Reba, Bersyukur Ala Orang Ngada di Jogjakarta

Sesepuh Ngada Diaspora di Jogjakarta dan Para Mahasiswa menyembeli seekor babi dalam ritual adat Reba di Kota Jogjakarta belum lama ini. Foto : Gaga Guevara

Jogjakarta sering dijuluki sebagai kota istimewa. Keistimewaan Jogja tidak terlepas dari bagaimana dia mampu mengakomodasi berbagai macam kekayaan seni dan budaya yang berkembang dari senatero nusantara. Upacara Reba adalah satu dari sekian banyak ritus adat orang Ngada- Flores- NTT yang mengisi keistimewaan Jogja terutama dalam pengembangan pariwisata budaya.

Reba Ngada adalah sebuah bentuk ucapan syukur atas keberhasilan selama setahun. Ritus itu sangat sakral dan mengandung nilai filosofis religius yang melekat dengan orang Kabupaten Ngada. Reba juga merupakan momen dimana orang-orang Ngada dimana saja berada kembali bersatu dalam suatu lingkaran kekeluargaan yang utuh dan harmonis serta saling memaafkan.

Alasan inilah yang menginsiprasi komunitas mahasiswa Ngada di Jogjakarta, sesepuh dan segenap warga Ngada di Kota Jogjakarta menginsiasi pegelaran Reba di bilangan Babarsari, Jogjakarta, pekan lalu.

Aloysius Lina Goda (Luis) selaku Koordinator kegiatan kepada FORTUNA saat berlangsungnya Pesta Adat Reba itu mengaku bangga karena event budaya khas Ngada itu sukses digelar 2 tahun berturut-turut di Kota Jogjakarta

Rangkaian pesta adat Reba yang diselenggarakan oleh mahasiswa sesepuh dan senior Ngada berlangsung secara hikmat dan menarik perhatian. Banyak orang datang dan secara langsung mengikuti acara adat tersebut dari awal sampai akhir.

Ketua Panitia Kegiatatan Pesta Adat Reba Jogjakarta Kristoforus Ruma menjelaskan bahwa esensi dari pesta adat Reba ungkapan syukur semua orang Ngada –Flores NTT pada hasil panen dan karya kerja selama ini kepada leluhur dan sang kuasa.

Dalam adat budaya Ngada, melalui ritual ini manusia ingin memberi makan Dewa Seta dan Nitu Jale yakni Tuhan Allah di surga dan para leluhur yang telah meninggal yang berada dimuka bumi ini.

Adapun Pesta adat yang selama 2 tahun terakhir digelar di Jogja tersebut dikoordinir oleh kelompok masyarakat asal daerah Mataloko dan Golewa Kabupaten Ngada

Kristo menceritakan bahwa dibuatnya pesta adat Reba diaspora tersebut sama sekali tidak bermaksud untuk mengurangi rasa hormat orang Ngada Diaspora yang berada di Jogjakarta yang selama ini biasa kembali merayakan dikampung halaman. Pagelaran di Jogja tersebut adalah bagian dari upaya pelestarian yang tetap mengedepankan nilai-nilai historis dan kesakralan Reba bagi orang Ngada dimana saja merantau.

Kristo mengajak orang muda Ngada untuk terus menggemakan pesta adat Reba ini dimana pun tempat orang Ngada diaspora berada. Hal ini sebagai cara melestarian budaya dan memperkenalkan kekayaan budaya orang Ngada serta kearifan lokal pada semua orang, agar lebih banyak tau tentang  pesta adat Reba itu sendiri,” ungkapnya

Dia yakin bahwa Jogjakarta adalah kota yang tepat untuk memperkenalkan budaya ini kepada wisatawan. Dengan menggelar event itu maka banyak orang makin tertarik untuk mengunjungi Ngada  dan menyaksikan rangkaian seremonial pesta adat Reba secara langsung ditanah kelahirannya.

Sejatinya, pelaksanaan pada bulan Desember dan Januari setip tahun. Untuk itu kepada pemerintah daerah kabupaten Ngada, Kristo berharap agar dapat bemritra dengan mahasiswa Ngada di Jogja untuk sama-sama mempromosikan Ngada sebagai sebuah daerah tujuan wisata budaya

Pantau Majalah Fortuna acara diawali dengan seremonial adat  yaitu memotong kepala babi sebagai lambang syukuran kepada leluhur dan pembacaan doa oleh Ria Ura Ngana. Dalam istilah adat Ngada ada dua petugas yang punya posisi penting dalam seremoni ini yakni Ria Ura Ngana  dan Wela Ngana yang ditugaskan untuk membela kepala babi.

Saat itu Ria Ura Ngana dilaksanakan oleh tokoh Ngada di Jogjakarta Marselinus Bhigu (Marsel) dan Wela Ngana dilaksanakan oleh Aloysius Lina Goda ( Luis) yang juga merupakan tokoh sesepuh Ngada Jogjakarta.

Setelah acara adat pemotongan kepala babi, seorang tokoh sesepu mengambil hati babi untuk menganalisa secara adat bentuk dan stuktur dari organ hati babi itu untuk diterjemakan tentang kehidupan dan kesuksesn kedepanya. Rangkaian acara terus berlanjut dengan perayaan Misa Ekaristi yang dipimpin oleh pastor.

Orang Ngada Berserah dan Meminta Restu Pada Tuhan

Pater Konstantinus Lado,OCD  adalah Putra Ngada yang saat itu memimpin perayaan Ekaristi Kudus Pesta Adat Reba bersama pater RD. Yohanis Capistrano Satrini Lobi (Sartje) serta RD Mario Antonius Werang. Dalam sambutannya  Pater Konstantinus mengatakan bahwa Reba sesungguhnya adalah cara umat Ngada datang berserah diri dan mensyukuri atas semua hasil karya yang telah didapatnya.

Melalui pesta adat ini juga, Orang Ngada kembali memohon rejeki yang nanti diberikan oleh yang kuasa dan leluhur kedepannya.

Menurutnya bentuk syukuran dan harapan umat Ngada ditandai dengan dibawanya hasil panen kerumah adat dan selanjutnya benih-benih itu didoakan di rumah adat lalu diberkati oleh pastor.

Orang Ngada sangat meyakini bahwa dengan bersyukur kepada Tuhan dan leluhur maka keselamatan akan ada dan hasil terus berlimpah.

“Orang muda mestinya terus belajar untuk mendalami nilai-nilai yang terkandung dalam adat Reba ini. Banyak sekali poin yang tersirat dari budaya orang Ngada yang diwariskan oleh leluhur secara turun temurun,” tegas Romo yang berasa dari Kampung Turekisa berharap

Sebagaiaman ajaran gereja, Ia menjelaskan bahwa gereja mengenal Reba sebagai acara syukur panen bagi orang Ngada dan disini gereja berperan aktif untuk terus membimbing dan membawanya dalam bentuk acara ekaristi ketika tiba musim pesta adat reba.

Dan sebagai orang muda mahasiwa yang berada di Jogjakarta, Ia berharap untuk terus mengasah diri agar ketika kelak pulang ke kampung halaman sudah bisah mampu menterjemahkan semua bentuk warisan bydaya bernilai tinggi budaya itu dengan baik

Adapun acara pesta adat Reba tidak hanya dihadiri oleh orang Ngada sendiri tetapi dari beberapa kalangan dan lapisan masyarakat. Kehadiran orang orang diluar dari orang  Ngada menunjukan bahhwa semua adat dan budaya adalah sama dimata sesama dan sebagai pemersatu bangsa,”ungkap Magister untuk para frater OCD itu.

Warisan Budaya Pemersatu Bangsa

Apresiasi pesta adat Reba tidak hanya lahir dari kalangan komunitas diaspora NTT di Jogjakarta namun juga dari orang luar yang secara langsung datang untuk menyaksikan dari dekat pesta adat reba tersebut

Ketua Pemuda Pancasila (PP) Kecamatan Depok Bapak Tejo Wibowo yang juga hadir dan memeriahkan acara Reba tersebut. Menurut  Tejo acara budaya dari Ngada yang dibuat di Jogjakarta ini adalah ekspresi budaya yang bagus sebagai sesama orang ngada di perantauan.

Jogjakarta sebagai kota budaya, tentu tidak hanya menjadi milik orang Jogja tetapi jadi kebanggan bersama termasuk sesama saudara dari  Kabupaten Ngada Propinsi NTT. Bahkan Reba Ngada katanya perlu diramu secara lebih baik lagi sebagai ajang promosi pariwisata NTT.

Pemuda Pancasila sebagai ormas yang selalu mengdepankan kekeluargaan dan toleransi sangat mendukung acara acara budaya sejenis sebagai kekayaan nasional dan media pemersatu bangsa,” ujarnya

Dia meyakini jikalau acara tersebut digelar rutin maka akan menarik banyak wisatawan yang pastinya berkunjung ke Ngada dan secara tidak langsung membuat pemerataan kesejateraan bersama.(Tanto Sallo Guevara /42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *