Berharap MOKE Legend of Maumere Menjadi Oleh- Oleh Bagi Wisatawan Mancanegara

Moat Stefanus dengan racikan terbaik Moke Legend of Maumere. foto : Istimewa

Moke, Legend of  Maumere.  Itulah sebuah brand baru inovasi dari minuman tradisional Moke yang kini lagi populer di kalangan masyarakat dan penikmat “wine” khas Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Oleh Stevanus Thomas seorang pemuda kreatif di Maumere, minuman beralkohol jenis Moke ini mulai diperkenalkan secara profesional kepada publik setelah dilakukan proses pengolahan yang lebih sistemik, higienis serta diberi sentuhan teknologi khusus.

Selain cita rasa khas dengan kadar alkohol yang setara, Stevanus mengemas produk miras lokal khas kabupaten Sikka ini dengan memberi sentuhan lebih dari sisi packing (botol pilihan, label dan design cover) sehingga nampak lebih elegan, berkarakter lokal namun bisa menjangkau pasar nasional dan internasional.

Langkah ini dilakukan dalam rangka mendukung program pemberdayaan masyarakat di Kampung Teteng, Desa Watugong Kecamatan Alok Timur, Maumere Kabupaten Sikka, Flores Nusa Tenggara Timur.

Kemasaan Terbaru MOKE yang siap dipasarkan luas. Foto : istimewa

Sebagaimana diketahui, Moke merupakan sejenis miras (minuman keras) beralkohol yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Bagi warga lokal, moke juga dikonsumsi luas bahkan menjadi satu unsur penting dalam berbagai ritual adat dan tradisi budaya sebagian besar masyarakat Maumere Kabupaten Sikka.

Hari ini, dengan aroma dan cita rasanya yang khas membuat Moke kian populer tidak hanya untuk kepentingan ritual adat lagi tetapi sebagai minuman dengan kadar alkohol tertentu yang terus diburu para penikmat minuman keras.

Tidak heran bagi beberapa kalangan, Moke kerap menjadi oleh-oleh khas dari Maumere untuk dibawa kemana- mana meski saat ini masih sembunyi-sembunyi dari pantauan aparat.

Melihat peluang pasar yang potensial tersebut beberapa seorang warga lokal Sikka, Stefanus mulai kreatif mengemas Moke menjadi produk unggulan baru yang memiliki standar alkohol, nyaman bagi konsumen dan tentunya menjadi oleh-oleh khas yang bisa dibawa siapapun termasuk wisatawan yang datang ke Maumere

“Awalnya dari keprihatinan saja. Kenapa moke ini dikonsumsi hanya dilingkup kita saja. Pake untuk adat dan seterusnya. Lalu untuk menjadi salah satu oleh-oleh khas Maumere itu tidak bisa. Saya akhirnya coba kembangkan produk ini dengan sedikit memberi nilai lebih dari sisi teknik pengolahan dan pakingnya,” ungkap Stevanus Thomas pemilik Moke Legend of Maumere saat ditemui Fortuna di Maumere, belum lama ini.

Dia menjelaskan niat untuk menghasilkan sebuah produk Moke yang sehat dan berdaya saing tidak terlepas dari bagaimana proses produksi dan sentuhan pengolahannya. Selanjutnya baru mempromosikan Moke sebagai sebuah produk unggulan lokal itu hingga berdaya saing nasional bahkan internasional.

Kemasan MOKE Bernuansa Lokal. Foto : Istimewa

Pohon Kehidupan dan Brand Baru

Penggunaan brand Moke Legend of Maumere kata Stevanus dimotivasi oleh sebuah semangat agar produk Moke yang dihasilkannya terkenang sepanjang masa. Pohon Lontar dan Moke secara filosofis adalah pohon kehidupan. Pohon yang yang bercerita tentang identias orang Maumere.

Cerita tentang moke, asal usul dan filosofisnya mulai dari proses pengambilan dari pohon lontar menjadi nira lalu diolah secara tradisional itu sudah ada sejak dahulu kala. Unik dan memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi hidup orang Maumere. Moke berkisah tentang orang Maumere yang bisa mempertahankan hidup dan bahkan bisa menyekolahkan anak dan “jadi orang” karena-nya

Oleh karena itu Moke harus terus melegenda; moke tidak boleh hanya memambukan tetapi juga harus jadi legenda yang bercerita tentang orang maumere, tentang ekonomi maumere dan tentang orang-orang Maumere juga yang sukses karenanya.

Itulah alasan mengapa  kemudian Moat Stevanus Thomas muncul dengan Moke; Legend of Maumere. Karya dan inovasinya harus terus melegenda dan dikenang sebagai produk unggulan khas Maumere. Dia berkomitmen menggairahkan industri rumah tangga ini hingga menembus pasar dunia

Bangkitkan Semangat Warga Lokal

Berpusat di kampung Brai Teteng, Stevanus dan keluarganya mencoba mengembangkan usaha ini. Dari sebelumnya diolah secara tradisional oleh masyarakat menjadi sebuah produk industri kecil. Dia bekerjasama dengan warga atau petani moke setempat untuk mengolahnya lagi menjadi produk yang diolah secara manual tradisional menjadi industri rumah tangga dengan memberi sedikit sentuhan teknologi terutama dari sisi peralatan dan media pengolahannya.

Kumbang, Tempat paling awet untuk penyimapan MOKE sebelum diolah. Foto : Istimewa

Terkait bahan baku dan teknik pengolahannya, Stevanus menjelaskan bahwa dia membeli langsung moke yang sudah jadi dari masyarakat dengan kadar alkohol kurang lebih 20%. Kemudian untuk mengubahnya menjadi anggur, moke tersebut diracik dengan gula dan berbagai jenis rempah. Racikan itu bisa menghasilkan aroma yang awalnya menyengat bisa berubah menjadi segar. Warnanya juga berubah jadi sedikit merah maron.  Anggur Moke yag tadinya kadar alkoholnya dari 20% bisa turun menjadi 5 sampai 10%.

Proses penyulingan dan penakaran kadar alkoholnya bisa diatur dengan alat pengukur yang sudah ada sejenis gelas termometer. Penentuan kadar alkohol tergantung dari produsen. Misalnya bahan baku moke 10 liter dengan kadar alkohol kurang lebih 20% bisa disuling kembali untuk mendapatkan kadar alkohol 35%  dalam suhu 80 derajat celcius dan menghasilkan hanya 5 liter saja dari total 10 liter diawal.

Demikian halnya dengan peralatan yang ada bahan dasar moke tersebut juga bisa diproduksi dengan kadar alkohol bisa mencapai 75%  yang dapat digunakan untuk kepetingan alkohol medis seperti untuk mencuci tangan, membersihkan kuman, luka  bakar dls dengan kadar alkoholnya sampai dengan 75% yang tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.

Nah Stefanus sendiri memilih alat pemasakan khusus yang hanya bisa menampung 10 liter moke. Alat yang didatangkan dari China itu kemudian dimodifikasi lagi dengan sebuah media khusus berupa selang yang bisa digunakan untuk proses penyulingan.

Misalkan untuk anggur, selang modifikasi tersebut di lepas dengan proses pemasakan kurang lebih mencapai 1 jam, setelah itu di masukan di dalam kumbang yang sudah disediakan lalu dibiarkan kurang lebih mencapai satu minggu.

Moat Stevanus dengan alat produksinya. Foto : Istimewa

Soal aspek keamanan dan kenyamanan konsumsi, Stevanus mengatakan bahwa Moke Legend of Maumere sudah dilengkapi keterangan/peringatan dalam lebel setiap botol terkait ukuran dan kadar alkoholnya. Ada juga larangan bagi ibu hamil dan anak-anak di bawah umur.

“Kita ini kan setiap hari berurusan dengan alkohol, dan disini saya sudah terangkan dalam lebel berapa kadar alkoholnya dan di bawah umur 21 tahun serta ibu hamil dilarang minum.” terang Stevanus.

Peralatan Produksi yang digunakan. Foto : Istimewa

Oleh-Oleh Khas Maumere

Stevanus mengatakan bahwa, kota Maumere dan Flores sudah menjadi daerah tujuan wisata bahkan destinasi wisata favorit. Kota Maumere sendiri  memiliki bandara yang bagus dan menjadi pintu masuk ke Flores. Seharusnya daerah ini punya sesuatu yang bisa membuat orang ingat terus. Salah satunya ya moke,” gumam Stevanus.

Stevanus mengapresiasi dukungan dan kerjasama dari Pemerintah kabupaten Sikka dalam memajukan industri moke yang selama ini dijalankannya. Dia berharap melalui Dinas Perindustrisan dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Sikka dan juga Dinas Pariwisata bisa segera berkolaborasi untuk mendorong dan mengembangkan produk lokal ini jadi kebanggan daerah.

“Kalau urusan kerjasama nanti dengan Perindag Sikka karena saya sudah bawakan sampel dan Perindag siap membantu untuk mengadakan botol kemudian dos kemasan, alat penyulingan dan keranjang yang bisa ditenteng. Dan saya senang karena respon mereka ada” ungkap Pria Blasteran Maumere- Jawa ini optimis

Ada keyakinan kalau produk miras lokal Moke dengan cita rasanya yang sudah dikenal luas selama ini dikemas sebagai industri lokal yang profesional maka produk ini bisa berdaya saing dan menembus pasar nasional dan dunia. Sisi pengolahan didukung rantai produksi yang teratur, terukur volumenya, kemasan yang elegant dengan dukungan legalitas pemasarannya maka Moke Maumere bisa menjadi brand baru yang bisa setara dengan Shake Jepang dan apalagi Sophia yang baru mulai dikembangkan Pemerintah Propinsi NTT dan Undana Kupang.

Pertanyaannya, apakah ada lagi investor lokal yang mau melirik peluang ini dan menjadikan Moke Legend of Maumere sebagai sebuah industri produk unggulan lokal berdaya saing, aman, nyaman sehingga menjadi souvernier khas Maumere, Nusa Tenggara Timur bagi wisatawan domestik dan mancanegara? (Wilfrid/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *