Ragam Budaya di Sumba Tengah dan Komitmen Pemimpin Baru

Megalitik Kampung adat Pasunga Sumba Tengah. Foto : kitadankota.files

Kabupaten Sumba Tengah merupakan sebuah Daerah Otonomi Baru (DOB) di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sumba Tengah resmi menjadi kabupaten definitif lepas dari induknya Kabupaten Sumba Barat sebagaimana amanat Undang – Undang Nomor 3 Tahun 2007 dengan Luas Wilayah 1. 868,74 km2. Daerah yang dipimpin Bupati Paulus S.K Limu dan Wakil Bupati Daniel Landa ini terbagi dalam 65 Desa yang tersebar di 5 (lima) wilayah kecamatan yakni Kecamatan Katiku Tana, Kecamatan Katiku Tana Selatan, Kecamatan Mamboru, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, dan Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat.

Dalam konteks percepatan pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan, pemerintah baru Kabupaten Sumba Tengah menaruh perhatian serius pada pengembangan sektor pariwisata dan kebudayaan. Kedua aspek ini tentu strategis karena pertama dari sisi potensi Sumba Tengah yang kaya akan wisata alam bahari juga destinasi wisata minat khusus yang layak dikembangkan. Demikian halnya urusan kebudayaan yang, tidak bisa dilepas pisahkan dari masyarakat Sumba Tengah. Budaya bahkan melekat dengan peradaban masyarakat Sumba umumnya. Generasi Sumba zaman now sekalipun masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi warisan nenek moyang.

Nah potensi pariwisata dan tradisi budaya yang sangat melekat dengan masyarakat ini mesti didata, dilindungi dan dipromosikan luas sehingga pada gilirannya, urusan wisata dan budaya tidak hanya dilestarikan tetapi bisa juga menjadi kekuatan ekonomi baru yang bisa mensejatherakan pemiliknya.

Parade Kuda Sumba Melintas didepan Pintu Kampung Adat Pasunga. Foto : Linda Fortuna

Benar bahwa aset terbesar yang dimiliki Kabupaten Sumba Tengah saat ini adalah budaya. Ada kekayaan megalitik dan kampung adat yang telah didata oleh Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumba Tengah pada awal tahun 2019. Semua kampung adat memiliki keunikan karakterisitik dan magnet wisata yang begitu besar. Sayangnya pesona ini masih perlu sentuhan serta pelestarianya. Ada kampung adat Deri Kambajawa, Praimarada, Praiwola, Anajiaka, Pasunga, Galubakul, Laitarung, Kabondok, Padabar, Maderi, Manua Kalada dan masih banyak lagi yang tersebar di lima kecamatan.

Kampung adat Buawa yang berada didesa Pondok misalnya, merupakan kampung tertua yang terkenal dengan TAU PAITA (manusia purba=orang – orang berbadan besar, tinggi, berbulu dan berambut panjang). Disini ada kuburan megalitik dan dibawah kampung terdapat air terjun, sungai, area persawahan, hutan dengan view yang sangat eksotis.

Selain unik, sebagian kampung adat di Sumba Tengah sangat mudah dijangkau karena terletak di pusat kota Waibakul. Banyak kubur batu – kubur batu atau megalitik raksasa yang berada persis di tengah–tengah pekarangan rumah warga. Sungguh indah, selain memberi untuk alasan pelestarian, kubur batu itu melengkapi khasanah budaya Sumba Tengah dan Waibakul sebagai kota megalitik.

Uniknya meski berada dipekarangan warga, sebagian kubur batu tersebut tidak diberi nama atau bahkan tidak ada nisan. Justru Anda hanya akan melihat dari bongkahan batu itu banyak ukiran berupa hewan-hewan penting dalam adat istiadat di Sumba Tengah misalnya kerbau, ayam, anjing dan buaya. Beberapa ornament batu kubur lainnya melambangkan barang – barang kuno yang digunakan dalam acara adat seperti Mamuli, Tombak dan Parang. Nah, kebanyakan kubur batu memiliki ruangan yang luas didalamnya dikarenakan beberapa orang yang masih bersaudara dikubur didalam lobang yang sama.

Rumah Adat Sumba. Foto : Istimewa

Ritual Adat dan Rumah Adat

Selain perkampung adatnya Kabupaten Sumba Tengah memiliki atraksi wisata budaya lainnya seperti ritual adat, kesenian daerah dan adat istiadat. Satu ritual adat yang sangat familiar dilakukan yakni Purung Ta Kadonga Ratu. Ritual ini berpusat di Kampung Adat Laitarung Kecamatan Katiku Tana yang diyakini oleh 12 suku besar. Ritual tersebut merupakan upacara pemberian korban sesajian kepada leluhur yang bertujuan untuk meminta berkat hujan sehingga tanaman padi tidak mengalami kekeringan, ritual ini diselenggarakan setiap bulan Juni.

Ritual Adat lainnya yakni Purung Ta Liang Marapu yang merupakan ritus budaya yang diselenggarakan setiap bulan Oktober berpusat di Kampung Deri Kambajawa Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat dengan pemujaan dan pemberian sesajian makanan dan kurban berupa ayam yang disampaikan kepada para leluhur mereka dengan tujuan mendapatkan berkat dan terhindar dari bencana.

Ada juga Ritual Adat Tauna Usu Manua yang digelar pada setiap bulan April di Kampung Adat Wawarongu Kecamatan Mamboro. Ritual itu bertujuan untuk membersihkan dosa– dosa; membersihkan wabah penyakit dan roh – roh jahat serta memohon agar diberikan hasil panen yang berlimpah.

Bupati Paul S.K.Limu dan Wakil Bupati Daniel Landa dalam sebuah prosesi adat. Foto : Istimewa

Bagi yang suka mencari ikan dilaut, masyarakat adat Sumba Tengah juga punya ritual yang namanya Hodu Tairi merupakan ritual adat marapu untuk memperoleh hasil panen ikan tairi yang banyak dan tidak terserang dari ikan hiu. Masyarakat Desa Waimanu persisnya warga kampung Padabbar Kecamatan Katiku Tana Selatan yang mendiami pesisir teluk lebih dikenal sebagai suku Tangairi, meyakini nenek moyang mereka berasal dari suku pesisir tanjung sasar.

Tangairi ini juga dianggap tempat keramat dan tidak ada orang luar yang bisa menetap disana kecuali keturunan aslinya. Ditempat ini akan ramai bila musim tairi (teri) tiba. Ratusan warga akan berbondong–bondong memanen tairi bersama warga setempat. Setiap orang diperkenankan untuk menangkap ikan tairi selama musim itu, tetapi dengan syarat tertentu yang harus dipatuhi, yakni tidak boleh berbuat jahat, mengucapkan kata-kata kotor, mencuri, membunuh, bermusuhan dan perbuatan jahat lainnya. Ritual ini dilaksanakan setiap tahun yakni pada bulan April, Agustus dan September.

Dalam Sebuah Momentum Pameran. Tampil juga OSA (Sumba Musik Ethnic) dan Souvernier Khas Sumba Tengah. Foto ; Doc.Fortuna

Seni Budaya Daerah

Dari sisi kekayaan seni budaya, Sumba Tengah juga tak ketinggalan. Ada seni tari, seni ukir batu kubur dan tiang rumah, seni suara, seni music dan sebagainya. Warisan seni tari dan musik tradisional Sumba Tengah selalu memberi kesan antusias, sigap dan sangat mengibur. Menariknya, hentakan penari sierama dengan musik gong dan tambur yang juga mengeskpresikan ketulusan dan semangat persaudaraan.

Satu tarian yang paling populer di Sumba Tengah yakini Tarian Kataga. Tarian ini sering ditampilkan untuk acara penyambutan tamu–tamu kehormatan tingkat lokal, regional maupun mancanegara. Syair syair lagu atau Wuruwenya selalu dinyanyikan oleh ibu ibu saat musim tanam tiba.

Demikian halnya dengan tatacara atau adat istiadat pada saat kematian atau Li Mati, adat kawin mawin atau Li Lawi Li Mangoma merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumba Tengah. Sesuai syair–syair adat yang dilantunkannya, mahar yang digunakan dalam adat kawin mawin Sumba Tengah tergolong cukup “Mahal” jika dirupiahkan berupa ternak kerbau, kuda, babi, kain, sarung, gading asli, mamuli mas dan sebagainya. Semua proses dan tahapan prosesinya membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran.Demikian halnya untuk upacara kematian yakni dilakukan pembantaian ternak kerbau pada saat penguburan.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Tengah melalui bidang Kebudayaan saat ini sudah mulai berbenah dalam upaya Pemajuan Kebudayaan dengan telah menyelesaikan Dokumen Pokok Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah sesuai perintah Undang – Undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan sebagai salah satu syarat pengembangan Kebudayaan di daerah yang disampaikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dalam upaya pengembangan budaya lewat komunitas kampung–kampung adat tersebut diharapkan juga nantinya mampu meningkatkan sumber daya manusia yang produktif melalui pembinaan dan pemberdayaan untuk ketrampilan kerajinan tenun, ikat, anyaman serta kerajinan lainnya yang mampu meningkatan daya darik wisata dan pendapatan warga kampung yang lebih baik.

Seorang Wisatawan Asing mencoba menunggang kuda di Waibakul. Foto : Doc.Fortuna

Pengembangan pariwisata berbasis budaya ini juga tentu searah dengan Visi Misi Pemerintah Baru kabupaten Sumba Tengah dibawah pimpinan Bupati Paulus S.K.Limu dan Wakil Bupati Daniel Landa yang ingin menjikan pariwisata sebagai sektor unggulan.  Konsep pengembangan yang ingin dikembangkan di Sumba Tengah adalah pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism). Dengan pola ini maka segala kekayaan budaya yang ada dan dimiliki masyarakat akan terus didata pemerintah, diberi perhatian, dilestarikan dan dipromosikan sehingga pada akhinya kekayaan budaya daerah ini bisa berkontribusi untuk meningkatakan pendapatan masyarakat setemapt. (Disusun oleh Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Tengah- Advertorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *