Saatnya Sumba Timur Miliki Museum Tenun Ikat

Oleh : Yudi Umbu Rawambaku (Mr. Nice Man)

Ragam Corak dan Motif Tenunan Sumba Timur dalam ragam promosi. Foto : Istimewa
Cara-cara Unik mempromosikan pesona Tenun Ikat Sumba Timur. Foto : Istimewa

Kain tenun ikat merupakan kebudayaan material dan wujud dari eksistensi manusia, dimana modus eksistensi terjelma dalam wujud kebudayaan ideal, kebudayaan perilaku atau aktivitas sosial dan kebudayaan fisik.

Di era tahun 1940 – 1950-an, Tenun Ikat Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur diproduksi secara besar-besaran oleh masyarakat adat tertentu atas permintaan dari Pemerintahan Hindia Belanda (waktu itu).

Adapun ragam motif atau corak khas Sumba Timur misalnya udang, buaya, ayam, kura-kura dan masih banyak lagi. Masing-masing motif memiliki makna filosofis terkait budaya Sumba dan pesan nenek moyang.

Pada tahun 1970 – 1980an, tenun ikat Sumba Timur mulai diekspos bahkan dijual secara luas sehingga tenun ikat itu menduduki pasar dunia dan banyak ditemukan pada museum-museum yang ada di luar negeri.

Meski demikian, pada tahun 1990-an terpantau mengalami penurunan diakibatkan oleh keterbatasan kapas dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak itu. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama karena kemajuan trend dan gaya hidup moderen yang menjadikan Tenun Ikat Sumba sebagai bahan baku.

Apalagi memasuki memasuki tahun 2000-an, produksi dan permintaan tenun ikat terpantau terus mengalami peningkatan. Kenaikan justru terjadi terutama dari usaha- usaha rumah tangga.

Fenomena ini justru melahirkan terjadinya upaya-upaya tidak bertaunggungjawab mulai dari aksi modifikasi yang membias dari makna filosofis hingga penjiplakan motif Tenun Sumba karena kecanggihan peralatan dan kepentingan bisnis tanpa mempertimbangkan aspek pelestarian.

Tidak dapat dipungkiri, saat ini muncul tenun-tenun ikat dengan memiliki motif atau corak yang telah dimodifikasi secara besar-besaran. dan hal ini banyak ditemukan pada Tenun Ikat Sumba Timur wilayah Kambera seperti motif atau corak “papanggangu dalam prosesi penguburan jenazah, plai ngandi, prosesi pernikahan sampai pada corak kerbau yang ditaruh pada liran tenun ikat.

Gallery Tenun Ikat Kampung Prailiu, Sumba Timur Kerjasama Bank Indonesia dan Komunitas penenun setempat. Foto : Fortuna

Perubahan tersebut disebabkan oleh faktor adaptasi dengan perubahan lingkungan alam, adanya kontak dengan suatu kelompok masyarakat yang memiliki norma, nilai dan teknologi yang berbeda, penemuan atau penciptaan bentuk baru dengan mengadopsi kebudayaan material individu atau kelompok lain yang merubah pandangan hidup dan konsepnya tentang realitas.

Salah satu langkah pelestarian yang paling mungkin adalah dengan menghadirkan sebuah museum tenun ikat di Sumba Timur. Melalui Museum “Tenun Ikat” Sumba Timur ini maka generasi-generasi penerus diharapkan dapat belajar mengenal kekayaan budaya dan potensi daerahnya. Anak-anak Sumba tidak boleh lupa apalagi kehilangan identitas budaya aslinya terutama dalam Seni dan Kreativitas.

Musuem Tenun Ikat ini juga nantinyam menjadi “jendela dunia”, laboratorium dan pusat kajian tentang Sumba dan segala peradapan budayanya. Kejayaan dan keagungan Tenun Ikat Sumba pada masa lalu harus terus dirawat oleh generasi dan bangsa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari cita-cita nasional Indonesia yakni berkepribadian dibidang budaya. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *