Kolo Merabu, Cerita Rakyat Sabu Raijua Yang Selalu Menggelitik

Ilustrasi Kerbau. Foto : Cerita Nida.

Rae Wiu adalah nama sebuah kampung adat dibekas kefetoran Liae. Disanalah tempat bersemayam raja Liae pertama yang bernama Lado Riwu dari Udu Nawawa. Di kampung Rae Wiy itu juga berdiamlah seorang laki-laki yang bernama Dahi Penu, bersama isterinya yang bernama Wahi Rebo. Hidupnya rukun dan damai. Dahi Penu juga mempunyai dua orang saudara kandung yang bernama Luji Penu dan Tuka Penu. Dahu Penu termasuk orang sakti yang tidak ada tandingannya.

Pada suatu hari ketika ia sedang berjalan-jalan menikmati keindahan alam sekitarnya, tiba-tiba dijumpainya seekor kerbau yang terbaring mati di dalam sebuah danau. Segera dikenalinya bahwa kerbau yang mati itu adalah kepunyaan keluarganya. Iapun kembali dan memberitahukan kepada kedua saudaranya. Kemudian mereka menuju danau dimana kerbau itu berada. Setelah tiba di tempat yang dituju, Dahi Penu berkata kepada kedua saudaranya itu: “Siapa diantara kita sanggup menghidupkan kerbau ini? Apa pula ada di antara kita bertiga yang dapat menghidupkan kerbau ini maka dialah yang memilikinya. Usul Dahi Penu ini disetujui, maka mulailah satu persatu mengeluarkan ilmunya. Ternyata bahwa Luji Penu dan Tuka Penu tidak berhasil. Lalu tibalah giliran dari Dahi Penu. Ia mulai mengeluarkan segala ilmu yang ada padanya. Ditepuknya kepala kerbau itu tiga kali, maka kerbau bangkit dan segera berjalan. Kedua saudaranya itu kagum sekali. Sesuai perjanjian maka Dahilah yang memiliki kerbau itu. Tanpa komentar Tuka Penu dan Luji Penu kembali dengan kesal ke rumahnya. Mereka sadar bahwa Dahi Penu memiliki kesaktian yang jauh lebih hebat dari mereka. Rasa iri hati timbul. Niat jahat mulai direncanakan.

Lain halnya dengan Dahi. Ia sangat bersuka cita karena keberhasilannya. Ia kembali ke rumah dengan kerbaunya itu. Segala sesuatu tentang kerbau itu diceriterakan kepada isterinya. Pada waktu itu Wahi Rebo, isterinya, sedang menunggu saat-saat untuk melahirkan bayi mereka yang pertama. Beberapa hari setelah itu, Wahi Rebo pun melahirkan seorang anak laki-laki. Anak tersebut diberi nama Lobo Dahi. Dengan demikian suami- isteri itu disebut Ama Lobo. Dahi dan Ina Lobo Dahi.

Setelah Lobo Dahi berumur 3 hari, diadakanlah upacara cukur rambut, yang disebut Hapo-ana. Untuk upacara hapo- ana ini, semua keluarga Ama Lobo dan handai tolan diundangnya, termasuk Luji Penu dan Tuka Penu.

Kesempatan dalam upacara hapo-ana itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Luji Penu dan Tuka Penu untuk membalas dendam kepada Ama Lobo Dahi, karena niat jahat ini sudah lama direncanakan dengan matang. Keduanya telah berguru kepada seorang sakti dari Udu Waggu di kampung Wadu Wella dan orang Waggu yang terkenal sakti itu telah mengajarkan ilmu-ilmu kekebalan, ilmu suwanggi, dan lain-lain kepada mereka. Hari upacara Hapo-ana mereka rencanakan  untuk membunuh Ama Lobo Dahi.

Pagi-pagi benar pada hari Hapo-ana itu Tuka Penu dan Luji Penu pergi ke rumah ma Lobo Dahi. Ama Lobo Dahi menerima kedua saudaranya itu dengan suka cita tanpa ada curiga. Biasanya sebelum hewan-hewan dibantai untuk maksud itu, sang ayah harus melakukan upacara Halu Rujiu dan Kijuru kematu di rumahnya. Pada kesempatan menggantung Rukematu, diatas separ rumah pada bagian yang khusus untuk itu. Luji mencabut keris sakti dan ditikamnya Ama Lobo Dahi dari belakang. Maka Ama Lobo Dahipun rebalah ke tanah dan mati seketika itu juga. Darah membasahi bumi. Segala kaum keluarga merasa terharu atas peristiwa sadis itu, lebih-lebih lagi Ina Lobo Dahi yang fisiknya belum kuat.

Tiba-tiba terjadilah suatu hal yang ajaib. Bayi Lobo Dahi yang sisyukuri itu spontan dapat berbicara dengan lancang dan berkata kepada ibunya, “Tampunglah darah ayahku itu pada sebuah tempat dan minumkanlah darah itu kepadaku.” Semua orang menjadi heran mendengar kata bayi itu, karena mustahil sekali seorang bayi yang baru berumur 3 (tiga) hari telah dapat berbicara. Untuk memenuhi permintaan bayi Lobo Dahi, maka darah ayahnya itu ditampung dan diminumkan kepadanya.Tiga hari setelah upacara penguburan jenasah Ama Lobo Dahi, maka terjadi pula suatu hal yang tidak dimengerti, yaitu bayi Lobo Dahi mulai menangis siang dan malam tanpa henti-hentinya. Ibunya berusaha dengan segala cara supaya bayi tersebut berhenti namun sia-sia. Tangis Lobo Dahi semakin menjadi-jadi. Maka timbul kemarahan sang ibu itu. Menurut kepercayaan, bahwa anak-anak yang lahir dan selalu menangis adalah karena nama yang diberikan tidak cocok baginya dan nama itu perlu segera diganti.

Berdasarkan musyawarah keluarga, maka nama Lobo diganti dengan nama Nida, sesuai dengan nama satu jenis pohon beracun yang pernah dipakai sang ibu untuk diberikan  kepada Lobo Dahi supaya ia cepat meninggal. Meskipun anak itu telah diganti namanya namun ia tetap saja menangis. Ibunya bersungut-sungut dan berdoa agar supaya Lobo Dahi atau Nida meninggal saja. Untuk itu bayi tersebut diberi makan ikan berbisa, buah nida yang beracun tetapi anak itu tidak apa-apa. Ibunya mengeluh dan berpikir betapa banyak dosa yang telah dibuatnya dan bukan kepalang takutnha kepada Tuhan sehubungan dengan tangis bayi itu. Namun demikian ada juga pikiran yang sehat terlintas dalam benaknya bahwa mungkin ini adalah satu ujian baginya dari Tuhan yang perlu diterimanya dengan penuh ketabahan. Ketika sedang berada dalam lamunan, tiba-tiba saja Nida berteriak dengan suara nyaring katanya: “Walaupun ibu berusaha mencari berbagai cara untuk membunuh saya, saya tetap tidak akan mati. Saya akan tetap menangis terus. Tangisku akan berhenti dengan sendirinya bila ibu telah selesai menenun sehelai selimut yang bernama Pidu Kene. Ibunya menjadi sangat heran mendengar perkataan anaknya. Pikirnya, dari pada sengsara terus begini, lebih baik menurut saja apa yang dikatakan Lobo Dahi atau Nida itu. Segera disiapkannya benang untuk bahan selimut itu. Selimut yang dimaksud itu ditenunannya siang dan malam tidak henti-hentinya. Tekad ibunya, agar anaknya berhenti menangis dan ia terlepas dari penderitaannya.

Tiga hari tiga malam selimut itu pun selesailah. Setelah selesai selimut itu dipakaikan kepada bayi ajaib itu. Sejak itu berhentilah tangis Lobo Dahi dan makin hari Nida pun bertambah besar. Dan iapun telah menjadi seorang yang sangat sakti seperti ayahnya. Setelah ia merasa cukup dengan ilmu yang ada padanya, yaitu ilmu tentang kesaktian, ia berkeinginan untuk mencoba ilmunya itu di seberang lautan. Pada suatu hari ia berkata kepada ibunya: “Ibu saya ingin merantau ke Rai Wa, untuk mencari atau menambah pengalaman.” Ibunya menjawab: “Pergilah anakku tercinta.” Jagalah dirimu baik-baik pendai-pandailah bergaul dan pergunakanlah ilmu yang apa padamu itu selalu untuk tujuan yang baik. Jangan sekali-kali untuk hal-hal yang tidak berguna atau yang tidak penting. Ibu merestui kepergianmu.” Beberapa hari kemudian Nida pun berangkatlah ke pulau Sumba. Bertahun-tahun Nida merantau di sana. Pergaulannya sangat baik sehingga ia mendapat simpati dari orang-orang Sabu yang ada di pulau Sumba, demikian pula halnya dari orang-orang Sumba. Suatu ketika mangkatlah seorang raja Sumba yang sangat terkenal karena kekayaannya. Menurut adat kebiasaan di pulau Sumba apabila seorang raja meninggal ia harus dikuburkan bersama harta benda serta hamba-hamba sahayanya. Umumnya harta benda terdiri dari perhiasan emas dan perak, uang dan lain-lain barang yang tidak ternilai harganya. Pada hari itu raja akan dikuburkan, datanglah Nida dan merelakan dirinya dikuburkan dibawah peti jenasah raja tersebut sebagai pengganti hamba sahaya raja. Raja itu dikuburkan dengan upacara kebesaran. Rakyat Sumba mengagumi kerelaan Nida untuk turut dikuburkan sebagai hama sahaya raja.

Pada malam harinya setelah penguburan, Nida yang terkenal sakti itu keluar dari dalam kubur raja tersebut. Seluruh harta emas, perak yang dikuburkan bersama raja diambilnya, kemudian ia melarikan diri dengan naik sebatang kayu kembali ke pulau Sabu. Ketika keluarga raja berziarah ke kubur, maka didapatinya kubur telah terbongkar. Dan seluruh harta emas dan perak telah hilang dari dalam kubur. Juga jenazah Nida yang dikubur sebagai hamba sahaya raja telah hilang. Dengan turut hilangnya jenazah Nida dari dalam kubur itu maka orang menduga bahwa Nida telah bangkit dan melarikan seluruh harta benda raja dari dalam kubur itu. Kehilangan harta benda dari dalam kubur seperti itu sangat pantang bagi suku Sumba. Nidapun dicari kesana kemari. Berdasarkan petunjuk-petunjuk orang sakti yang berada di pulau Sumba, dapatlah diketahui bahwa Nida telah berada kembali di pulau Sabu.

Keluarga raja mulai mengumpulkan seluruh rakyat Sumba untuk membuntuti Nida yang telah berada di pulau Sabu. Ia dituduh telah menghina keluarga raja dan merusak adat istiadat suku Sumba. Setelah segala sesuatunya siap berangkatlah sejumlah orang Sumba menuju pulau Sabu untuk mencari Nida. Mereka berangkat dengan perahu. Orang-orang Sumba itu berlabuh di sebuah pelabuhan Nida bersedia menerima kedatangan mereka. Orang-orang Sumba itupun mengikuti Nida menuju Waggu. Abuhan yang sampai sekarang namanyapun belum berubah yaitu Hara Biti di Liae. Ketika turun di pelabuhan, Nida tengah menjala ikan di tepi pantai. Dengan segera mereka menemui Nida dan berkatalah mereka: “Kenalkah engkau dengan seorang yang bernama Nida, orang Sabu Liae, yang baru saja kembali dari Sumba?” Nida menjawab: “Saya kenal orang yang kalian maksudkan itu. Rumahnya di wadu Wella. Ia adalah orang Waggu.” “Tolong bawa kami kesana, kami memerlukananya karena ada suatu urusan penting dengan dia!” Tinggallah di sini biarlah saya sampaikan kepadanya karena orang tersebut sangat disegani di sini karena saktinya.”

Orang-orang Sumba menurut saja apa yang dikatakan orang itu, yang sesungguhnya itulah Nida yang dicarinya. Nidapun berangkat menuju Waggu unuk bermufakat dengan orang. Maksudnya tiada lain ialah untuk bermufakat dengan orang Waggu untuk membinasakan orang-orang Sumba tersebut. Nida menyuruh orang Waggu memotong pohon-pohon lontar dan dibawa ke sebuah bukit yang terdapat di Waggu dan dikenal dengan nama Lede Waggu. Maksud Nida ialah bahwa ia akan mengajak orang-orang Sumba itu berjalan melalui bukit itu. Dan apabila ia memberi tanda dengan suara berarti orang-orang Sumba  sudah berada tepat di kaki bulit Lede Waggu, maka pada saat itulah digulingkan pohon-pohno lontar itu kebawah. Setelah siap semuanya, Nida pun kembali kepada orang-orang Sumba di pelabuhan Hara Biti, memberitahukan bahwa Nida bersedia menerima kedatangan mereka. Orang-orang Sumba itu pun mengikuti Nida menuju Waggu.

Suasana Kamnpung Adat Namata. Foto : Fortuna

Sementara mendaki bukit Waggu, maka Nida pun memberi isyarat ke atas bukit dan batang -batang lontar itupun digulingkanlah menuju orang-orang Sumba itu. Hasilnya ialah bahwa semua orang-orang Sumba itu menjadi binasa hingga sekarang dikenal dengan nama Lari Guri Wa. Pada suatu hari terlintas dalam pikiran Nida bahwa ia harus berumah tangga. Untuk maksud tersebut ia pergi ke Rai Habka yaitu Seba nama wilayah di Kecamatan Sabu Barat, untuk mencari jodohnya. Lama juga ia berada di sana baru menemukan seorang wanita yang brkenan di hatinya. Setelah itu ia kembali ke kampungnya Rae Wiu di Liae. Ia memberitahukan maksud hatinya kepada sanak keluarga, dam gadis yang diidam-idamkan itu tiada lain ialah Bitu Luji salah seorang dari keluarga raja. Maka diutuslah dua orang Liae yang bernama Kede Kedakko dan Gilli Lau untuk meminang Bitu Luji kepada Amma Wenynyi Luji dan Ina Wenynyi Luji di Seba.

Lamaran itu ditolak mentah-mentah karena melanggar adat dan kesopanan. Karena dalam hal meminang itu tidak diikut- sertakan seorang wanita. Dengan ditolaknya lamaran itu hati Nida menjadi panas. Ia merasa terhina karena lamarannya ditolak. Sebagai pemuda yang sakti ia ingin menempuh jalan lewat pintu belakang yakni dengan menculik Bitu Luji dari tengah keluarganya di Seba. Dibuatnya sebuah perahu untuk berlayar ke Seba. Dalam waktu sigkat yakni 3 (tiga) hari saja perahu itu telah selesai dibuat. Nida pun berangkat ke Seba dan tiba disana pada malam hari. Nida menjelma menjadi seorang wanita atau gadis kawan dari Bitu Luji. Ia berhasil masuk ke dalam rumah. Pada waktu itu Ama Wenynyi Luji dam Bitu Luji sedang bersiap-siap untuk pergi berpesta tari padoa.

Kawannya itu berkata kepada Bitu Luji. “Mari kita pergi kepadoa malam ini bersama-sama. Alangkah sejuk malam bulan penama ini! Baik sekali untuk berekreasi.” “Baiklah” kata Bitu Luji. Dan kedunya pamit kepada ayah dan ibunya. Mereka menuju tempat padoa di kampung Bodo. Ketika keduanya berdiri di atas sebuah batu, mau melangkah masuk ke kampung Bodo maka Batu itu telah berubah menjadi sebuah perahu dan mereka telah berada  di dalamnya. Kawan Bitu Luji itu telah menjelma menjadi seorang laki-laki dan tiada lain ialah Nida sendiri. Dan mereka berdua sedang berlayar dengan perahu di daratan bukan diair, menuju Liae. Kemudian Nida berkata kepada Bitu Luji. “Kamu kini sedang dibawa lari sebagai akibat dari penghinaan orang tuamu kepada penanganku beberapa waktu yang lalu. Saya ini adalah Nida dari Liae yang membuktikan bahwa saya dapat berbuat segala-galanya untuk mencapai maksudku.”

Pada malam itu juga atas petunjuk seorang sakti dari Seba yaitu Ama Lai Haba, mereka mengetahui bahwa Bitu Luji telah diculik oleh Nida seorang pemuda yang berasal dari Liae dengan menumpang sebuah perahu. Perahu itu sekarang telah berlayar, tetapi berlayarnya melalui daratan menuju Liae. Maka segala orang sakti di Seba pun berkumpul dan bermusyawarah untuk merebut kembali Bitu Luji dari tangan Nida. Malam itu segala ilmu kepandaian dari orang-orang sakti di Seba dikeluarkan untuk mengalahkan Nida.

Ternyata bahwa Ama Lai Habe dari kampung Namata sanggup menandingi ilmunya Nida. Ia mengeluarkan ilmu menahan arus dan Lopana untuk mengubah ujud benda. Saat itu juga ilmu-ilmu itu dikirim atau dijalankan untuk menyelamatkan Bitu Luji. Khasiatnya ialah memperlambat lajunya perahu dan sekiligus mengubahnya menjadi batu dan tidak dapat berlayar lagi. Pada saat tibanya ilmu-ilmu itu pada sasarannya yaitu perahu Nida telah hampir tiba di Liae yakni telah sampai di suatu tempat bernama Mapipa. Hari pun sudah hampir pagi. Nida menambah kekuatan ilmunya dengan mengucapkan lopana lipana yang lebih tinggi yang ada padanya namun perahu Nida makin lama makin lambat jalannya, dan akhirnya terhenti sama sekali.

Ketika  Nida sadar, bahwa ada kekuatan lain yang membututinya ia lalu meraba tiang perahunya, ternyata perahu telah berubah menjadi batu dan selimut yang dipakainya telah berubah menjadi pohon-pohon cemara. Saat perahunya telah membatu, hari sudah pagi dan iapun lari ke Liae memboyong Bitu Luji. Bitu Luji disembunyikan di rumah orang-orang suku Kolorae di Liae, sedangkan Nida berguru lagi di Kolo Merabu untuk menantang arus-arus kekuatan sakti dari Seba yang dipergunakan oleh Seba untuk merebut Bitu Luji. Sampai sekarang batu berbentuk perahu tersebut masih berdiri dengan tegak di Mapipa serta dikelilingi pohon-pohon cemara yang tiada lain adalah selimut dari Nida. Orang-orang Seba tidak dapat merebut kembali Bitu Luji  dari tangan Nida dan orang-orang Kolorae, karena Nida telah berguru menambah ilmunya di Kolo Merabu. Dari keturunan Nida dan Bitu Luji, timbullah Udu Kolorae yang sekarang. (Sumber : Ceritera Rakyat Daerah Nusa Tenggara Timur/ http://alkisahrakyat.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *