Soal Festival Kelabba Madja : Kurang Ya, Tetapi Nekad Itu Perlu Juga

Coretan Fidelis N. Nogor – Pegiat Pariwisata

Bersama Bung Ever, warga setempat yang bertugas merawat dan menjaga Objek Wisata Kelabba Madja,  di Kabupaten Sabu Raijua. Foto diambil Nopember 2018

Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur segera menggelar Festival Kelabba Madja pada tanggal 9 -12 September 2019. Sebagaimana perencanaan awal, event ini harusnya dihelat pada tanggal 9-12 Juli 2019 namun karena mempertimbangkan faktor cuaca dan kondisi perairan menuju Sabu Raijua yang biasanya bergejolak pada setiap bulan Juli dan dikuatirkan berdampak pada ketiadaan akses perhubungan laut ke Sabu Raijua maka kegiatan itu diundur ke bulan September pada tanggal yang sama.

Keputusan penundaaan pelaksanaan kegiatan ini diambil Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke dan pihak terkait dalam sebuah Rapat Koordinasi di ruang kerjanya belum lama ini. Satu alasan penundaan kegiatan tersebut menurut Bupati Rihi Heke karena bulan Juli dipercayai orang Sabu sebagai “bulan keramat” karena ditandai dengan gelombang laut yang besar dan tidak ada armada atau kapal yang bisa sandar di pelabuhan Seba maupun di Sabu Timur.

Heboh langsung. Perguncingan kian seru—perang gagasan dan adu argumen ramai di medsos (Facebook). Postingan berita terkait penundaan kegiatan dilaman https://fortunaexplore.com pada Minggu, 26 Mei 2019 Petang dengan judul “Sulitnya Akses Laut ke Sabu, Festival Kelabba Madja Diundur ke Bulan September” yang diunggah ke akunnya komunitas Sabu Raijua “ KELARADUI “ sontak mendapat tanggapan beragam. Banyak orang yang setuju dan mendukung pagelaran event pariwisata akbar untuk pertama kali itu tetapi banyak juga facebookers yang menolak, pesimis dan bahkan yakin kalau event itu tidak dipersiapkan dengan matang dan melibatkan masyarakat luas maka bisa saja gagal terlaksana.

“Harusnya dr awal perencanaan semua aspek sudah diperhitungkan…bukan asal buat saja. Mulai dari transportasi..penginapan..kuliner dan juga masyrakatnya dll siap tidak??? Sayang kan orang sudah prepare utk kesana? Akhirnya malah blunder,” tulis akun Erlyn Kupa New dalam komentarnya.

Alasan mereka yang menolak umumnya disimpulkan yakni karena mereka menilai bahwa Sabu Raijua belum siap menggelar event bergengsi itu. Sabu masih terbatas dari semua sisi. Fasilitas hotel, restoran serta infrastruktur dasar semisal jalan jembatan air bersih MCK, listrik dan jaringan telekomunikasi khusus dari dan menuju Destinasi Wisata Kelabba Madja belum memadai.

Alasan lain dari penolakan juga karena mereka menilai kalau Pemda masih bekerja sendiri dan belum melibatkan warga pemilik lahan dan masyarakat disekitar kawasan Kelabba Madja. Padahal untuk menyukseskan kegiatan itu partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan. Untuk apa menggelar event kalau masyarakat setempat tidak mendapat manfaat langsung dari pagelaran event itu.

Alasan-alasan yang disampaikan sesama sahabat dan pemerhati pariwisata ini tentu benar karena orang NTT termasuk di kabupaten Sabu Raijua punya tata krama, budaya dan etika yang ramah dan santun dalam menyambut tamu. Kita adalah “orang-orang perasa” yang akan sangat malu kalau meninggalkan kesan kurang nyaman apalagi buruk, terbatas dan “nampak miskin” dihadapan tamu kita.

Bagi orang NTT, tamu yang terhormat harus disambut dengan baik dan sempurna. Meski berlebihan, kita bahkan akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan yang “bopeng-bopeng”. Dalam konteks asupan gizi keluarga misalnya, orang NTT biasanya piara atau beternak ayam tetapi lebih banyak ayam itu disembeli untuk menyambut tamu yang datang dan bukan untuk mensuplai gizi keluarga. Ironis bukan? Tapi inilah tradisi dan nilai yang mau kita tunjukan bahwa tata krama dan semangat menghargai tamu itu sangat mahal demi menjaga wibawa keluarga.

Benar bahwa dalam urusan kepariwisataan, aspek Amenitas, Atraksi, Akomodasi, Aksesibilitas dan Awareness kita harus penuhi. Meski demikian dalam hal pagelaran sebuah event di daerah, pandangan itu sejujurnya belum benar 100%. Karena wisatawan cenderung punya cara pandang dan alasan yang berbeda untuk berkunjung ke sebuah destinasi wisata apalagi sebuah destinasi wisata yang baru namun punya nilai jual tinggi. Wisatawan petualang misalnya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyaksikan pesona itu meski dia harus bersusah payah dan membayar mahal.

Harus diakui, destinasi wisata Kelabba Madja yang dahulunya hanya seonggokan “hutan belukar tak bertuan” kini telah menghipnotis siapa saja untuk datang padanya. Pesona Kelabba Madja kini telah menyihir Indonesia dan membuka mata dunia. Dia telah didandani dan dipoles parasnya bagaikan gadis cantik yang siap dicumbui karena kemolekannya. Hutan belukar berduri (dipenuhi pohon duri, red) itu kini sudah menjadi spot ekonomi baru pendulang rupiah dan dolar.

Nah, Sabu Raijua sebagai sebuah daerah baru dengan akses transportasi yang belum memadai mestinya tidak untuk ditangisi. Membenahinya dari waktu ke waktu adalah syarat mutlaknya. Yang perlu kita perlu perkuat saat ini adalah dari sisi Magnet Wisatanya sambil terus membenahi daya dukung lain. Menggelar Event sekelas Festival Kelabba Madja juga menjadi salah satu solusi sekaligus pemicu strategis dalam menjawabi kegalauan akan keterbatasan-keterbatasan  ini.

Sebagai Pelaku Wisata yang sekian lama fokus di segmen Jurnalistik/Media, saya tentu mengajak temans sekalian di Sabu Raijua agar mulailah membangun pariwisata Sabu Raijua dengan segala keterbatasan yang ada.

Galau Hari Pers Nasional di Kupang

Pelitnya menggelar Festival Kelabba Madja mengingatkan saya akan Pagelaran Hari Pers Nasional di Kupang Februari 2011 kemarin. Saat itu tanpa hotel dan dukungan akomodasi yang sempurna di Kota Kupang, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya nekad menerima tawaran untuk menjadi Tuan Rumah Hari Pers Nasional di Kupang. Semua tokoh Pers, wartawan seantero nusantara bahkan dunia berbondong-bondong ke Kupang. Presiden SBY datang. Semua tamu undangan dari berbagai daerah termasuk tetamu asing berdesakan nginap dihotel-hotel, penginapan kecil, kos-kosan bahkan rumah warga. Satu teman juga sempat nginap dirumahku.

Kita tahu, hotel yang bagus di Kupang waktu itu hanya Hotel Kristal dan Hotel Sasando. Tetapi Gubernur Frans “Berani Menerima Tantangan” karena dia yakin dengan menampilkan diri apa adanya maka semua orang yang datang termasuk calon-calon investor bisa melihat langsung keterbatasan yang kita miliki dan kira-kira tawaran peluang bisnis apa yang bisa dilakukan dan dikembangkan di Kupang ,NTT. Gubernur Frans tentu yakin kalau eventnya masyarakat PERS Nasional itu adalah Peluang Kebangkitan NTT.

Benar, Frans galau saat itu. Terbatas secara akomodasi, Frans paham kalau sebagian orang datang saat itu pasti banyak yang mengeluh tentang NTT karena masih “miskin infrastruktur”. Meski nyatanya banyak dari mereka yang menikmati NTT apa adanya. Singkat cerita, HPN 2011 berakhir dengan meriah dan sukses. Semua pulang ke kota masing-masing dengan riang gembiara. Para wartawan seluruh Indonesiapun mulai mewartakan tentang Suksesnya Hari Pers di Kupang, NTT. Banyak yang menulis gambalang tentang Kupang dengan keterbatasan tetapi banyak pula yang memuji walau dengan keterbatasan namun suskes menggelar hajatan nasional untuk pertama kalinya.

Investasi

Oretan-oretan pena para pekerja media itu kemudian tersebar dan dibaca luas termasuk calon-calon investor. Banyak pengusaha tentu melihat bahwa keterbatasan yang ada adalah peluang untuk berinvestasi. Hasilnya apa yang kita lihat sekarang. Hotel tumbuh subur, mall dibangun dimana-mana, resto dan usaha kuliner penuh sesak di kota kupang. Itulah multiflier effect dari sebuah Event.

Dengan menggelar event sejujurnya kita sedang membangun sebuah jembatan untuk mendorong ruang investasi dan percepatan pembangunan lintas sektor di daerah. Orang Sabu Raijua Itu Petarung yang ramah. Orang Sabu itu telaten dan pekerja keras. Jadi orang Sabu Raijua tidak boleh pesimis apalagi dalam benaknya hanya yakin gagal menyelenggarakan sebuah event.

Benar Festival Kelabba Madja ini pasti tidak langsung membuat Sabu maju dalam sekejap. Tapi yakinlah lima atau sepuluh tahun mendatang pesimisme teman-teman akan terbayar lunas. Oleh karena itu Mari Dukunglah apapun eventnya dan siapapun penyelenggaranya. Buka diri dengan teman-teman profesional diluar Sabu Raijua untuk dukung bersama even itu dan sukseskan.

Bersiaplah menjadi tuan rumah yang baik dan apa adanya. Fokus pada potensi dan daya tarik wisata kita, kekuatan budaya, alam dan keramahtamahan masyarakat. Jagalah kebersihan lingkungan dan destinasi wisatanya.

Objek Wisata Kelabba Madja. Foto : Istimewa

Kelabba Madja Tanpa Beton dan Gedung Megah.

Kelabba Madja yang adalah destinasi wisata alam yang populer dan dinobatkan sebagai Surga Tersembunyi itu harus tetap alamiah. Natural. Tidak boleh dirusaki oleh beton-beton dan bangunan yang justru mengurangi daya tarik aslinya. Cukup siapkan satu atau dua fasilitas MCK yang standar dan itupun haruslah bangunan yang bernuansa lingkungan. Jangan beton-beton atau semenisasi.

Di lokasi wisata Kelabba Madja juga sudah perlu dibangun sebuah pos galery souvernier dan atau kuliner khas Sabu. Tidak usah mewah tetapi nyaman bagi pengunjung. Intinya semua sentuhan pembangunan di Objek Wisata Kelabba Madja diusahakan selaras dengan kondisi alam dan lingkungannya.

Membangun homestay disekitar kawasan wista Kelabba Madja juga menjadi sangat disarankan. Cara lain yakni Pemda dapat membantu menata rumah-rumah warga sekitar Kelabba Madja untuk disiapkan satu atau dua kamar bagi wisatawan dengan model kamar dan MCK yang standar. Masyarakat juga harus disosialisasikan etika dan tatacara menerima tamu yang santun dengan tidak menghilangkan tradisi budaya lokal.

Hal ini dikarenakan Kelabba Madja tidak hanya elok bentangan alamnya, tetapi juga indah karena pesona pantai dan lingkungan sekitarnya.

Soal akses jalan, pemerintah wajib membenahi sarana jalan menuju lokasi. Saat ini mungkin tidak harus di hotmiks tetapi cukup dilapen atau dirapikan saja sehingga memberi kesan nayaman dilalui kendaraan pengunjung.

Kritik Karena Kita

Kepada Sesama Ana Tana Generasi Muda Sabu Raijua sangat diapresiasi. Berbagai kritikan dan pikiran-pikiran konstruktif tentu dalam konteks untuk membangun daerah. Boleh berbeda pemikiran tetapi tetap dalam satu bingkai membangun Sabu Raijua dan terlebih dalam satu semangat bersama menyukseskan Festival akbar ini.

Tentu pandangan brilian teman-teman yang berdomisili di Sabu Raijua ataupun dimanapun berada sangat dibutuhkan. Tetapi yang paling penting  teman-teman harus menjadi bagian dari orang-orang muda Sabu Raijua yang satu tekad menyukseskan kegiatan dimaksud. Karena apapun alasannya, Sabu Raijua bisa bangkit pariwisatanya hanya melalui event dengan melibatkan media massa. Makin banyak event yang digelar dengan dukungan promosi yang masif maka Sabu akan maju, dikenal luas dan cita-cita akhir menjadikan Sabu Raijua sebagai daerah tujuan wisata unggulan bisa dicapai. (*

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *