Timor, Pesona Yang Terpenggal

Ratusan Wisatawan asing berbaur dengan warga dan pejabat TTS di depan eks kantor Bupati TTS usai penyambutan secara adat Natoni. Foto : Fortuna

Saya lupa tanggalnya tapi rupanya di minggu pertama bulan Agustus tahun 2013. Itulah saat terakhir saya mengamati kunjungan wisatawan asing dalam jumlah banyak dan rombongan besar ke pulau Timor khususx di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Lebih dari 10 bus jurusan Kupang – Soe penuh sesak. Umumnya mereka berusia diatas 50tahun dan kebanyakan pasangan suami istri.

Letih lelah dan ngantuk tak tertahan ketika pagi-pagi jam 07.00 harus turun dari yatch (kapal pesiar ) mereka yang parkir di pantai Tedys Kota Kupang, berkumpul dan jam 08.00 star menuju SoE, kota wangi cendana itu. Jauh dan memakan waktu hampir 3 jam dengan bus yang sebagiannya tua dan tanpa AC. Jalan mulus panas tapi panorama Timor yang gersang dibulan Agustus itu jadi pesona unik bagi ratusan wisatawan yang baru “lari” ke Timor akibat musim dingin di benua Australia itu.

Fortuna menjadi satu-satunya media berbahasa Inggris dan Indonesia sekaligus jadi Official Media Partner Sail Komodo 2013. Foto : Fortuna

Ya tetap senyum mesti kelelahan terpancar dan panas membakar raga. Botol-botol aqua yang disiapkan panitia dan para pemandu wisata Mesakh Toy, Pae Nope dan Martin Lalay ludes dilahap sebelum masuk wilayahTakari dari Kupang. Sebagian mengisi waktu luang dengan membaca Tabloid Fortuna edisi special SAIL KOMODO 2013 ( berbahasa indonesia dan inggris) yang masih seadanya- tersedia di setiap tempat duduk bus. Cuman 20 halaman. Tdk cukup untuk jadi peneman 3 jam perjalanan jauh Kupang – Soe

Sekitar pukul 11.00 rombongan wisatawan peserta Sail Komodo 2013 itu baru tiba di halaman Kantor Bupati Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Jedah 15 menit dihabiskan mereka untuk turun dari bus dan menikmati suguhan tarian giring2 dan musik gong oleh warga setempat. Napas legah dan sangat menghibur. Foto bersama penari menjadi aktivitas kedua setelah mereka terpesona diawal pertunjukan Welcome Dance.

Selanjutnya acara protokoler pemerintah berlangsung. Meski tidak suka disambut resmi namun tradisi lokal (Natoni) sapaan selamat datang wajib mereka hormati. Kalau tidak salah Asisten I Setda TTS Epy Tahun  (Bupati TTS saat ini,red), Sekda Samuel TTS Tabun dan jajaran pejabat secara bergantian menyalami para wisatawan dan mengalungi selendang kain khas Timor Tengah Selatan.

Suasana riuh. Semua berebutan mendapatkan sematan kain yang memang disiapkan khusus untuk mereka. Senyum sumringah nampak diwajah mereka. Ikutannya yakni menari bersama para pejabat, masyarakat, pelaku wisata, guru2 dan siswa yang memadati halaman kantor bupati TTS saat itu

Para wisatawan berada di dalam Ume Kbubu yang khas itu. Foto : Fortuna

Meski demikian ramahnya seremonial penyambutan namun perhatian mereka justru lebih mengarah ke Mateos Anin. Seorang pria sepuh yang mengenakan pakian adat khas etnis Molo. Ya kain TTS lengkap dengan aksesoriesnya. Lebih menarik lagi Mateos yang tua itu bisa bahasa Inggris (meski tidak fasih). Dia dengan gagah menjelaskan tetek bengek mengenai sejarah peradapan orang TTS dan kenapa orang Molo harus mengenakan kostum itu. Fulgar dan dengan gayanya yang khas, Mateos mampu menghipnotis sebagian besar wisatawan penikmat budaya itu.

Mereka tercengang, kagum dan sangat gembira mendengar “ocehan” sosok pemilik sanggar seni budaya terbaik dikawasan Fatumnasi itu sebelum meninggalkan kota SoE untuk menyaksikan rumah tradisional “Ume Khbubu” yang unik itu dan beranjangsana ke Benteng None. Disana usai turun dari bus di jalan mereka treking kedalam untuk disambut dengan Natoni lalu menyaksikan tutur adat, atraksi budaya dan makan siang secara adat drumah adat orang Benteng None. Selanjutnya mereka mengunjungi rumah raja di Niki- Niki sambil menikmati kopi sore di Sonaf Raja Amanuban itu sebelum kembali ke Kupang di senja hari.

Kesan sekilas dari seharian touring ke TTS terliat sangat menarik. Ada lelah letih dan membosakan dijalan tapi rombongan wisatawan tua itu terhibur. Mereka gembira dan semua nampak puas ketika ditanyai sepulangnya di Kupang. Kenangan tentang pesona TTS dan karakterisitikx terekam baik, didokumentasikan di kamera masing-masing dan pastinya diceritakan kepada siapapun sekembalinya mereka ke kampung negara asalnya.

Berjumpa Matheos Anin, tokoh dan pelaku wisata TTS yang menyenangkan itu. Foto : Fortuna

Masih adakah event akbar lain yang mendatangkan wisatawan asing dalam jumlah ratusan orang ke TTS setelah itu? Rasa-rasanya tidak. Saya belum mendapatkan informasi atau referensi berita soal itu. Kalaupun ada banyak event seni budaya yang digelar pemda TTS ataupun komunitas tapi masih terbatas untuk kalangan sendiri.  Ya dibuat sendiri, tarian dan musiknya dimainakn sendiri, penontonnya orang lokal, pejabat daerah yang buka dan lalu kalau meriah ya tepuk tangan sendiri juga.

Kapan TTS yang adalah bumi cendana itu terus wangi dan berkibar pesona wisatanya? Kapan  SoE sebagai satu-satunya kota dingin di pulau Timor itu jadi destinasi wisata pilihan akhir pekan untuk orang Kota Kupang atau wisatawan asing? Adakah niat agar festival-festival budaya itu dikemas jadi event tahunan  yang gaungnya nasional atau mendunia karena promosi yang gencar dan dilauncing heboh? Belum tau. Padahal pesona TTS bisa saja dipromosikan untuk dunia di aneka program Salles Mission di luar negeri, di Jakarta dan atau Kupang?

Adakah media besar atau media berbahasa asing yang fulgar menulis tentang itu, saya kira jawabnya adalah belum banyak. Uang tidak ada. Tidak ada dana promosi. Kami hanya punya event rutin. DPRD tidak setuju dan lain sebagainya,” papar beberapa  pejabat teknis yang sering ditanyai.

Padahal kita tau TTS punya sebuah ritus dan pusat peradapan yang sangat kuat dan mendunia. Sadar atau tidak, tradisi religi yang sangat amat mahal pesannya dan punya magnet wisata yang sangat unik di TTS namun masih “terkubur” yakni Kisah “Mukjizat” Air Menjadi Anggur. Sejarah asal muasal peradapan gereja Kristen dan tradis langka ini mempunyai daya ledak or daya ungkit yang dhasyat dan bisa jadi icon baru pariwisata TTS kalau didorong serius oleh  pemerintah dan gereja. Magnet wisata ini khas dan bisa dijadikan sebuah Festival yang dirangkaikan dengan KKR dan Pawai Akbar pada setiap tanggal 22- 26 September yang saban tahun digelar oleh gereja.

Berbelanja Souvernier khas yang dipasarkan warga di lokasi Benteng None. Foto : Fortuna

Kalau ada KKR Akbar yang digelar bareng Yayasan UTUS dalam satu rangkaian event maka sangat strategis mendongrak kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik.  Data yang terhimpun, selama ini beberapa penikmat wisata rohani itu hadir dari berbagai belahan dunia ke TTS tapi kesannya masih parsial. Ada yang datang kerena undangan Pihak Gereja dan Yayasan UTUS SoE tapi banyak orang asing juga yang sering mengikuti ibadah khusus dalam komunitas persekutuan doa bersama Pendeta Selan dan Ibu Hylda di Top Roof hotel Blessing SoE. Mereka datang untuk berdoa bersama namun mereka masih saja menjadi “tamu gereja”.  Padahal jika dipoles dan dipromosikan luas mereka kehadiran mereka bisa masuk dikoordinasi oleh para pelaku wisata (tour leader) dan bisa menikmati paket wisata TTS secara lebih profesional dengan biaya yang lebih murah karena dalam hitungan rombongan. Mereka bisa diajak berkunjung keliling ke destinasi wisata lain di TTS baik alam, budaya bahari dan situs minat khusus.

Pak Bupati dan Wakil Bupati TTS yang baru Epy Tahun dan Army Konay, kita minta segera putuskan cukup satu saja event pariwisata tahunan TTS tetapi heboh. Kegiatanx digelar sepekan tapi komplit menampilkan urusan rohani, festival budaya dan post tour ke destinasi-destinasi wisata unggulan di  TTS. Dalam 1 event mereka bisa mengenal keunggulan komparatif wisata TTS secara detail. Dampaknya sudah pasti.  Lama tinggalnya panjang dan memberi manfaat ekonomi langsung untuk masyarakat dan daerah.

Ume Kbubu yang unik dan memikat mata wisatawan. Foto : Fortuna

Buatlah kegiatan-kegiatan yang heboh besar dengan dana yang besar pula tapi hasilnya terukur. Kalau dimasa sebelumnya banyak orang asing yang bisa datang ke SoE karena adanya event besar yang digelar di Kupang ya duplikasi lah. Tidak boleh ada yang terpenggal karena beda politik. Ikuti yang positif dan tinggalkan cara baru yang belum tentu maksimal. Ajaklah para  pelaku wisata, travel agent, pemandu wisata, media massa untuk jadi mitra membangun pariwisata NTT dan TTS khsusnya.

Dinas Pariwisata TTS tidak perlu terlalu banyak merancang program yang sifatnya rutinitas tahunan tetapi efeknya nihil. Mari sama-sama kita dukung juga program Gubernur NTT Viktor  Laiskodat yang begitu bergairah mendorong sektor ini. Karena benar bahwa hanya sektor ini yang bisa jadi andalan NTT sekarang bahkan yang akan datang sebagai penggerak utama ekonomi (Prime Mover).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *