah binatang (babi).

Kreasi dan apresiasi atas budaya lokal tidak boleh menurun, akibat pergeseran peradapan dan penyusutan fungsi lembaga tradisional.

Hal ini karena rumah adat sebagai pusat kebudayaan, transformasi sosial budaya yang merupakan tradisi budaya lama yang potensial ,juga mempengaruhi isi jati diri dan pola perilaku.

Untuk itu diperlukan adanya upaya merevitalisasi budaya lokal dengan konsep pemberdayaan dan pemanfaatan sebesar-besarnya sebagai potensi wisata.

Didukung Pemerintah Desa

Kepala desa Reka, Nobertus K.Y Lana kepada media ini mengatakan bersama para Mosalaki (tua adat), pemerintah desa terus bahu membahu untuk menyukseskan pembangunan rumah adat itu

“Saat ini kami lagi proses pembuatan rumah adat baru yaitu Sa’o Nggela. Sa’o Nggela merupakan Sa’o Ine Ame, yang ditempati Oleh Majo sebagai pendukung (Ndu longgo) Mosa Laki,” ujarnya.

Nobertus berharap pembangunan rumah adat itu dapat selesai dilaksanan semua warga sebelum musim hujan tiba sehingga bisa bermanfaat untuk warga desa dan komunitas adat setempat. (Marsel/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *