Festival Lembah Colol: Panggung Promosi Kuliner Lokal Manggarai Timur

Anton Cangkung. Foto : Istimewa

Oleh : Anton Cangkung (ASN Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Timur)

Setiap daerah di Indonesia mempunyai jenis makanan khas yang berbeda dari daerah lain. Perbedaan itu mencakup nama, bahan baku yang digunakan, cara mengelola, tekstur atau bentuk dan citarasa. Nah, perbedaan citarasa, bentuk dan bahan baku yang digunakan tentu saja erat kaitanya dengan perbedaan budaya atau filosofi dibalik setiap makanan tersebut.

Seiring perubahan gaya hidup dan revolusi teknologi juga berpengaruh terhadap perubahan tekstur dan tampilan makanan. Kuliner yang tadinya mementingkan cita rasa, kini di era digital bisa saja berubah dari sisi rupa. Hal ini karena soal tampilan (perfomance) yang menarik juga menjadi hal yang penting.

Hal ini dikarenakan, generasi milenial kini cenderung memvisualisasikan makanan yang tersaji dalam bentuk foto maupun video sebelum makanan tersebut disantap. Dalam benak mereka, makanan yang akan disantap akan terasa nikmat apabila mendapat perhatian berupa likes atau comment yang mendukung, dan menjadi hits atau viral didunia maya.

Walaupun tidak ada kaitan antara bertambahnya citarasa dengan gambaran visual dari makanan yang disajikan, namun kini mengunggah varian makanan di medsos rupanya menjadi budaya baru di industri kuliner.

Selain sosial media, populernya satu jenis makanan juga disebabkan semakin maraknya festival kuliner. Ajang ini dinilai sebagai ruang bagi berbagai jenis kuliner untuk tampil dan diperkenalkan kepada publik. Festival Agrowisata Kopi Colol atau yang kini diberi nama keren “Festival Lembah Colol”, merupakan ajang untuk mempromosikan kopi colol sebagai kopi terbaik Indonesia.

Seorang Gadis Manggarai memanen Kopi Colol dari Kebunnya. Foto : Istimewa

Festival ini membuka ruang bagi panganan untuk manggung dan diperkenalkan kepada publik. Inilah saatnya, makanan lokal yang menjadi budaya dan warisan kuliner leluhur untuk tampil dan diperkenalkan kepada dunia.

Colol merupakan daerah berhawa dingin karena berada di dataran tinggi dengan potensi sumber makanan, buah dan sayuran yang melimpah. Selain kopi sebagai primadona, Colol merupakan daerah penghasil ubi-ubian seperti singkong dan keladi dengan berbagai varietas. Meskipun nasi tetap menjadi menu harian warga setempat, tetapi panganan lokal masih tetap hadir dikeseharian mereka saat berada di rumah maupun beraktivitas di kebun.

Colol juga terkenal dengan sayuran dan buah-buahan. Sayuran labu siam merambat di pepohonan kopi dan dengan mudah dijumpai bahkan disekeliling rumah. Petak sawah di Colol juga menjadi tempat pembiakan ikan air tawar jenis Manila Super dan Karper. Singkatnya untuk urusan gastronomi, Colol tidaklah tertinggal dari daerah lain yang surplus pangan seperti Pota di kecamatan Sambi Rampas, dataran Gising di Kecamatan Elar selatan atau Wae Reca-Rana Loba di kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Pangan Lokal Khas Kabupaten Manggarai Timur. Foto : Istimewa

Namun, banyak tanya yang menggelitik dan nampak bikin gemes yaitu mengapa potensi pangan lokal di Colol tidak pernah tampil dipermukaan? Mengapa tidak dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan ekonomi setempat? Mengapa tidak pernah terlihat adanya kripik ubi atau kripik keladi dari Colol sementara potensinya begitu besar? Mengapa disepanjang jalan dari simpang Colol- Benteng Jawa hingga Ngkiong Dora di ujung Timur Colol hanya ada barisan grobak bakso saja yang terlihat? Dimana warung milik warga Colol dengan menu ikan air tawar? Kemana warga Colol dengan segala potensi sumber daya yang dimiliki?

Menikmati Gurihnya Kopi Colol. Foto : Istimewa

Saya hanya bisa membayangkan view seindah Surga dari ujung Timur kampung Tangkul yang melihat ke lembah Colol (kampung Welu, Biting, dan Colol) suatu saat berjejer warung milik warga setempat dengan menu berkonten lokal atau mungkin Trade Mark Cafe ala Colol akan bergairah setelah festival Lembah Colol atau kedepannya. Sebelum itu terwujud, mari kita menikmati secangkir kopi Juria Colol yang rasa dan aromanya merasuki hatiMu. (tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *