Musik Kampung, Suguhan Khas dan Daya Pikat Wisata Maumere

Penampilan Group Musik Kampung dari Watublapi Kecamatan Hewokloang dalam Festival Musik Kampung tahun 2019 di Maumere, Foto : Fortuna

Nyaring terdengar bunyi okulele (juk). Disana ada terenbas, ada gambus, ada giring-giring, suling, gitar, fluit dan beberapa perangkat lain. Ada lagi yang disebut benyol, batang bambu cincang yang disisipkan untuk menaikan hentakan dan juga gendang. Itulah beberapa jenis alat musik yang siap dipadu-padankan untuk menjadi alunan musik merdu dan keren yang diberi sebutan “Musik Kampung”

Bahan baku pembuatan bodi alat musiknya berasal dari pepohonan di kampung. Penyanyinya juga orang- orang dari kampung. Jumlah mereka lebih dari satu orang. Laki – laki atau perempuan ya sama saja. Tidak jarang juga aroma musik itu terasa komplit bila dipadukan dengan alat musik khas Maumere lainnya gong waning (gong gendang).

Ketika perangkat musik kampung sudah ada, orang-orangnya sudah siap maka boleh dikatakan personil musik kampung itu siap tampil atau beraksi diatas pentas. Hentakannya membahana, menghanyutkan. Menggetarkan jiwa. Indah dalam satu balutan arrangement musik “berasa” kampung.

Lagu-lagu yang dinyanyikan juga didominasi dari kampung. Lagu lama dan tentunya syairnya dari kampung-kampung yang diramu nan apik. Tak pelak musik kampung sangat menghibur dan lebih semarak dalam pesta-pesta ataupun acara- acara keluarga saat ini di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Tidak hanya dalam kampung, trend alunannya yang khas, bergairah dan heboh dengan Kahe (yel-yel khas Maumere) menjadi magnet juga bagi penikmat musik kontemporer. Banyak tetamu atau wisatawan yang mendatangi Maumere bahkan akan lebih terpesona dan terhipnotis dengan penampilan musikus-musikus kampung yang saat ini tumbuh subur di seantero Maumere.

Ada kaum Wanita yang tampil melengkapi vokal dalam group musik ini. Foto : Fortuna

Beberapa kesempatan event nasional dan acara-acara pemerintah kerap mengundang group-group musik kampung itu untuk tampil mengisi sesi acara. Unik dan audiense dipastikan terpesona. Ujungnya ya mereka mengorder lagu untuk dinyanyikan ulang secara bersama-sama. Tidak jarang juga para tamu terlibat menari bersama dengan dendangan lagu khas kampung itu.

Herannya meski dari kampung beberapa group musik kampung melibatkan anak-anak usia sekolah. Group musik ini bahkan sudah bisa berkolaborasi dengan alat musik moderen dan mampu menyanyikan lagu-lagu pop atapun reggae bahkan beberapa lagu bergenre asing yang kini populer, hebat bukan?

Beberapa group musik kampung kateogri anak sekolah seperti dari SDK Aiwuat Desa Wolomotong Kecamatan Doreng misalnya bahkan pernah menjuarai lomba tingkat kabupaten dan beberapa kali diundang ke Kupang Ibukota Propinsi NTT. Mereka tampil luar biasa dan sangat mengibur.

Sementara group musik kampung profesional “Sikka Satu”  yang dikomandani Bung Emil Abong,dkk misalnya sudah beberapa kali tembus dipentas musik nasional dan sering diundang mengisi acara dalam hajatan penting kenegaraan juga pernah diundang Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri tampil dalam beberapa acara pribadi dikediamannya.

Anak- Anak Usia sekolah tampil memukau diatas pentas. Foto : Fortuna

Masih banyak group musik kampung dari Tana Ai, Sikka, Lela, Lio, Nita, Hewokloang, Doreng, Bola dan Kampung-Kampung lain yang bermunculan dan menghiasi blantika musik daerah Maumere. Di Kupang juga group musik khas Maumere ini sudah ada, namanya Muher,dikomandani Wempi dan anak-anak Muda Mahasiswa asal Maumere.

Muher sering tampil dalam berbagai hajatan orang Maumere di Kupang  misalnya dalam gebyar Festival Budaya dan Hegong Massal  yang digelar Kerukunan Keluarga Besar Maumere (KKBM) Kupang menghadirkan Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Bupati Sikka Robby Idong, Ketua Dekranasda Sikka Ny.Cahyani Idong, Wakil Ketua Dekranasda Sikka Ny.Romanus Woga, para pejabat serta ribuan orang Maumere di Kupang. Muher juga pernah tampil memukau dalam Festival Sarung Nusantara yang digelar Dekranasda NTT menghadirkan puluhan ribu orang di Jalan El Tari Kupang.

Lantas apa tanggapan pemerintah?

Festival Musik Kampung acapkali diselenggarakan di Maumere. Terakhir adalah Festival Musik Kampung yang dihelat bersama Alumni SMP Frater Angkatan Tahun 1988 (SMATER 88) dan Pemkab Sikka di Alun-Alun Rumah Jabatan Bupati Sikka, Jumad (23/12/2019).

Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, Sentus Botha selaku penyelenggara event saat itu mengatakan ada kurang lebih 30-an group musik kampung dari berbagai daerah di Kabupaten Sikka yang mendaftar dan berkompetisi. Mereka antisias dan tampil luar biasa mengikuti tahapan audisi. Finalnya kurang lebih 17 group yang tampil dalam beberapa kategori dan 31 orang peserta solo vokal. Meriah skali dan Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo Idong hadir langsung membuka acara akbar itu.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo Idong tampil membuka Festival tersebut di Alun-Alun Rumah Jabatan, Jumad (23/12/2019). Foto : Fortuna

Dalam sambutanya Bupati Robby Idong (sapaan akrabnya) mengatakan musik kampung itu unik, berakar dari masyarakat dan sangat menghibur. Karenanya dia meminta agar musik kampung wajib dilestarikan.

“Yang uniknya dari musik kampung yaitu dibangun betul-betul berakar dari masyarakat. Kategori asli, alur musiknya dibuat sendiri, peralatannya sederhana. Banyak tamu yang kita hidangkan musik kampung mereka lihat ini sesuatu keunikan besar. Ini yang perlu dilestarikan dan jadi kreativitas baru yang menghibur serta ekonomis bila dikelola secara profesional,” ujar Bupati Robby.

Dia mengapresiasi Komunitas Smater 88 yang berinisiatif menggali, melestarikan tetapi juga mengembangkan musik kampung yang kini jadi aset seni budaya kabupaten Sikka itu.

Hal ini katanya karena melalui musik kampung, imajenius seseorang tumbuh secara alamiah. Dibeberapa tempat sudah dimulai dengan kreativitas, ditambah dengan alat baru semmisal drum, sudah lebih maju tetapi dasarnya tetap ada yakni peralatan musik kampung.

Dia berharap kedepan musik kampung tersebut kian berkolaborasi dengan musik-musik tradisional lainnya. Apalagi akhir-akhir ini musik kampung dan solo vokal sangat tinggi.

Adapun Festival Seni Musik Kampung dan Solo Vokal di Maumere itu memperebutkan piala Bupati Sikka dengan hadiah total kurang lebih Rp25.000.000.

Ketua Panitia mengatakan F.Lameng saat itu mengatakan musik kampung merupakan seni musik tradisional yang harus diakui bahwa saat ini semakin digandrungi oleh generasi milenial di Kabupaten Sikka.

Makin banyak dan berkembang grup-grup musik kampung di Maumere. Sebagai alumni SMATER 88, kami berkewajiban melestarikan dan mengembangkan seni musik tradisional termasuk menggelar event ini,” ujarnya

Adapun komunitas SMATER 88 adalah komunitas Alumni SMP Frater Maumere angkatan 1988. Saat ini anggotanya tersebar hampir di seluruh Indonesia, ada di Papua, Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan banyak di Maumere NTT. Salah satu alumniya adalah Mo’at Robby Idong Bupati Sikka saat ini,” kata dia. (tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *