Bote Kebarek, Tradisi Lamaholot Yang Nyaris Punah

Sanggar Seni Desa Sandosi dari kecamatan Witihama yang paripurna menampilkan “Bote Kebarek”. Foto : Adiz- Fortuna

Hari terakhir penutupan Festival Seni budaya Lamaholot digelar di desa Karing Lamalouk Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Ribuan pengunjung datang dari berbagai penjuru wilayah kabupaten Flores Timur (Flotim) dan sekitar.  Berbondong-bondong, Tua-Muda datang membanjiri lapangan desa di malam yang dingin itu.

Kendati dingin udara terasa kian menusuk sumsum tulang, semangat para pengunjung dan peserta festival nampak tetap membara untuk menyaksikan dan menyuguhkan ragam atraksi budaya dari daerahnya masing-masing.

Tujuan utama dari Festival berbasis masyarakat ini, yaitu menggali dan mengangkat kembali nilai-nilai budaya Lamaholot yang hampir dan yang telah punah.

Sebagai salah satu peserta, Sanggar Seni Desa Sandosi dari kecamatan Witihama menampilkan “Bote Kebarek”, sebuah tradisi yang telah punah.

Dikemas dengan apik dan dipentaskan oleh 35 penari muda rupawan, Bote kebarek berhasil menyita perhatian dan decak kagum penonton yang seakan tak peduli dengan udara dingin malam itu.

Bote Kebarek sendiri mengisahkan tentang romantisme percintaan, tentang proses bagaimana seorang pria di masa lalu, menyeleksi calon pasangan hidupnya, hingga melamar dan menikahinya.

Dengan Gading di Pundak, Para Seniman dari Sanggar Seni Desa Sandosi kecamatan Witihama mengajak warga Adonara mengenang Tradisi budaya perkawinan setempat. Foto : Adiz- Fortuna

Bernostalgia Meski Singkat

Beatus Beda selaku koordinator sanggar kepada fortuna mengatakan “jaman dahulu, seorang pemuda yang ingin membangun rumah tangga akan menyeleksi terlebih dahulu calon istrinya, kriteria utama adalah kemandirian wanita tersebut untuk dapat menunjang perekonomian rumah tangga nantinya, minimal wanita nya harus bisa “titi jagung dan memintal benang tenun”.

Beatus Beda juga merasa sangat bersyukur dengan adanya event ini, baginya ini bukan sekedar event biasa tetapi lebih kepada sebuah “Gerakan”, “Gerakan” untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal yang masih eksis maupun yang telah punah kepada dunia.

Selain bersyukur, Pria berjanggut lebat ini juga merasa sedikit kecewa dengan waktu penyelenggaraan event yang begitu singkat.

“Selain Bote Kebarek, sebenarnya masih banyak tradisi budaya yang telah punah yang ingin kami tampilkan malam ini, namun sayang waktunya terbatas, untuk itu kami berharap kedepannya waktu pelaksanaan event harus ditambah dan lokasi nya juga harus terpusat di masing-masing 3 daratan Flotim yaitu Solor, Adonara dan Flotim daratan” pungkas Beatus.

Tak jauh dari panggung pementasan, terlihat seorang Wanita Tua berambut uban tersenyum-senyum sendiri menyaksikan suguhan “Bote Kebarek”. Dihampiri Fortuna, Mama Peni (namanya) mengaku bernostalgia mengenang masa lalu nya yang sesuai dengan apa yang diperagakan di atas panggung.

“Kami dulu ya seperti itu, Anak!,sekarang sudah tidak ada lagi”, tuturnya sambil menatap ke arah panggung. Mama Peni berasal dari Suku Tokan, Kecamatan Klubagolit Adonara, malam itu Ia datang bersama Anak dan cucunya. Dengan Tutur bahasa Indonesianya yang terbatah-batah, Mama Peni berharap Festival seperti ini dapat lebih sering digelar. (Adiz/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *