Jadi Wajah Indonesia di Batas, Pantai Tanjung Bastian Didandani

Wajah Baru Pantai Tanjung Bastian, TTU usai direnovasi tahun 2019. Foto : Istimewa

Berada di perbatasan Indonesia dan negara Timor Leste, kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mesti menjadi beranda terdepan NRKI yang harus strategis, elok, nyaman dan berdaya saing.

Kompetisi dan akselerasi pembangunan yang sehat dibatas meski mencakup kesiapan infrastruktur dasar, Sumber Daya Manusia dan tentunya akses yang memadai ke destinasi- destinasi wisata terdekat.

Kawasan Wini dan Tanjung Bastian menjadi misalnya dua spot wisata unggulan di perbatasan kabupaten TTU (Indonesia) dan Oekusi (Timor Leste) yang tidak bisa dipandang reme.

Dua spot wisata ini juga harus jadi magnet dan menampilkan kesan pertama “wajah Indonesia” yang maju, sejahtera dan berdaya saing dari sisi pariwisata di mata internasional.

Untuk alasan itulah maka pemerintah pusat dan pemkab TTU terus menata kedua kawasan dalam beberapa tahun terakhir dengan dana super jumbo.

Wini kini menjadi destinasi unggulan yang memadukan daya tarik pintu masuk negara (POS Lintas Batas Negara), alam lepas pantai, pelabuhan laut yang memadai dan panorama “gunung Batu”  yang eksotis.

Pemandangan yang sama terlihat di Tanjung Bastian. Kawasan ini tengah didandani tidak hanya menjadi arena pacuan kuda tetapi jagi kawasan multi fungsi yang siap memanjakan pengunjung wisatawan karena pasir putihnya yang landai dan eksotis, bentangan panorama bukit batu yang indah serta jadi spot terbaik untuk menikmati senja yang dari balik lopo-lopo (gazebo) yang dibangun pemerintah.

Robertus Nahas, Kepala Dinas Pariwisata TTU. Foto : Fortuna

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten TTU Robertus Nahas mengatakan pemerintah kabupaten TTU  mengalokasikan anggaran  senilai Rp 1,4 miliar lebih di tahun 2019 untuk menata kawasan tersebut

Dana tersebut dugunakan untuk membangun jalan setapak, Gazebo, ruang ganti, lampu tenaga surya, pagar pembatas, menara pandang, gapura, jagging track (jalur pejalan kaki) unit tugu pintu masuk dan membongkar baberapa unit gazebo lama untuk direnovasi kembali.

“Kita fokus benahi Tanjung Bastian. Tahun 2019 kita alokasikan anggaran sebesar Rp1.053.545.250 untuk membangun ruang ganti 3 unit, Gazebo 3 tetapi dibuat 7 unit, lampu tenaga surya ada 10, pagar pembatas 200 meter, menara pandang 1, Gapura 1, breakwater 150 meter, jalur pejalan kaki 1000 Meter,”  ujar Robertus kepada Fortuna belum lama ini di ruang kerjanya.

Tidak hanya didarat, pemerintah juga mengalokasikan dana senilai Rp 300 juta untuk membangun jematan tambatan perahu (jetty) serta membongkar beberapa bangunan lopo lama untuk dirapikan.

Memang ada dana pembangunan Jetty senilai Rp 300.000 yang batal dilaksanakan karena gagal diproses tender. Jadi total biaya penunjang untuk perencanaan dan pengawasan kawasan Tanjung Bastian tahun 2019 senilai Rp.1.422.045.000, “ ujar sosok low profile yang belum lama memimpin Dinas pariwisata TTU itu.

Untuk pengembangan kawasan Tanjung  Bastian, pihaknya lagi merencanakan pembangunan sebuah sumur bor yang bisa mensuplai air baku bagi pengunjung, mengisi kolam pemandian yang ada juga untuk memenuhi kebutuhan MCK bagi wisatawan yang berdatangan ketempat itu.

Eksotika Pantai Wini. Foto : Fortuna

Tahun 2020 Tanpa Program Fisik

Untuk tahun anggaran 2020, Robertus mengatakan tidak dialokasikan angaran untuk pembangunan fisik.

“Tahun 2020 hanya non fisik seperti pelatihan-pelatihan wisata, peningkatan SDM aparatur dan mitra semisal pelatihan pemandu (guide), pelatihan pembuatan souvernier dan lain-lain, “ urainya.

Sepasang Wisatawan yang mengeksplorasi pesona bawah laut Pantai Batu Putih di Desa Tomnese. Foto : Redem Thall

Dia juga mengungkapkan niatnya untuk mengelola destinasi wisata baru di Desa Tomnese yang ada pasir putih, wisata alamnya, panorama bawah lautnya yang pernah dijelajahi beberapa wisatawan  asing beberapa waktu lalu.

Spot lain yang dilirik yakni daya tarik di Noetesu dengan keunggulan pesona alam pegunungan mutis dan ekowisata. Spot ini cocok untuk para penikmat wisata treking, petualang dan juga pengembangan agrowisata,” (tim/42na).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *