Produksi Minyak Goreng PINTAR, Kopdit Pintu Air Beli Minyak Curah dari Petani Mulai 17 Agustus 2019

Kantor Pusat Kopdit Pintu Air di Kampung Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. foto : Irma-Fortuna

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kopdit Pintu Air segera meluncurkan satu produk unggulannya yakni minyak goreng bermerk PINTAR (Pintu Air)  bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke- 74 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2019

Peluncuran produksi minyak goreng PINTAR tersebut akan diawali dengan proses pembelian minyak mentah/ minyak curah dari petani kelapa yang adalah anggota Kopdit Pintu Air dan masyarakat luas di beberapa daerah di Flores.

Minyak curah dari warga tersebut selanjutnya akan dioleh Manejemen Kopdit Pintu Air menggunakan mesin berteknologi tinggi dengan sentuhan apik sehingga menghasilkan produk minyak goreng PINTAR yang higienis, gurih, aman dan nyaman untuk dikonsumsi masyarakat luas dalam kurun waktu lama.

Rencana peluncuran dan pembelian awal minyak curah untuk produksi itu akan dilakukan oleh Manajemen Kopdit Pintu Air bersama aparat desa setemapt pada Sabtu, (17/8) siang di Kantor Pusat Pintu Air yang beralamat di kampung Rotat Desa Ladogahar, Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Contoh Kemasan Minyak Goreng PINTAR. Foto : Istimewa

Kehadiran minyak goreng kemasan PINTAR itu bahkan menjadi bukti nyata bahwa sebagai koperasinya orang kecil (Nelayan Tani Ternak dan Buruh), Kopdit Pintu Air juga bisa berbuat banyak hal bagi kemaslahatan seluruh warga nusantara selain hanya “menjual uang” dengan pola simpan pinjam.

Adapun bahan baku pembuatan minyak goreng yang dihasilkan para anggota itu nanti diawasi khusus Tim dari Pintu Air kemudian  dibeli, dikumpulkan dan diolah lagi dengan sedikit sentuhan teknologi dengan packingan yang memenuhi standar penjualan sehingga layak dipasarkan luas dimasyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Ketua KSP Kopdit Pintu Air Yakobus Jano kepada Fortuna Selasa, (13/8) mengatakan gagasan menghadirkan minyak goreng PINTAR datang dari, oleh dan untuk semua anggota Pintu Air dan masyarakat yang memang risih dengan merosotnya harga penjualan komoditi kopra (kelapa panggang) yang menyengsarakan rakyat selama berpuluh-puluh tahun.

Sedangkan Peluncuran awal yang digelar bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2019 itu sebagai wujud kampanye “memerdekakan” petani kelapa dan kopra dari Kabupaten Sikka dan beberapa daerah lain di Flores dari berbagai kungkungan perekonomian karena merosotnya harga kelapa dan kopra di Flores akibat berbagai monopoli dan spekulasi pasar yang berlebihan.

“Anda bisa bayangkan kelapa 4 buah diproses panjang dan melelahkan hanya menghasilkan 1 kilogram kopra dengan harga jual dipasar Rp 3.800. Untuk beli beras 1 kilogram seharga Rp12.000 saja petani kita harus berlelah-lelah mengolah sekitar 15- 16 buah kelapa, padahal kalau diolah menjadi minyak goreng 3 buah kelapa kering sudah bisa menghasilkan 1 botol minyak goreng yang harganya diatas Rp 10.000. Ini yang kita prihatin dan mau dorong supaya melalui koperasi, produk lokal ini diberi nilai lebih,”ungkap Jano

Atas keprihatinan itu, pihaknya mendatangkan Tim Pakar dari beberapa perusahaan minyak goreng ternama untuk datang di Maumere dan bersama Tim Kreatif dari Kopdit Pintu Air berkolaborasi dan ingin menghasilkan produk yang dinamakan minyak goreng PINTAR tersebut

“Jadi kita mendatangkan Tim Pakar yang memang dari beberapa perusahaan minyak goreng ternama di Indonesia. Kita minta bantuan mereka untuk berbagi ilmu dari semua aspek baik dari sisi pengolahan, produksi, packing, hingga pada maintanance dan pemasaran. Kita juga beli mesin dan bangun pabriknya langsung di areal belakang kantor Pusat Pintu Air sehingga semua anggota bisa menyaksikan langsung prosesnya,” tuturnnya.

Baginya, terobosan tersebut adalah “kado Kemerdekaan” bagi petani kelapa di Flores. Sudah final dan pada tanggal 17 Agustus 2019 nanti kita mulai tabuh gendang dan informasikan bagi masyarakat luas bahwa kita siap menjadi buyer (pembeli) minyak curah milik petani dan siap bersama petani mengembangkannya menjadi sebuah produk yang bernilai lebih,” ujar sosok brilian nan sederhana ini

Ketua Kopdit Pintu Air Yakobus Jano bersama Gubernur NTT, Bupati Sikka, Wakil Bupati Sikka ketika meresmikan Kantor Pusat Pintu Air di kampung Rotat,Desa Ladogahar, Kec,. Nita, Kabupaten Sikka, Senin (5/5/2019). Foto : Fortuna

Jawabi Tantangan Gubernur

Adapun kreatifitas untuk menghadirkan produk-produk UKM unggulan dari Koperasi menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga keuangan non bank saat ini yang mengklaim diri sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat dan UKM. Pintu Air sebagai koperasi primer nasional pun diharapkan tidak hanya bermain di sektor simpan pinjam.

Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dalam berbagai kesempatan selalu mengajak para pelaku usaha termasuk penggerak koperasi di daerah untuk menjadi investor- investor lokal yang bisa menggairahkan ekonomi setempat berbasis koperasi.

Baginya Koperasi tidak boleh hanya sebatas “menjual uang” tetapi harus menjadi unit bisnis produktif yang bisa menggerakan anggotanya melahirkan produk-produk yang berdaya saing global.

Untuk diketahui, selain bergerak di bidang usaha jasa perdagangan dengan mendirikan Swalayan PINTAR ASIA di kota Maumere, sedang merintis pabrik garam Pintar, koperasi ini juga memfasiltasi akses modal dan pendampingan usaha bagi ribuan usaha mikro kecil menengah (UKM) yang tersebar di seluruh propinsi NTT, NTB, Makasar, Bali, Surabaya, Jogja, Kalimatan Timur dan Menado.

Diyakini dengan kekuatan aset menembus Rp1,25 triliun, jaringan anggota sebanyak 239.000 orang yang tersebar di 47 kantor cabang, 16 Kantor Cabang Pembantu (KCP) serta dibantu ribuan orang karyawannya, KSP Kopdit Pintu Air bisa menjadi aset bangsa yang strategis berkontribusi membangun perekonomian nasional dan mensejatherakan rakyat. (tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *