Akhir Maret Pemkab Sabu Raijua Gelar Pentas Budaya Berhadiah Rp 37,5 Juta di Pulau Raijua

Anak-anak Muda Sabu Raijua tampil elegan dengan aneka tarian khas Sabu Raijua. Foto : Istimewa

Pemerintah kabupaten Sabu Raijua, Propinsi Nusa Tenggara Timur gencar membangun sektor pariwisata dan kebudayaan di daerah tersebut. Setelah sukses menyelenggarakan Festival Jelajah Kelabba Madja secara akbar ditahun 2019, Pemkab Sabu Raijua kini menggelar lagi Pentas Budaya pada akhir Maret 2020

Kalau beberapa event budaya akbar tahun-tahun sebelumnya dihelat di daratan Pulau Sabu, kali ini Pentas Budaya akan dilaksanakan di pulau Raijua. Event ini melibatkan masyarakat seluruh desa dan kelurahan se-kecamatan Raijua memperebutkan total hadiah Rp 37,5juta rupiah

“Dana tersebut disiapkan pemerintah sebagai stimulan bagi masyarakat untuk terus mencintai dan melestarikan seni budaya daerah peninggalan nenek moyang Sabu Raijua,” ungkap Bupati Sabu Raijua, Nikodemus Rihi Heke kepada fortuna, dalam layanan Whatssap, Sabtu (15/2).

Salah satu tahapan Prosesi Upacara Adat Dabba- Raijua, Foto : Isitimewa

Menurut Nikodemus, pemerintah daerah Sabu Raijua dalam beberapa tahun terakhir belakangan fokus menata, mengelola dan membenahi semua destinasi wisata serta mempromosikan pesona wisata Sabu Raijua dalam melalui berbagai metoda.

Penataan objek wisata alam, pantai, sejarah, kampung adat dan sebagainya itu adalah bagian dari cara Pemerintah mengajak masyarakat untuk menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan sekaligus pemicu yang wajib dilirik sebagai sumber peningkatakan ekonomi baru bagi masyarakyat.

Pemerintah juga kata dia berupaya keras untuk melestarikan aset seni budaya daerah, ritual, seni musik daerah, dan tutur adat dan literasi budaya yang melibatkan para pihak termasuk pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.

Pagelaran Pentas Seni Budaya Daerah kabupaten Sabu Raijua pada akhir Maret 2020 nanti yang bertepatan dengan Upacara Dabba di pulau Raijua katanya adalah sebuah event yang syarat makna pelestarian dan promosi daerah terisitimewa di pulau Raijua.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sabu Raijua, Wellem L.Rohi melalui Kabid Destinasi Petrus Tapobali kepada Fortuna, Sabtu (15/2) mengatakan ada beberapa jenis mata lomba yang direncanakan dalam Pentas Budaya Daerah Sabu Raijua di Raijua tahun ini yakni  Tarian Ledo, Musik Tradisional, Paduan Suara, Mars Pariwisata, Atraksi dan Lomba Ledo Jara (kuda menari) dan Lomba Penuturan Sejarah Destinasi Wisata Sabu Raijua,”

Dalam satu thema besar “Budayaku, kebangganku” warga Sabu Raijua ingin diajak untuk terus melestarikan budaya dan menjadikan budaya sebagai kebanggaan segenap generasi Sabu Raijua masa kini dan yang akan datang.

Terhadap semua mata acara yang diperlombakan, Panitia dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sabu Raijua menyiapkan anggaran Rp 37.500.000 untuk 5 penampil terbaik dari setiap segmen,” ungkap Piet

Soal waktu pelaksanaan rencananya pada Minggu ke-4 Bulan Maret atau awal April 2020 karena pihaknya masih menanti waktu yang pas mengingat cuaca terutama ombak yang bersahabat karena akan dipadukan dengan pelaksanaan upacara adat Dabba.

“Sesuai kelender adat sudah bisa dipastikan bahwa upacara Dabba akan terjadi pada akhir Maret 2020.  Event pentas seni budaya ini kita akan padukan sehingga bisa menyedot juga wisatawan domestik dan mancanegara yang bisa hadir dan menyaksikan kalau cuaca laut membaik,” ungkapnya.

Sabung Ayam, menjadi Tahapan penting dalam Ritual Dabba Raijua. Foto : Istimewa

Apa Itu Dabba ?

Masyarakat Pulau Raijua, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, biasanya merayakan pesta adat Dabba Ae pada setiap awal bulan April. Upacara Adat Dabba Ae Raijua memiliki makna sejarah bagi orang Raijua sebagai ritual perdamaian.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat,  di zaman dahulu di pulau Raijua sering terjadi perang atau pertikaian hingga jatuhnya korban jiwa. Untuk menghentikan pertikaian, seluruh Mone Ama (tua adat) bersepakat untuk melakukan musyawarah mufakat mecari solusi perdamaian. Disepakatilah, perang manusia tersebut digantikan dengan sabung ayam adat atau Dabba Ae atau Piu Manu.

Ritual ini muncul ketika orang Raijua memahami bahwa kita tidak boleh berperang dan akhirnya diganti dengan sabung ayam. Upacara itu merupakan acara adat sakral yang dilakukan setiap tahun sekali di wilayah adat Raijua berdasarkan kelender adat yang jatuh pada Warru Dabba atau dalam kelender masehi sekitar bulan April.

Biasanya ritual sabung ayam adat itu diikuti puluhan kelompok adat atau Ada Manu yang pembentukannya dari kelompok Udu dan Kerogo yang ada di Pulau Raijua. Ritual ini diawali dengan pemukulan gong dan tambur oleh kelompk adat Ada Manu dan dilanjutkan dengan tahapan ritual peharo atau pelepasan ayam pertama. (tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *