Bloma, Kuliner Khas Daerah Flores Timur Yang Bisa Dikomersialkan

Proses Pemanggangan Pembakaran Bloma, Kuliner Asal Flores Timur yang kian punah. Foto : Adiz Fortuna

Festival seni budaya Lamaholot Flores Timur 2019 memang telah usai, gaungnya pun hampir hilang tertutup topik-topik pemberitaaan lainnya, namun sesungguhnya ada banyak hal menarik yang dapat dipetik sebagai pelajaran selama perhelatan berbasis masyarakat tersebut.

Melalui Festival dimaksud, Pengunjung (yang kebanyakan masyarakat lokal Flotim) tidak hanya dapat mengenal ragam jenis tarian, musik dan adat istiadat yang dipentaskan di atas panggung saja, tetapi pengunjung juga dapat menikmati kuliner khas tradisional yang dijajakan di sekitar lokus event.

Adalah Bloma, salah satu kuliner khas yang menunggu untuk disantap selama festival berlangsung. Jenis masakan ini terbilang unik karena proses memasaknya yang berbeda dari biasanya. Bahan makanan dimasukan ke dalam sebatang bambu kemudian dibakar selama kurang lebih 2 jam hingga matang, wadah bambu lah yang menciptakan aroma dan cita rasa khas. Bambu yang digunakan juga tidak asal pilih, “Belang”, begitu sebutan masyarakat untuk Bambu jenis terbaik yang digunakan sebagai wadah memasak Bloma.

Roy Ola, selaku Ketua Karang Taruna Atom (Angkatan Taruna Olahraga Muda) Desa Kiwang Ona yang kala itu menjadi tuan rumah event, berinisiatif membuka stand khusus untuk menawarkan Masakan khas para pria desa tersebut kepada pengunjung. Bahu membahu pemuda/pemudi desa membagi tugas untuk turut mensukseskan event dimaksud.

Roy Ola, sang Ketua Karang Taruna bersama kawann-kawannya memproduksi dan memasarkan Bloma, di sela-sela Festival Lamaholot belum lama ini. Foto : Adiz Fortuna

Roy menunturkan kepada Fortuna, Bloma dipilih sebagai Menu utama karena cara masaknya yang unik, bloma juga tidak dapat ditemui di warung-warung makan yang ada di wilayah Flotim.

“Bloma sangat jarang djual dipasaran, bagi kami, Bloma juga merupakan simbol kepedulian kaum pria terhadap wanita, Bloma adalah masakan yang diolah oleh para pria ketika bekerja di kebun, sifatnya sederhana sehingga tidak merepotkan pasangan/istri untuk mengantarkan makanan dari rumah” terang Roy.

Menu makanan yang disajikan di stand Karang Taruna Atom yaitu Manuk Bloma/Bloma Ayam dan Ika’a Bloma/Bloma Ikan, dijual dalam bentuk paket dan disajikan dengan menu lainnya seperti Daun pepaya Bloma, Jantung Pisang dan daun ubi bakar, juga yang tak kalah nikmatnya yaitu Nasi Bloma, beras dicampur bawang goreng dan air kelapa muda, dimasak dalam bambu.

“Sebenarnya ada 1 menu lagi yaitu Bloma Daging Babi, tetapi untuk menjaga toleransi terhadap pengunjung yang beragama muslim, terpaksa kami tiadakan” tambah Roy.

Nafid, salah seorang pengujung festival mengaku terkesan dengan masakan yang tak biasa ini, “yang begini jarang sekali ditemui, hanya ada di saat-saat tertentu, acara adat misalnya, nikmat sekali rasanya, apa lagi Nasi Bloma nya, ada rasa manis air kelapa di setiap gigitannya”, tuturnya.

Bloma, Kuliner Khas Flotim ini dipadadati pengunjung Festival. Foto : Adiz Fortuna

Pria yang menjabat sebagai kepala seksi di salah satu dinas di Flotim berharap, ada pihak yang melirik Bloma sebagai peluang usaha.

“Saya kira, kalau ada yang mau membuka warung khusus untuk masakan seperti ini, pasti akan sangat laris” tutupnya.

Pantauan Fortuna, hanya dalam waktu 4 jam saja, Semua Bloma di stand Karang Taruna Atom ludes terjual, dan dengan rata-rata harga 30ribu/Bloma, Omset yang ditaksir sekitar 3 juta rupiah.

Nah bagaimana, ada yang tertarik berjualan bloma? (Adiz/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *