Peer Gynts di Larantuka Tampilkan 5 Seniman Terbaik Asia dan 10 Seniman Lokal

Seniman Jepang, Takao Kawaguchi ft seniman lokal Flores Timur dalam aksi panggunya. Foto : Adiz Fortuna

Di tengah kebingungan masyarakat kota Larantuka Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, yang minim hiburan untuk mengisi waktu bermalam minggu, hadir sebuah pertunjukan teatrikal tepat di Jantung Kota Larantuka, persisnya di Taman Kota, kelurahan Pohon Sirih.

Kilauan Cahaya dari atas panggung, dan gelegar bunyi musik live band seakan mengundang rasa penasaran masyarakat untuk memadati area pertunjukan yang sengaja dibiarkan terbuka menyatu bersama alam tepi pantai Kota Larantuka.

Ya, ini sesuatu yang baru bagi indera Visual masyarakat Kota Larantuka, bagaimana tidak? Di atas panggung 11×6 meter yang didesain dengan level yang jauh berbeda dengan kebanyakan seni pertunjukan yang sering digelar di Kota Reinha, beraksi wajah-wajah asing dengan gerakan dan bahasa yang berbeda dari yang sering didengar di telinga mereka.

“Peer Gynts di Larantuka”, begitulah Tajuk untuk pertunjukan ini.

Project Inter-Asia hasil kerjasama antara Garasi Institut Jogjakarta, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kementrian Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia, Shuzuoka Peeforming Arts Center (SPAC) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur.

Seniman Micari ft Mama Vero dalam atrkasi panggungnya. Foto : Adiz Fortuna

Disutradari oleh Yudi Ahmad Tajudin (sutradara dan produser) dan Ugoran Prasad (dramaturg dan produser) dari Teater Garasi, dengan melibatkan 5 seniman ternama Asia dan 10 seniman lokal Flores Timur, pertunjukan yang digelar perdana di Kota Larantuka ini terbilang sukses penyelenggaraannya.

Kepada Media, Yudhi mengatakan, “Peer Gynts” digelar perdana di Larantuka karena ide ini didapatkannya di kota Larantuka pada tahun 2017, ketika itu ia berkunjung ke Nagi untuk urusan lain namun tetap berkaitan dengan program membangun interaksi dengan komunitas seni di luar Jawa, termasuk Flores Timur.

Untuk selanjutnya Peer Gynts juga akan di gelar di Jepang dan Sri Lanka dengan melibatkan seniman lokal di sana.

Istilah Peer Gynts sendiri merupakan sebuah tema perjalanan, terinspirasi dari naskah drama karya Hendrik Ibsen seniman ternama asal Norwegia, berjudul ‘Peer Gynt’ yang dibuat pada tahun 1867.

“Peer Gynts di Larantuka” menceritakan lebih kepada bagaimana perjalanan pengelana Asia ke Flores Timur, kemudian berjumpa dan bersinggungan dengan budaya-budaya masyarakat Flotim.

Seniman Eda Tukan dan Seniman asal Sri Langka Venuri Parera beradu peran. Foto : Adiz Fortuna

Bagi Yudhi, proyek kolaborasi ini lebih kepada pertemuan interaksi antara seniman dengan seniman bukan kerangka besarnya atau antara negara dengan negara.

Hadir pada pertunjukan malam itu, Bupati Flotim Anton Gege Hadjon, Sekda Flotim, Segenap pimpinan SKPD flotim, dimeriahkan juga oleh Sanggar Fanfare (Larantuka) dan Sanggar Leda Wato Lering (Solor Barat).

Eda Tukan, salah satu seniman Flotim mengaku, 2 minggu waktu persiapan terbilang sangat singkat namun cara Teater Garasi untuk mengajak berkolaborasi sangat memudahkan mereka karena dilatih secara berkelompok sampai matang kemudian digabungkan.

Nona Manis yang baru bergabung di dunia teater sejak tahun 2017 ini merasa bersyukur karena dikasih kesempatan bertemu dan belajar suatu hal yang luar biasa, dari orang-orang hebat (Teater Garasi dan Seniman Asia)

Musisi dari Sanggar Leda Wato Lering tampil memukau dalam Festival tersebut. Foto : Adiz Fortuna

Baginya, terbuka dan rendah hati serta mau menerima kritikan merupakan kunci utama untuk menyatukan perbedaan.

Dari “Peer Gynts di Larantuka” ini juga, Eda yg mewakili seniman flotim mengaku memetik banyak pelajaran tentang fasilitas teknis pertunjukan teater, mulai dari settingan panggung, pencahayaan, audio dan lain sebagainya,

Bupati Flores Timur Anton gege Hadjon poses bersama Seniman Jepang, Mucari. Foto : Istimewa

“Flotim Perlu peningkatan kapasitas teknis instrumen pendukung sebuah pertunjukan seperti ini, butuh ruang, kesempatan dan peluang untuk belajar hal-hal teknis, terlepas dari belajar seni perannya sendiri”, Karena seni pertunjukan teater adalah seni yang kompleks, merupakan gabungan dari berbagai disiplin seni.

Harapannya kepada pemerintah untuk lebih ada ruang dan peluang atau lebih memfasilitasi.

Eda juga mengajak masyarakat flotim khususnya orang muda ,  untuk mau memulai bukan menunggu, kemudian pemerintah akan melihat dan memfasilitasi.

Bagaikan Gayung Bersambut, Harapan Nona Eda tersebut mendapat respon baik dari Bupati Flotim. Kepada Fortuna, Anton Hadjon mengatakan akan mempertimbangkan untuk menggelar festival khusus seni teater untuk memberikan ruang dan peluang bagi setiap sanggar yang tersebar di wilayah Flotim. Bupati muda ini juga sangat mengapresiasi hasil kerja keras seniman lokal untuk berkolaborasi dengan Teater Garasi dan Seniman-seniman kelas dunia lainnya.

“Jadi ini proses pembelajaran yang luar biasa bagi seniman-seniman Flotim dan juga masyarakat Flotim untuk mau lebih banyak belajar lagi dengan begitu akan menumbuh rasa percaya diri untuk mengangkat budaya Flotim ke level yang lebih tinggi”, tutupnya. (Adiz/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *