Pernah Didarati Boeing 737-900, Pengusaha Minta Bandara Frans Seda Maumere Layani Penerbangan Malam

Aktivitas Bandara Frans Seda Maumere. Foto ; Fortuna

Bandara Frans Seda di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur adalah salah satu bandara besar di propinsi NTT. Bandara tersebut juga merupakan bandara pertama di Flores yang menghubungkan akses transportasi udara pulau itu dengan daerah lainnya di Indonesia.

Dengan dukungan teknis dan fasilitas yang memadai, tingginya minat pengguna jasa bandara serta banyaknya Meskapai yang membuka rute dari dan ke Maumere, maka manajemen Bandara Frans Seda Maumere diminta untuk segera memberlakukan penerbangan pada malam hari.

Pembukaan penerbangan malam ini juga menjadi penting dan strategis karena lalu lintas dan trafik penerbangan  yang menghubungkan kota-kota lain di Indonesia ke NTT semakin padat. Sebagai propinsi kepulauan yang memiliki 14 bandara maka tidak cukup hanya mengandalkan bandara El Tari di Kupang sebagai Hub.

“Kita melihat Kupang sudah sangat padat dan untuk kapasitas apron sudah tidak bisa nampung lagi untuk parkiran pesawat di malam hari. Sebagai penyanga, kita ingginkan bandara Frans Seda bisa menjadi hub dan memberlakukan penerbangan malam sehingga pesawat yang harus masuk dan parkir di NTT pada malam hari bisa nginapnya di Bandara Frans Seda, “ ungkap Pimpinan Meskapai TransNusa, Leo Budiman dalam bindang-bincang dengan Fortuna via layanan telepon seluler belum lama ini.

Bandara Frans Seda kata Leo adalah salah satu bandara yang dianggap produktif dari sisi bisnis penerbangan. Kalau Frans Seda Maumere dan beberapa bandara di NTT sudah bisa melayani penerbangan malam mestinya layanan penerbangan ke NTT bisa makin baik, murah dan tentunya ekonomi lokal cepat tumbuh.

Pesawat TransNusa sendiri yang selama ini homebase di NTT dan menjadi satu-satunya Meskapai berkantor pusat di Kupang kata dia bisa saja meningkatkan frekuensi peenerbangan dari dan ke kota-kota di NTT baik untuk layanan penerbangan siang maupun malam.

CEO TransNusa Leo Budiman, GM Angkasa Pura I Bandara El Tari Kupang, Barata Singgih dan Presdir TransNusa Risnandi pose bersama sebelum Penerbangan Perdana TransNusa dari Kupang- Dili, Timor Leste belum lama ini. Foto : Fortuna

“Kita yakin kalau ada 4 atau 5 bandara di NTT bisa layani penerbangan malam selain Kupang dan Labuan Bajo mestinya geliat ekonomi dan pariwisata bisa tumbuh lebih cepat karena orang bisa datang ke tempat itu kapan saja dan Meskapai juga punya pilihan untuk mendaratkan pesawatnya pada malam hari. Kalau Maumere buka penerbangan malam, bisa saja 1 unit pesawat kita bisa di parkir disana untuk melayani rute-rute antar kota di NTT lebih pagi dan lebih banyak dalam sehari,” ungkap Leo

TransNusa kata dia saat ini melayani 36 kota di Indonesia yang terbesar di NTT, Sulawesi, Kalimatan, Jawa dan menerbangi rute internasional Kupang- Dili, Timor Leste. Banyak yang berharap TransNusa bisa mengkoneksi lagi rute internasional dari Kupang- Dili dan Kupang- Darwin, Austalia dalam waktu dekat.

Alfonsus Ambrosius. Foto : Istimewa

Usulan Bos TransNusa ini mendapat apresiasi dari kalangan DPRD Kabupaten Sikka. Anggota Komisi II DPRD Sikka Alfonsus Ambrosius mengatakan permintaan pengusaha itu menunjukan bahwa posisi bandara Frans Seda memang strategis dan potensial dalam mendukung geliat ekonomi di kabupaten Sikka dan Flores pada umumnya.

Ambrosius meminta agar semua pihak pihak baik kalangan dunia usaha, pemerintah daerah, pengelola bandara dan DPRD sehati dalam mendorong pemanfaatan Bandara Frans Seda Maumere menjadi bandara yang dinamis dan bisa difungsikan siang dan malam.

“Ini menarik. Saya melihat ini usulan yang bagus dimana pemerintah dan kalangan pelaku usaha sama-sama menjadikan bandara Frans Seda sebagai sarana yang tepat untuk meningkatkan akses perhubungan, perekonomian dan Pariwisata di Maumere dan Flores khususnya,” ungkap  Onny (sapaan Alfonsius, red)  yang membidangi Komisi Ekonomi itu.

Baginya, memiliki bandara dan pelabuhan yang memadai menjadi kekuatan utama dalam mengerakan roda ekonomi, pariwsiata dan memacu peluang investasi di sebuah daerah. Dengan demikian kalau bandara dibuka hingga malam maka perekonomian dan investasi akan bergerak kencang. Masyrakat juga dapat lebih mudah mengaskes penerbangan kemanapun.

Dia berharap Manajemen Bandara Frans Seda dan Pemerintah kabupaten Sikka segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan kesiapan teknis menjawabi usulan penerbangan malam tersebut.

Kekurangan ASN dan Daya Dukung

Menanggapi keinginan para pengusaha tersebut, Kepala Unit Pengelola Bandara Bandara (UPBU) Kelas II Frans Seda Maumere, Poltak Gordon,MT  menyatakan apresiasi dan siap mendukung.

Meski secara teknis bisa saja memungkikan, dia mengungkapkan beberapa kekurangan sumber daya dan fasilitas bandara Frans Seda yang masih harus dilengkapi sehingga tidak menjadi hambatan teknis untuk pemberlakuan penerbangan malam.

Dalam rilisnya yang diterima https://fortunaexplore.com, Jumad,(26/7), Poltak memaparkan pemberlakuan penerbangan malam harus memenuhi beberapa persyaratan teknis antara lain meski ada izin penambahan jam operasi dari Dirjend Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan RI.

Poltak Gordon,MT. Foto : Istimewa

“Nah untuk mendukung penambahan frekwensi  penerbangan sekelas Boeing 737 kita masih butuh pembebasan lahan untuk pelebaran Air Strip Landasan Pacu dan Peningkatan Daya Dukung Landasan Pacu, Taxi, Apron dengan melapis ulang minimal 10 Cm,” kata pria yang baru setahun bertugas di Maumere tersebut

Dikatakan standard minimal  tersebut harus dipenuhi untuk penambahan jam operasi dan peningkatan pergerakan pesawat.

Alasan kedua yakni jumlah personil PNS yang bertugas di Bandara Frans Seda masih belum mencukupi. Dibutuhkan tambahan personil PNS sekitar 25 orang. Dengan daya dukung personil itu maka operasional penerbangan siang dan lama bisa dilakukan.

Data yang dihimpun Fortuna menunjukan kondisi eksisiting bandara Frans Seda yakni panjang landasan pacu (run way) sekitar 2350 meter, lebar 45 meter. Dengan kondisi itu tidak lah heran pada tahun 2015 lalu bandara Frans Seda sempat didarati 2 unit pesawat Beeing 737 seri 800 milik Meskapai Lion Air yang mengakut peserta Kongres GMNI di Maumere Ibukota kabupaten Sikka.

Saat ini bandara Frans Seda rutin didarati Pesawat Boeing 737-500 milik Meskapai NAM Air,  Garuda Indonesia, TransNusa dan Wings Air yang mengeoperasikan pesawatnya setiap hari dengan tujuan Maumere- Denpasar, Kupang dan Makasar.

Poltak berjanji akan terus bersama pemerintah daerah memperjuangkan peningkatan fasilitas dan perluasan lahan, kualitas pelayanan hingga penambahan jumlah mesakapai sehingga kedepan bandara Frans Seda bisa beroperasi siang dan malam.

Pesawat Boeing 737-900ER Milik Meskapi Lion Air yang mengangkut Peserta Kongres GMNI tahun 2015, Mendarat Mulus di Bandara Fans Seda Maumere. Foto : Istimewa

 

Dukung dan Siap Berkoordinasi

Sementara Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo menyambut baik niat para pengusaha untuk mendaratkan pesawatnya dimalam hari dan menjadikan apron Bandara Frans Seda sebagai lokasi parkiran pesawat di malam hari.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo atau Roby Idong. Foto : Fortuna

Baginya, dengan adanya penerbangan malam maka promosi Maumere sebagai kota jasa dan kota dagang terjawab. Pertumbuhan ekonomi, pariwisata dan iklim investasi dipastikan positif.

“Kita bangga dan siap mendukung jikalau ada pengusaha yang mau mendaratkan pesawatnya dimalam hari dan parkir di Maumere. Ini jadi bergaining yang bagus sekaligus memberikan kemudahan akses pelayanan bagi masyarakat dan semau pihak yang membutuhkan pelayanan penerbangan dari dan ke Maumere,” ungkap Robby kepada https://fortunaexplore.com di Kupang, Kamis, (25/7).

Pemerintah kabupaten Sikka juga kata dia, siap mendukung langkah-langkah yang dilakukan pengelola bandara Frans Seda untuk pengembangan, peningkatan fasilitas dan kualitas layanan bagi pelanggan dan masyarakat kabupaten Sikka dan sekitarnya.

Meski demikian Robby (sapaan Fransiskus,red) mengatakan dia akan berkoordinasi dengan Kepala Bandara Frans Seda soal kesiapan fisik maupun sumber daya yang dimiliki Unit Pengelola Bandara Udara  (UPBU) Kelas II Maumere itu menyambut penerbangan malam. Koordinasi juga akan dilakukan dengan pihak kementerian perhubungan juga anggota DPR RI asal NTT yang membidangi urusan perhubungan dan infrastrkutur. (tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *