Abed Frans : Perlu Konsistensi Membangun Pariwisata di NTT

AYANA Resort Labuan Bajo, Salah Satu Fasilitas Wisata Premium di Propinsi NTT. Foto : Istimewa

Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan aset pariwisata. Alam budaya bahari dan budayanya sangat menakjubkan. Destinasi wisata rohani dan minat khususpun sangat menggoda dan mengundang decak kagum. Sebagai daerah yang  berbatasan langsung dengan Timor Leste dan Australia ini, daerah ini menawarkan sejumlah destinasi wisata super bahkan berkelas premium bagi wisatawan

Selain TNK Komodo di Labuan Bajo, Danau Kelimutu di Ende termausk Kalabba Madja di SabuRaijua yang baru saja populer pasca menjadi nominator Anugerah Pesona Indonesia (API) pada tahun 2018, NTT menjadi destinasi super prioritas yang kini tengah dikembangkan pemerintah dan menjadi magnet baru bagi penikmat wisata nusantara maupun mancanegara

Melihat dari daya dukung dan potensi yang ada tersebut maka tidak salah pemerintah terus mendorong pariwisata sebagai “Prime Mover” menuju masyarakat NTT yang maju dan sejahtera.

Alasannya karena sektor pariwisata saat ini sungguh menjanjikan. Pariwisata menjadi produk unggulan baru yang produktif serta sangat potensial dan sebagai penyumbang peningkatan perekonomian nasional dan daerah.

Ketua ASITA NTT, Abed Frans. Foto : Fortuna

Oleh karena itu, para pelaku usaha dan insvestor tentu tak tinggal diam. Mereka terus bergerak, mengendalikan dan selalu melakukan pembenahan dari setiap titik destinasi yang ada. Nah, untuk melakukan hal tersebut maka perlu adanya kerja kolaboratif antar seluruh stakeholders. Para pihak harus berkerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing dengan satu muara pada peningkatan ekonomi dan kesejatheraan yang menjadikan pariwisata sebagai leading sektor.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua ASITA Propinsi NTT, Abed Frans saat memaparkan materinya dalam kegiatan “Rapat Koordinasi Pengawasan dan Pengendalian Promosi Pariwisata Untuk Kawasan/Objek Wisata Provinsi NTT bersama pemerintah daerah kabupaten/kota”, yang digelar oleh pemerintah provinsi pada Rabu (2/10/19) beretempat di Sasando International Hotel.

 

Ditemui Fortuna usai membawakan materi dalam Rakor tersebut, Abed menjelaskan bahwa kontribusi terhadap wisatawan domestik sejauh ini sudah sangat signifikan, kalau untuk wisatawan mancanegara sampai dengan saat ini belum begitu signifikan, namun paling tidak sudah punya langkah awal yang bagus.

Suasana Rakor Pengawasan dan Pengendalian Promosi Pariwisata Untuk Kawasan/Objek Wisata Provinsi NTT bersama pemerintah daerah kabupaten/kota di Sasando Hotel Kupang, Kamis (3.10). Foto : Fortuna

Ia kembali menegaskan, untuk menggelar sebuah event perlu adanya “konsistensi.” Menurutnya, even-event yang digelar saat ini sebagai sebuah informasi untuk publik yang bernilai jual tinggi.

Terkait Selles Mission ia menjelaskan bahwa harus melihat market wisatanya. Misalkan  di Rote sebagian besar wisatawan datang dari Australia dan News Zealand yang memiliki karakteristik yang sama. Kemudian Flores masuk dalam “Market All” dan sebagiannya ke Eropa. Karena Flores menurutnya, terdapat wisata budaya, alam, adventure dan lain sebagainya sehingga bisa dipromosikan dimana saja.

Yang perlu dibenahi dalam manajemen promosi wisata saat ini menurut Abed yakni perluanya sebah branidng yang kuat.

“Mesti ada satu branding yang dipakai untuk seterusnya dan branding tersebut dipastikan harus betul-betul kuat. Seperti di Bali, ada “Alien of God”, kemudian di Jakarta ada, “Enjoy Jakarta”, di NTT juga harus ada. Karena akan dibawa terus saat melakukan perjalanan promosi,”ujarnya.

Terkait penjualan ia kembali berharap sekaligus menegaskan bahwa, didalam membangun kerjasama yang baik tentunya harus bekerja sesuai dengan peran dan tupoksinya masing-masing. Seperti pemerintah sebagai regulator yang fungsinya adalah menyiapkan sarana dan prasarana serta fasilitas lainnya, sedangkan yang berperan sebagai penjual adalah industri.

TELAGA NIRWANA, spot wisata terbaik di Pulau Rote,NTT >Foto : Bams Bajalanggila

“Kalau industrikan memang mereka pekerjaannya disitu. Merekalah yang mengerti mengenai daerah ini seperti harga, kondisi dan sebagainya. Mereka yang akan menjelaskan keluar kepada tamu-tamu yang diluar bahwa NTT ini punya potensi alam yang luar biasa,” tandasnya.

Pemerintah sebagai regulator diharapkan tetap mendukung swasta dengan regulasi-regulasi yang baik. Sementara dari akademisi memberikan masukan-masukan dan konsep-konsep yang bagus selain dari media dan komunitas

Adapun 2 narasumber lain hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Kepala Dinas Provinsi dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT. Dr. Ir. Wayan Darmawa, MT. dan Dr.Drs.Jeny Eoh, M. Si, serta delegasi dari 22 Kabupaten/Kota se-propinsi NTT. (wilfrid/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *