Tengok Jejak Mamanya, Warga Belanda Ini Bilang Alor Lebih Menyenangkan dari Bali

Alex Nelemans, Warga Negara Belanda yang melakukan wisata sejarah ke Alor dalam rangka menggali rekam jejak Ibunya yang pernah ke Alor Jauh Sebelum zaman kemerdekaan RI. Foto : Istimewa

Pulau Alor memiliki magnet yang kuat untuk menarik minat wisatawan dari berbagai negara. Segmen pasar yang dibidik adalah wisata sejarah dan budaya. Bahkan sebelum Indonesia merdeka tahun 1945, sudah ada dua orang peneliti antropologi yang tertarik meneliti di Pulau Seribu Moko itu.

Kedua peneliti tersebut yakni Cora du Bois, Antropolog dari Amerika dan seorang antropolog Belanda Ny.V.Nelemans yang datang pada tahun 1938 hingga sebelum pecah Perang Dunia II, 1942. Cora Du Bois kemudian menulis buku yang terkenal dengan judul “The People of Alor”.

Ny. Nelemens saat itu menginjakan kaki di Alor  sebagai seorang gadis yang berpendidikan calon mahasiswa tingkat tinggi atau sekelas magister saat sekarang. Ia ingin meneliti tentang masalah hubungan antar masyarakat (antropologi). Dia sangat mengenal Alor dan menulisnya dalam sebuah buku yang kemudian dibaca oleh putranya yang bernama Alex Nelemans .

Tergerak oleh rasa ingin tahu akan masa lalu mamanya,  maka pada awal April 2019, Alex Nelemans mendatangi Alor. Ia nekad datang jauh-jauh dari Negeri Kincir Angin itu. Dia terbang dari negaranya ke Indonesia melalui Denpasar Bali selanjutnya ke Kupang dan menuju Bandara Mali Kalabahi. Sesaat setelah menikmati pesona wisata di Kota Kalabahi, Ia langsung “tancap gas” ke kampung Atengmelang, Desa Lembur Tengah, Kecamatan Alor Tengah Utara.

Alex Bersama Kontributor Fortuna Alor, Gabriel L. Tang. Foto : Istimewa

Benar bahwa selain untuk berwisata, kehadiran Alex di ALor sekaligus mengamati rekam jejak dan catatan sejarah kehidupan mamanya puluhan tahun silam di kampung tua itu. Sekitar 2 minggu di Alor Ia melihat dari dekat puing-piung bekas bangunan rumah Almarhumah ibunya.  Yang tersisa hanyalah fondasi (fenderen) dan rongsokan toilet moderen di zaman itu.

Waktunya yang pendek itupula dihabiskan Alex berinteraksi dengan beberapa orangtua dan sanak famili yang dulunya selalu bersama-sama mendiang ibunya.

Bersama anak- anak Alor di Kalabahi. Foto : Istimewa

Selama di kampung Atengmaleng, Alex mengisi waktunya untuk bercengkerama dengan warga desa sekitar. Alex nampak bahagia dan senang karena Ia bisa berada kembali dengan warga kampung Atengmelang yang yang masih polos dan familiar.

Kesempatan penuh kekeluargaan itu dimanfaatkan Alex bersama warga setempat menyepakati agar mereka sama-sama membangun kembali rumah bekas tempat tinggal ibunya dengan arsitektur Eropa tempo doeloe.

Opa Alex sangat menikmati keadaan Alor yang masih tradisional, alamiah, ramah dan menyenangkan.

Dalam bincang santai dengan Fortuna di Kalabahi belum lama ini, Ia mengungkapkan bahwa sejujurnya itu Alor lebih indah dari Bali.

Baginya, berada di Pulau Dewata Bali, Ia merasa seperti di Eropa karena terlalu banyak orang Benua Putih. Tapi di Alor ia bisa menikmati hidup apa adanya karena berbaur dengan masyarakat Indonesia suku Alor yang ramah dan suka menolong.

Komitmennya untuk membangun sebuah rumah atau situs kecil untuk mengenang napak tilas keberadaanya mamanya di Alor akan diwujudkan dalam beberapa waktu kedepan.

Bagi saya ini perjalanan paling mengesankan dalam hidup saya. Alor sangat indah dan saya berjanji untuk tahun depan kesini lagi,” ungkap Alex yg mengaku sebagai seorang pelaut dan Kapten Kapal Cargo, Seaman itu. (Aby/42na).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *