Mengintip Asal Muasal Upacara Adat Dabba Ana di Sabu Raijua

Prosesi Pencukuran Rambut dalam ritual Dabba Ana, di Kabupaten Sabu Raijua. Foto : Jefrison

Ritual adat Dabba Ana merupakan sebuah prosesi rutin yang ada dalam siklus kehidupan masyarakat Sabu Raijua baik yang beragama suku atau yang masih beraliran Kepercayaan Jingitiu. Ritual ini dalam budaya Sabu Raijua berkenaan dengan proses permandian adat bagi anak-anak yang baru lahir. Biasanya digelar pada bulan adat Warru Dabba sesuai dengan kelender adat masyarakat Sabu Raijua.

Karena sudah menjadi tradisi lokal masyarakat Sabu Raijua, ritual ini terus dilestarikan, ada dan hidup dalam peradaban budaya masyarakat setempat. Seperti apa Daba Ana, sejak kapan ada,bagaiaman prosesinya dan apa manfaatnya untuk generasi muda Sabu Raijua? Inilah penjelasannya

Ritual adat Dabba Ana pertama kali dilakukan oleh leluhur orang Sabu Raijua yang bernama Mone Ie dengan permandian adat atau Dabba Ana dari anaknya yang bernama Abba Mone yang dilaksanakan di kawasan upacara adat Dara Rae Mone Ie, Desa Teriwu, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua.

Ritual adat Dabba Ana bertujuan agar anak yang dilahirkan diakui sebagai warga masyarakat Jingitiu dan dimatreikan sebagai milik Tuhan Allah  atau dalam Bahasa Sabu disebut Deo Ama.

Proses Dabba Ana diawali dengan kegiatan  Puru Loko atau pengambilan air oleh Ibu kandung dari anak yang akan dipermandikan di Dabba tersebut. Ibu harus berpakian adat lengkap atau Nau Hawu serta memakai haik dalam bahasa sabu disebut Haba Tenae sebagai wadah penampungan air tersebut.

Air tersebut ditempatkan di sebuah wadah yang luas yang terbuat dari Seludang Pinang atau Keruba Wanyi. Langkah berikutnya yakni bayi yang akan dipermandikan atau di Dabba dimasukan ke wadah yang berisi air tersebut dalam pasisi berdiri. Proses permandian ini akan dilaksanakan di dalam rumah adat tepatnya di tiang induk rumah tersebut atau dalam bahasa Sabu Raijua disebut Tarru Duru.

Adapun ketika anak tersebut sudah berada dalam posisi berdiri di dalam wadah yang berisi air tadi (Keruba Wanyi) maka ibu kandung dari anak tersebut mengambil air dan meneteskan diatas kepala anaknya sebanyak 3 (tiga) kali. Proses ini diikuti dengan doa kepada Allah Bapa  dengan permohonan agar anak tersebut mendapat kekuatan, keberuntungan, umur penjang, kesehatan dan kesuburran untuk beranak cucu memenuhi bumi.

Setelah doa dan kegiatan percikan air tersebut upacara kemudia dilanjutkan dengan kegiatan makan siri pinang  bersama seluruh keluarga yang hadir di tempat tersebut. Pada tahapan ini ludah siri pinang di cap pada bagian testa anak tersebut sebanyak 3 ( tiga) kali.

Usai itu anak tersebut boleh digendong oleh ibu kandungnya ke luar dalam keadaan telanjang, sedangkan ibu dan ayah nya harus berpakian adat.

Selanjutnya anak tersebut dibawa ke luar rumah dan di depan rumah diangkat sebanyak 3 (tiga) kali dengan wajahnya harus menghadap ke arah bagian barat. Pada tahapan ini akan dibacakan doa kepada Tuhan yang Maha Esa agar anak tersebut  dijauhi dari segala marabahaya, malapetaka, sakit penyaki dan roh-roh jahat.

Setelah tahapn tersebut dilakukan, maka anak yang baru usai di Dabba itu dibawa kembali ke dalam rumah untuk diberikan pakian untuk dipakai.

Adapun tahapan terakhir dari proses Daba Ana pada hari itu adalah seluruh masyarakat yang datang  ke rumah itu harus dijamu makan siri pinang bersama dan pada saat yang itu mereka bisa melakukan kegiatan sabung ayam di depan rumah.

Perlu diketahui bahwa sabang ayam tersebut tidak menggunakan pisau serta tidak boleh ada taruhan atau unsur judi di dalamnya. Maksud dari kegiatan sabung ayam itu adalah seluruh masyarakat yang datang ke rumah orang  yang melakukan Dabba Ana merasa turut berbahagia bersama-sama tuan Rumah.

Kebutuhan Sirih Pinag dan Tembakau yang wajib disiapkan dalam situal itu. Foto : Fernando

Ritual Nga’a Manu Ana

Setelah dua bulan kemudian menurut perhitungan kelender adat Sabu maka akan masuk pada Warru Bangaliwu dan tepat pada satu hari sebelum bulan purnama atau dalam bahasa Sabu disebut Lodo Panu Pe, maka dilakukan kegiatan lanjutan dari ritual Dabba Ana yang telah dilaksanakan di Warru Dabba yaitu Ritual Nga’a Manu Ana

Pada momentum ini, orang tua atau keluarga dari anak yang telah di Dabba dari 2 bulan sebelumnya akan membunuh ayam dan akan diundang beberapa keluarga untuk makan bersama pada hari tersebut.

Pada Bulan Purnama di Warru Bangaliwu, orang Sabu Raijua akan melakukan kegiatan Peiu Manu Bangaliwu pada siang hari,  pedoa Buihi pada malam hari dan satu hari setelah itu baru dilanjutkan dengan ritual adat Buihi dengan rangkaian kegiatan Pehere Jara Buihi atau pacuan kuda. Mulai saat itulah Anak yang telah di Dabba akan menjalani kegiatan cukur rambut yang menandakan bahwa proses Dabba Ana telah Berakhir.

Dalam proses cukur rambut, Rambut  anak tersebut tidak di cukur semuanya akan tetapi akan dibiarkan segumpulan rambut pada dua bagian kepala yaitu pada bagian kepala di atas testa anak tersebut atau dalam bahasa Sabu disebut Runabaga dan  pada bagian tengah atau ubun-ubun yang disebut dengan Rukatu Ae.

Setelah rambut dicukur, maka rambut tersebut tidak boleh dibuang , akan tetapi dimasukan kedalam ketupat atau Kedu”e yang telah dianyam dari hari-hari berikutnya dan akan disimpan dengan baik di dalam sebuah tempat yang terbuat dari anyaman daun lontar yang disebut dengan Kepepe.

Proses cukur rambut tersebut memiliki makna bahwa anak tersebut telah diterima sebagai warga masyarakat Jingitiu dan telah dimatreikan sebagai milik kepunyaan Deo Ama atau Tuhan Allah menurut kepercayaan orang Jingitiu.

Perlu diketahui oleh kita semua bahwa, dalam budaya orang Sabu Raijua kususnya bagi Masyarakat yang masih menganut aliran kepercayaan Jingitiu, apabila anak yang dilahirkan  meninggal dunia sebelum menjalani Ritual Dabba Ana maka anak tersebut disebut anak Domehari sehingga dalam proses kematian tidak ada ritual adat Pemou Domade atau dalam tradisi orang kristen sama hal dengan ibadat pengucapan Syukur. (Penulis : Jefrison Hariyanto Fernando, S.I.P/ Sumber : FB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *