Tattoo, Komunitas Equality SindicArt Hingga Deklarasi Sekolah Tinggi Anak Jalanan

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Dra. Lodia S.T.Fina bersama Panitia disela-sela Acara Deklarasi. Foto : Majalah Fortuna

Tattoo atau raja tubuh merupakan seni dan budaya yang telah dilakukan turun-temurun. Tattoo dilakukan sejak 3000 tahun Sebelum Masehi (SM) yang merupakan sebuah symbol, kebanggaan, keberanian, kecantikan, status sosal, kedewasaan dan harga diri bagi pemiliknya.

Tattoo berasal dari bahasa Tahiti “tattau” yang berarti menandai, tattoo pertama kalinya ditemui pada mumi yang terdapat di Mesir dan konon menyebar ke suku-suku di Dunia termasuk di Indonesia dan NTT khususnya.

Penggagas Komunitas Equality SindicArt NTT, Eltyasar Putrajati Noman. Foto : Majalah Fortuna

Adapun Tattoo tradisional di Pulau Timor Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan wujud sakral yang mewakili pikiran, pengalaman dan perasaan pembuatnya yang ingin disampaikan pada pihak lain dan diekspresikan dengan gambar pada tubuh. Pesan yang disampaikan oleh masyarakat tattoo tradisional berhubungan dengan aspek sosial, emosional, religius dan ditempatkan pada bagian tubuh dengan motif tertentu.

Eltyasar Putrajati Noman mengatakan bahwa Tattoo adalah budaya, tattoo merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia, budaya di seluruh dunia dan di setiap suku bangsa.

Karena merupakan budaya leluhur maka kata Putrajati,  Tatooo tidak boleh dihancurkan. Dari segi filosofisnya, hanya orang dewasa yang punya syarat dan makna tentang status social, emosional, spiritual dan lain sebagainya. Pada dasarnya tato itu sacral dan punya esensi spiritual yang sangat mendalam.

Perbedaannya di Indonesia adalah cara melakukan Tattoo dan cara pandang orang tentang sosok-sosok bertato. Orang-orang bertato acapkali dipandang miring, negatif dan bahkan sebagai sumber masalah atau kriminal.

Semua orang hanya melihat dari prespektif kriminalitas, kejahatan dan premanisme. Padahal kenyataannya tidak. Tattoo merupakan budaya yang tentunya tidak boleh kita hancurkan. Dari segi filosofisnya, hanya orang dewasa yang punya syarat dan makna tentang status social, emosional, spiritual dan lain sebagainya. Pada dasarnya tato itu sacral. Punya esensi spiritual yang sangat mendalam.” ujar dia.

Deklarasi “Tattoo untuk Kemanusian”

Atas keprihatian dan diskriminasi pemikiran tersebut maka Komunitas Equality SindicArt menggelar Deklarasi “Tattoo untuk Kemanusian” di Kupang, 13 Maret 2020 di pelataran rumah Jabatan Guberrnur NTT

Adapun Komunitas Equality SindicArt diprakrasai oleh Elroy Atmajati Noman (roy timor ink), Arif Nurcahyono (Rip TRF), dan Ivan tanesab (incar metal) itu memandang gelaran event itu adalah sebuah hal yang positif dan wajib dipandang sebagai eventnya orang muda yang kreatif dan syarat pesan sosial.

Itulah sebabnya Komunitas Equality SindicArt menggandeng beberapa komunitas lainnya seperti Komunitas Tattoo, Vespa, Slank, Punk dan Metal Kupang dengan mengusung tema “Tattoo Bukan Kriminal, Tattoo adalah Budaya.”

Ketua Panitia Pelaksana, Eltyasar Putrajati Noman menyampaikan maksud dan tujuan dari aksi dimaksud yakni Pertama, merubah pola pikir masyarakat umum terhadap masyarakat bertattoo bukan kriminal melainkan ekspresi seni dan budaya.

Kedua, terwujudnya kesetaraan sesama “keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia”, sehingga adanya kesempatan yang sama bagi anak negeri untuk bebas berkarya membangun NTT dan negeri tercinta Indonesia.

Yang Ketiga, memberikan wadah bagi masyarakat terhadap seni dan budaya tattoo. Keempat, meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya tattoo.

Kelima, memberikan motivasi seniman tattoo (artist tattoo). Keenam, mengumpulkan hasil kegiatan tattoo sebagai sumbangan kemanusiaan bagi yang membutuhkan. Dan terakhir adalah, meningkatkan kemampuan berkarya.

Terkait upaya untuk menghilangkan stigma diskriminatif masyarakat terhadap tattoo, Putra menjelaskan bahwa, hal itu bersifat propaganda. Selain dari informasi, kemudian tattoo itu sendiri dianggap sebagai pereman atau pelaku kriminalis. Namun kenyataannya adalah  tidak. Ada banyak preman justru tidak bertato atau tidak bertelinga lubang. Justru banyak yang pake dasi tetapi melakukan  korupsi. Ini yang namanya kejahatan, “ungkapnya.

Komunitas Bertattoo, jelas Putra, sering melakukan aksi seperti melakukan pendistribusian sembako di pos lampu merah jalan El Tari, kemudian ada di rumah komunitas pemulung dan lain sebagainya.

”Ini adalah upaya kita untuk membuat orang supaya bisa berpikir bahwa tattoo ini sebetulnya tidak criminal, bahkan pihaknya lagi berjuang untuk mendirikan Program Sekolah Non Formal Gratis “Sekolah Tinggi Anak jalanan” ,” tegasnya.

Putra menjelaskan bahwa sekolah dimaksud akan mengajarkan bagaimana caranya untuk bisa bertahan hidup. Orang-orang yang tidak punya keterampilan akan diajarkan seperti membuka usaha sablon, musik, kerajinan tangan dan lain sebagainya.

Melalui Sekolah Tinggi Anak Jalanan ini mereka sudah punya skill untuk bisa pulang ke daerah masing-masing dan kemampuan yang ada itu mereka bisa berkarya atau membuka usaha yang diharapkan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, sesama, bangsa dan negara.

Foto : Majalah Fortuna

Harapan Kepada Pemerintah

Kepada Pemerintah Provinsi NTT, Putra menyampaikan terimakasih atas dukungan fasilitas untuk even ini berupa penyediaan ruangan talk show dan di halaman samping rujab gubernur bisa digunakan untuk aksi kesetaraan, deklarasi masyarakat bertattoo bukan criminal dan launching sekolah tinggi anak jalanan.

Komunitas Equality SindicArt yang mengusung tema satu dan setara itu juga menggelar Talk Show dan Seminar Tattoo, Konser Kesetaraan, Deklarasi Masyarakat Bertattoo Bukan Criminal dan Launching Sekolah Tinggi Anak Jalanan.

Pantauan www.fortunaexplore.com, aksi tersebut diawali dengan penggalangan dana. Untuk diketahui, dana yang hasilkan oleh komunitas Equality SindicArt tersebut akan disumbangkan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan seperti anak-anak di panti asuhan, para pemulung di TPA dan janda-janda miskin.

Launching itu dilakukan secara simbolis dengan Pemukulan Miniature Tembok Satu dari Belakang dan Satu Kedepan oleh Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Dra. Lodia S.T. Fina dengan palu hakim yang sudah disiapkan oleh panitia.

Kemudian untuk menjaga khazanah budaya Indonesia, dimana Tattoo merupakan salah satu warisan budaya dan jati diri bangsa Indonesia yang harus dihargai, dijaga dan ditunjukan bahwa masyarakat bertattoo bukan criminal, hal ini pemukulan oleh Ketua Indonesia Profesional Tatto- Indonesia Subculture Tattoo & Pierching, Duff selanjutnya perwakilan dari Asosiasi tattoo NTT dan dari Equality SindicArt.

Karo Wondeng  Seorang Warga Kota Dili Timor Leste di sela-sela berlangsungnya Aksi Deklarasi Masyarakat Bertattoo Bukan Criminal itu berpendapat bahwa tattoo itu sendiri merupakan sebuah seni yang sangat indah.

”Banyak orang bilang kalau saya nakal, tetapi saya tidak pusing dengan mereka, saya menikmati hidup saya, saya cinta tattoo,” ungkap pria 23 tahun yang mengaku baru 3 kali datang di Indonesia khususnya Kota Kupang itu.

Hadir pada acara itu, pejabat Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Dra. Lodia S.T.Fina, Pejabat dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dr. Herjuni Oematan, Sp.KK, Ketua Indonesia Profesional Tatto- Indonesia Subculture Tattoo & Pierching, Duff, para mahasiswa, perhimpunan oraganisasi, komunitas tattoo NTT serta tamu undangan lainnya. (Wilfrid/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *