Tambal Sulam Gagasan Tokoh Maumere di Kupang Jelang MUBES KKBM 3 Agustus 2019

Penyerahan Parang dan Tombak dari Sesepuh Maumere Dr.Acry Deadatus,MA kepada Drs. Kristo Blasin sebagai Ketua KKBM di Restoran Teluk Kupang, 13 Mei 2011. Foto : fortuna

Kerukunan Keluarga Besar Maumere (KKBM) Kupang, Nusa Tenggara Timur adalah sebuah paguyuban sosial kemasyrakatan yang hadir untuk mengayomi kepentingan sesama orang Maumere Kabupaten Sikka (Diaspora Maumere) di Kota Kupang.  KKBM didirikan oleh para sesepuh dan tokoh-tokoh Maumere di Kupang puluhan tahun lalu. Tak penting berapa lamanya peguyuban ini hadir namun visi misinya jelas yakni menjadi payung dan jembatan yang strategis bagi berbagai urusan sosial kemasyarakatan semua anggota.

Masih teringat tanggal 13 Mei 2011 saat dimana acara gegap gempita, membahana di Restoran Teluk Kupang. Semua orang Maumere dari berbagai kampung, desa dan kota bersatu padu, bersukacita atas Syukuran Pelantikan Pengurus Baru KKBM Kupang yang  diketuai Drs. Kristo Blasin dan Sekretaris Umum (Alm) Dr.Filemon da Lopez.

Harus diakui, jauh sebelum wacana mengaktifkan kembali komunitas KKBM yang mati suri sebelum tahun 2011, muncul wadah yang namanya Gerakan Sikka Bangkit (RAKKIT- NTT). Pemicunya adalah tokoh muda dan para wartawan yang dipimpin Geradus Manyela, Kornelis Moa Nita dan Fidelis Nogor. Ketiga pemuda ini prihatin  dengan ketidakkompakan orang Maumere sebagai sebuah kekuatan Diaspora yang mestinya punya posisi tawar dalam hal apapun di Kota Kupang.

Semangat orang-orang muda melalui RAKKIT-NTT  ini terus memprovakasi para sesepuh dan orangtua Maumere di Kupang untuk segera menggelar pertemuan demi pertemuan yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya “KKBM baru” dan secara aklamasi memilih Pengurus baru yang dipimpin Drs. Kristo Blasin.

KKBM akhirnya lahir dengan jumlah pengurus yang sedikit gemuk, mengakomodasi semua petinggi, tokoh, dan semua elemen dari Maumere yang ada di Kupang. Aspek profesi, latar belakang, proporsionalitas wilayah hingga perpaduan unsur tua-muda dipertimbangkan untuk masuk dalam Komposisi Kepengurusan KKBM Kupang, periode 2011- 2014.

Selama kurang lebih 8 tahun (2011-2019), KKBM memang hadir di Kupang namun rotasi kepemimpinannya tidak berjalan. Bahkan kepengurusannya belum tergantikan hingga hari ini. Vakum sich tidak tapi berjalan biasa-biasa saja. Kontribusinya terhadap keberadaan orang Maumere sebagai satu komunitas yang besar di kota ini ada tapi terus diperbincangkan.

Meski belum seheboh komunitas kedaerahan lain yang ada, KKBM perlahan memberi warna dalam dinamika kehidupan bermasyarakat di Kupang. Pengurus dalam ketiadaan daya tetap berjalan meski kadang “Kurang Bersatu” dalam satu dua urusan terutama terkait pilihan dalam hajatan-hajatan politik.  Hal ini bisa menjadi maklum karena otak orang Maumere sedikit-sedikit selalu dikaitkan dengan politik. Kita tahu dari dulu, Maumere kabupaten Sikka selalu digadang-gadang sebagai barometer politik di Propinsi NTT.

Gubernur Banten sekaligus Artis Nasional Rano Karno hadir dalam Acara Syukuran Akbar itu. Foto : Fortuna

Selain karena alasan politik, KKBM juga menjadi sedikit redup perannya sebagaimana visi awal hadirnya komunitas ini karena semua pengurus berjalan dalam “kegamangan” akibat belum adanya payung regulasi yang jelas. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang lazimnya jadi menara pandu sebuah komunitas/peguyuban belum ada. Pengurus hanya menjalani masa-masa “perutusan” ini dengan modal semangat, kepekaan semata dengan daya upaya yang terbatas.

Sebagai wadah sosial kemasyarakatan KKBM belum berperan maksimal “menyentuh yang terpinggirkan”, meski pengurus tetap ada dan berbuat. Berbagai urusan sosial semisal Kedukaan, Urusan Rohani, Olahraga, hingga pesta syukur yang digelar semua komunitas Maumere di Kupang diurus baik. Selain urusan duka yang sifatnya isidentil, KKBM juga hadir dan sukses dalam 2 hajatan besar yakni Misa Bersama Uskup Maumere, Mgr.Gherulfus Parera,SVD di Gereja St.Yosep Naikoten dan Syukuran Pelantikan Bupati Sikka, Fransiskus R.Diogo dan Wakil Bupati Romanus Woga di Kupang, 20 September 2018.

Meski demikian, Sang Ketua Drs. Kristo Blasin sebagai sosok yang low profile dan peduli itupun harus ngos-ngosan dibully karena dipandang kurang “bergairah” dan minim prestasi mengurus komunitas orang Maumere ini. Kristo memang sudah bekerja maksimal namun pastinya belum memuaskan semua orang. Demikianlah kira-kira semangat beberapa anggota komunitas menilai kinerja kepemimpinannya.

Penyerahan sedikit Sumbangan pembangunan gereja Kesukupan Maumere dari keluarga Maumere Diaspora Kupang kepada Yang Mulia Uskup Mauumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Parera dalam Misa Konselebran. Foto : Fortuna

KKBM Adalah Kita

Dr.Frans Sales,M.Pd dalam tulisannya tentang Revitalisasi KKBM yang dirilis https://www.tajukberitasatu.online kemarin menegaskan beberapa point penting tentang peranan peguyuban itu dan fungsinya yang hakiki. Coretan itu menukik tajam sekaligus menggugah dan mencerahkan makna sebuah kebersamaan dan gotong royong sebagai makluk sosial di perantauan.

Doktor Frans ingin memberi simpul bahwa dalam kebersamaan perlu ada kesamaan kata dan perbuatan. Ada aksi dan aplikasi nyata serta semangat sesama perantauan dalam komunitas yang bernuansa kedaerahan dan kekeluargaan. Semua pihak diajak untuk mampu melihat dan menyadari tentang kelemahan diri sebagai manusia dan membutuhkan pertolongan orang lain. Dalam Konteks ini kata dia jikalau mesin KKBM belum bekerja optimal menjawabi peran sosial itu maka orang Maumere di Kupang mesti mengakui bahwa KKBM perlu direvitalisasi dan difungsionalisasi kehadirannya.

Drs.Stanislaus Stef, M.Si

Hal Senada diungkapkan Drs. Stefanus Stanis,M.Si, seorang cendikiawan Maumere di Kupang. Stanis mencoba mengurai beberapa pertanyaan yang muncul apa visi misi dari komunitas ini dan apa upaya konkrit untuk membangun kembali KKBM.

Pertama : Siapa yang harus bergerak untuk itu? Jawabannya adalah kita semua apalagi kita yang menyandang generasi muda, penerus dan pewaris. Upaya yang dilakukan kami bersama Pak Theo da Cuna, Pak Agus Bajo dan beberapa tokoh lain ini adalah bagian dari sebuah kepekaan dan kesadaran kolektif. Kita semua sudah tau akan keberadaan KKBM kita yang lalu dengan segala kelebihan dan kekurangan. Adalah tidak pas juga kalau kita hanya menilai dan mempersalahkan KKBM karena kita semua ini juga adalah pengurus yang membantu pak Kristo Blasin sebagai ketua. Nah, kita punya tanggung jawab yang sama untuk memperbaiki. Kita juga pasti berbangga kalau ada keberhasilan yang dicapai oleh KKBM, “ tulis Stefanus dalam rilisnya yang diterima,https://fortunaexplore.com, Sabtu,(27/7).

Yang kedua, dengan cara apa kita kelola dan menyusun kepengurusan KKBM ke depan? Masih menurut Stanis, semua elemen KKBM harus bersepakat mengelola wadah ini berbasis kekeluargaan tanpa memandang bulu dan tidak boleh berbasis prestise sosial, jabatan atau politik dan apapun namanya. Karena itu KKBM ke depan perlu dikelola dengan tidak ada muatan-muatan kepentingan politik. Pengurus KKBM harus diisi oleh orang-orang yang sudah terbiasa bekerja secara sosial tanpa pamrih.

Penari-Penari cilik dan ribuan warga Maumere di Kupang hadir dan mengiringi meriahnya acara Syukuran Pelantikan Pengurus KKBM. Foto : Fortuna

Kepengurusan KKBM kedepan juga katanya harus mengakomodir dan memberi peran yang penting bagi semua Ketua Arisan yang berjumlah sekitar 21 komunitas itu untuk menjadi pengurus ditingkat yang lebih kecil. Sederhananya, KKBM harus menjadi “rumah besar” bagi semua kelompok arisan dan juga mereka yang tidak terlibat dalam arisan manapun.

Hadiri, Kenali Hak dan Kewajiban Anggota KKBM

Apakah ada landasan untuk mengatur tata kelola KKBM ke depan supaya lebih baik? Menurut Stanis, kedepan sudah dirancang dan akan didiskusikan bersama dalam acara Kulababong  nanti tanggal 3 Agustus 2019. Sudah ada draft AD/ART yang nanti dibahas dan sepakati bersama. Disini kita akan sama-sama tahu hak dan kewajiban kita. Mari kita sama ubah cara pandang kita bahwa KKBM ke depan pasti lebih baik. Akan ada rapat rutin pengurus setiap bulan dan rapat kerja setiap 3 bulan untuk mengevaluasi semua kegiatan. Mekanisme  kontrol akan lebih mudah karena para pengurus datang dari setiap paguyuban atau kelompok arisan.

Gelar Ritual Adat sehari sebelum pengukuhan di rumah Ketua Terpilih dipimpin Tokoh Adat Kanisius Maruli dan dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing etnis. Foto : Fortuna

Untuk alasan itulah Stanis yang adalah Dekan Fakultas MIPA Unwira Kupang ini mengajak semua orang Maumere tanpa kecuali hadir dan memberikan dukungan dan pikiran-pikiran positip dalam Mubes KKBM kali ini. Hanya kita orang Maumere – Sikka yang akan ubah  diri kita sendiri. Kita tidak mungkin mengharap orang lain yang merubah kita, urainya.

Buanglah jauh-jauh semua pikiran apriori dan negatif selama ini. Semua orang Maumere tentu akan mau berubah. Masih ada waktu untuk berbenah sehingga berhentilah untuk saling menyalahkan.

“Semua kita dihadirkan di dunia dengan variasi dan varian-varian itu adalah merupakan kekayaan dan keunikan. Kita dilahirkan tentu ada kekurangan dan kelebihan. Hakikat kita bertemu itulah untuk menghapus semua apriori dan meningkatkan serta mengkuàt eratkan tali persaudaraan dan rasa solidaritas kita,”ujarnya.

Kepada semua  orang Maumere di Kota Kupang dan sekitarnya, Stanis berpesan agar jangan hanya melihat ke belakang karena masa lalu hanya untuk menghamtuimu. Tetapi tataplah ke depan karena masa depan akan ada banyak harapan, serta tataplah juga ke atas karena Dia yang di atas akan selalu membukakan jalan bagimu dan bagi kita untuk lebih baik dan selalu bahagia.

“Karena itu bagi saya tidak ada kata terlambat untuk kita berbenah. Tidak ada orang lain yang mengubah kita ke arah yang lebih baik. Hanya kita yang harus mengubah dari kita. Kita mesti punya cita2 untuk meninggalkan dan mewarisi nilai2 yang baik kepada generasi muda dan penerus ke depan jauh lebih baik,” ujar Stanis yang adalah salah satu dari tiga perintis revitalisasi KKBM bersama Theo da Cunha dan Agus Bajo itu.

Tokoh dan Sesepuh Maumere di Kupang yang hadir dalam Upacara Pelantikan dan Pengukuhan KKBM Kupang. Foto : fortuna

Acry Minta Jangan Fokus Yang Seremonial

Sementara Sesepuh KKBM Kupang, Dr. Acry Deodatus,MA meminta semua pihak terutama para tokoh sesepuh dan generasi muda Maumere di kota Kupang dan sekitarnya untuk merefleksikan apa yang menjadi alasan hadirnya peguyuban KKBM di Kupang. Urusan sosial, kemasyarakatan yang dialami anggota sebagai bagian dari keluarga besar harus mendapat tempat di hati semua pengurus. KKBM juga jangan fokus membahas uang dan hal-hal yang sifatnya seremonial.

“Bisa saja kelompok arisan enggan bergabung karena merasa terbebani dengan kesibukan kumpul-kumpul uang untuk acara seremonial dan sebagainya. Kali lalu saya usulkan agar kita Mubes dan pelantikan sesuai kemampuan yang ada saja. Itu jauh lebih penting karena orang akan merasa nyaman dan bermanfaat ada dalam komunitas KKBM,” ujar doktor pertama jebolan Undana ini. (Tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *