Panggil “Dugong” di Alor Jadi Tontonan dan Atraksi Wisata Termahal di Dunia

Prosesi Menonton Atraksi Dugong dalam Festival Panggil Ikan Dugong di Alor, Jumad (19/7). Foto : Istimewa

Geliat Pariwisata di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur  kian seksi. Pesona alam, bahari, tradisi budaya dan corak kehidupan masyarakatnya selalu jadi magnet yang menggoda siapa saja untuk beranjangsana.

Alor menjadi salah satu destinasi wisata Kepulauan yang eksotis dan  cocok bagi para petualang karena karakteristik dan daya tarik wisatanya. Keindahan taman laut dengan ragam biota lautnya menjadikan taman laut Alor sebagai magnet yang diburu para penikmat wisata bawah laut.

Ada 18 titik selam yang dikenal dengan “Baruna Dive Site” di Alor berkategori terbaik di dunia menurut beberapa penyelam internasional.

Berada di Alor, Anda juga dapat melihat Al’guran tua dari kulit kayu yang usianya sudah lebih dari 800 tahun; ada suku Takpala yang keseharian hidupnya masih menyatu dengan alam.

Tidak hanya itu,  pulau yang dijuluki Nusa Kenari itu juga menyimpan Moko dan sejumlah barang kuno. “Moko” sejennis nekara yang terbuat dari Perunggu  dan memiliki nilai historis tinggi. Moko berukuran raksasa dari Dongson Vietnam kini tersimpan di museum Seribu Moko di Kota Kalabahi. Karena unik dan bernilai tinggi, Moko juga menjadi mas kawin bagi sebagian besar masyarakat Alor

Selain kampung adat Takpala dan beberapa rumah adat suku setempat, ada juga aneka potensi alam, wisata minat khusus dan lokus agrowisata yang bisa ada jumpai di pulau ini.

Menjangkau kota Kalabahi Alor kini sangat mudah lewat udara maupun laut baik dari Kupang, Flores Timur, Lembata ataupun juga dari Atapupu perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Askes penerbangan dengan pesawat dari Kupang-Kalabahi, Denpasar-Kalabahi dan rute kapal dari Kupang, Larantuka, Atapupu hingga Dili Timor Leste bisa menjangkau Alor dengan intensitas tinggi.

Dugong, salah satu mamalia laut yang nampak jinak beratraksi di perairan Pulau Sikka dan Pantai Mali, Kalabahi, Alor. Foto : Istimewa

Mahal, Bercengkrama Dengan Dugong

Nah selain pesona wisata yang ada, kini muncul lagi salah satu magnet wisata baru yang bikin cengang ketika Anda berada di Alor. Ada Dugong, sejenis mamalia laut menyerupai duyung yang begitu jinak dan dapat diajak bercengrama dengan wisatawan. Oleh pawangnya Onesimus Laa , sang Dugong ini bisa diajak menepi ke bibir dan beratraksi sekehendak hati pawangnya

Daya tarik wisata baru ini menjadi viral dan mengangkat citra pariwisata kabupaten Alor dalam beberapa tahun terakhir. Banyak  wisatawan yang memutuskan untuk datang ke Alor dan menyaksikan atraksi ini selain menikmati alam bawah laut perairan Alor yang begitu indah

Lokasi yang biasa menjadi tempat pertemuan Dugong dan Onesimus adalah di kawasan pantai Mali dan perairan pulau Sikka yang letaknya tak jauh dari Bandar Udara Mali Alor. Anda hanya butuh waktu 10 menit dari bandara untuk bisa menyaksikan atraaski unik ini setelah menumpang perahu yang disiapkan.

Merespon magnet wisata baru menghipnotis wisatawan ini maka pemerintah Kabupaten Alor dan Pemerintah propinsi NTT menggelar festival yang dinamai “Festival Panggil Ikan Dugong”. Festival ini digelar paqda tanggal 19-21 Juli 2019 yang berlangsung diwilayah setempat.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan jajaran pemerintah propinsi NTT dan kabupaten Alor hadir dalam Festival Panggil Ikan Dugong tahun ini. Viktor berharap festival tersebut menjadi ajang untuk terus memperkenalkan Alor ke pentas internasional

“Kita akan terkenal karena ada cerita. Festival Panggil Ikan Dugong ini adalah tradisi yang ada dan menjadi kekayaan yang kita miliki. Ini harus menjadi daya tarik internasional,” demikian kata Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat pada acara Festival Panggil Ikan Dugong yang diadakan di Pantai Wisata Mali Kabupaten Alor pada, Jumat 19/7/2019.

Viktor menjelaskan Festival panggil ikan dugong ini harus dikemas dengan lebih baik lagi sehingga mendatangkan lebih banyak turis. Dikatakan urusan pariwisata akan menjadi lebih maju dan populer kalau destinasi tersebut mengemas semua pontensi itu menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi.

“Maka dari itu masyarakat diharapkan agar mampu memproduksi hasil olahan dari alam sekitar agar dapat meningkatkan nilai ekonomi dan dapat dipasarkan juga disini,” Pinta Gubernur.

Gubernur Viktor juga menyampaikan apresiasinya kepada Bapak Onesimus Laa atas kemampuannya untuk memanggil Ikan Dugong salah satu spesies laut yang dilindungi serta belum banyak mendapat perhatian masyarakat.

“Kita harus bangga memiliki orang seperti dia. Dia sangat berperan disini. Terima kasih Bapak Onesimus Laa”, tambahnya.

Pada kesempatan yang sama Bupati Alor juga menyampaikan apresiasinya kepada Gubernur beserta rombongan yang sudah hadir dalam acara tersebut.

“Biar masyarakat Alor dikatakan miskin harta tetapi tidak miskin harga diri dan kepercayaan diri. Kami ada disini lewat budaya dan tradisi kami,” kata Amon Djobo.

Sementara itu Ir. I Wayan Darmawa, MT, Kadis Pariwisata Provinsi NTT dalam laporannya mengatakan, Kabupaten Alor memiliki lima potensi wisata diantaranya Wisata Taman Laut, Diving dan Snorkling, Pancing Mania, Wisata Budaya Takpala dan Bampalola.

Kehadiran Gubernur beserta rombongan disambut dengan persembahan dua lagu, kami ucapkan selamat datang dan Tanah Air, oleh siswa siswi SD Gmit Pulelang, tarian caka lele dan lego lego dari sanggar Eheng hulu yang artinya beringin berlukis/bersejarah dari suku kabola.

Selain rombongan gubernur, turut hadir dalam acara tersebut diantaranya Wakil Danrem 7 Kupang, para Forkopimda Kabupaten Alor, para kepala OPD provinsi NTT dan Kabupaten Alor, Putri Pariwisata Kabupaten Alor, Pimpinan BUMN dan BUMD Tingkat Provinsi dan Kabupaten Alor .

Walter Datemoli,SE

Terjadwal dan Jadi Tontonan Mahal

Anggota DPRD Kabupaten Alor, Walter Datemoli secara terpisah mengatakan kekayaan wisata Alor berupa Dugong harus dikemas jadi daya tarik dan atraksi wisata yang paling mahal bagi wisatawan. Tidak semua orang bisa melihat barang itu dan tidak setiap hari juga orang harus diajak melihat barang itu.

Walter mengatakan Om Ones selaku pawang Dugong harusnya bisa menentukan waktu terbaik untuk saksikan atraksi itu. Katakanlah sepekan hanya bisa nonton sekali atau sebulan bisa nonton dua kali. Hal ini dilakukan dalam kerangka meningkatkan konservasi terhadap segala jenis satwa langkah yang ada di Alor.

Selain itu dengan pemberlakuan waktu yang tidak bebas maka bisa juga meningkatkan perekonomian warga orang Alor karena lama tinggal wisatawan bisa diperpanjang di Alor sambil menunggu agenda “nonton atraksi dugong itu” tiba,” ujar Anggota Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Alor ini.

Baginya, menonton bahkan menyentuh satwa alngkah itu menjadi kekuatan alam dan kehebatan orang Alor. Kekuaatan alam ini tidak bisa dipaksa sesuai salera wisatawan. Saya harapkan mamalia langka Dugong tidak menjadi tontonan murah tetap harus jadi tontonan mahal dengan agenda yang diskenariokan terbatas. Ini penting agar barang langkah ini jangan diganggu habitatnya setiap waktu,” pungkasnya. (sp/humas)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *