Pemkab Bangun Talut Penahan Atasi Abrasi Pantai Walakiri di Sumba Timur

Pantai Walakiri. Foto : Yudi Rawambaku

Pantai Walakiri (nama aslinya Walakeri) berada di Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Tak jauh. Jaraknya hanya sekitar 20 kilometer dari kota Waingapu Ibukota Kabupaten Sumba Timur dengan lama tempuh sekitar 40 menit.

Pantai ini sempat menghebohkan jagat nusantara dan belakangan menjadi viral di medsos karena keindahannya yang mencengangkan terutama disenja hari dan view mangrove unik dibelakangnya.

Bahkan jumlah kunjungan wisatawan ke Pantai Walakiri sejak tahun 2018 tercatat mencapai 5 ribuan wisatawan dalam sepekan. Angka ini adalah akumulasi dari pengunjung wisatawan lokal, nusantara dan mancanegara.

Meski menyimpan pesona yang begitu menggoda, dalam 3 tahun terakhir mengalami abrasi yang cukup parah. Abrasi ini menjadi ancaman serius dari kemolekan pantai ini termasuk pemukiman warga disekitar kawasan itu.

Pemerintah daerah dalam hal ini terus berupaya menata kawasan ini agar menjadi destinasi unggulan yang nyaman bagi pengunjung wisatawan.

Dalam anggaran Tahun 2019, dialokasikan anggaran hanya Rp150 juta untuk pengerjaan Talut Penahan Abrasi sepanjang 120 meter. Tujuanya untuk melindungi habitat yang ada di pantai khususnya pohon kelapa dan cemara yang konon menjadi penghias pantai.

Kasat mata terlihat Abrasi yang kian mengancam khasanah pantai itu. Foto : Yudi Rawambaku

Ada anggaran Rp 150juta untuk pembuatan talut pengaman pantai dari abrasi di 2019. Yang paling utama adalah kita ingin melindungi, memelihara mangrove yang ternyata jadi daya tarik wisata di pantai ini,” papar Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata pada Dinas Pariwisata kabupaten Sumba Timur Yudi Umbu Rawambaku dalam rilisnya yang diterima Fortuna, Kamis (21/11).

Hal ini katanya sunset dengan latar mangroove adalah magnet utama dan icon dari pantai Walakiri di Pulau Sumba. Panorama ini akan hilang ketika ganasnya terjangan ombak lepas pantai

Pemerintah juga membangun sarana MCK sebagai Amenitas Dasar di sebuah Destinasi wisata.

Nah langkah penataan kawasan pantai dengan dana pemerintah ini menuai berbagai macam tanggapan. Mereka merasa alokasi anggaran untuk penataan kawasan itu tidak tepat sasaran dan terkesan menghamburkan uang negara. Ada yang bertanya berapa pendapatan asli daerah dari pantai tersebut, lantas?

Yudi menjelaskan bahwa ada dua jenis sumber pendapatan dari Sektor Pariwisata yaitu PAD yang didapat dari Sumber Retribusi Pajak Jasa Hotel dan Restaurant serta Usaha – Usaha Jasa Pariwisata lainnya.

Adapun retribusi parkir destinasi wisata diserahkan pada Pemerintah Kecamatan melalui Kelurahan dengan melibatkan unsur Karang Taruna, atau Kelompok Sadar Wisata. Jika di Desa, maka dikelola melalui BUMDES.

Yang kedua, pendapatan dalam hal Ekonomi Kreatif, dalam hal ini masyarakat langsung menikmati hasil jerih payah mereka dalam pelayanan wisata diantaranya perajin, penjual asongan, kios, usaha retail dan lain sebagainya.

Nah, apakah untuk menghitung atau mengkalkulasi, memperluas Sumber Pendapatan Sektor Pariwisata untuk  PAD adalah Tupoksi Dinas Pariwisata? Tentu Tidak, ada OPD yang berwewenang untuk hal tersebut.  Karena untuk Pantai dan Laut adalah milik Pemerintah atau Negara dan untuk itu maka wajib dilindungi.

Dan bagaimana kedepan destinasi wisata bahari tersebut membawa PAD bagi daerah dan peningkatan pendapatan masyarakat ekonomi kreatif?

Senja di Walakiri. Foto : Istimewa

Yudi mengatakan ada langkah-langkah strategi Pemerintah Daerah dalam hal ini. pertama Pada Bulan Oktober 2019 yang lalu, Bappeda mengadakan FGD tentang Potensi Wisata, Pendapatan Asli Daerah dan Pelestarian Pantai Walakiri bersama OPD terkait. Hasilnya menyepakati untuk perlindungan pantai serta mangroove yang ada disana.

Langkah langkah strategi ini sangat penting demi pengembangan Kepariwisataan Daerah dalam Mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sumba Timur di Sektor pariwisata, kata dia. (Sumber : PostingaFB Yudi Rawambaku/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *