Harapan Pengusaha Travel Agent dan Tour Operator Akan Kebijakan Pemerintah Pasca Pemilu 2019

Oleh : Abed Frans – Ketua Asosiasi Perusahan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA NTT)

Pesta Demokrasi atau Pemilu Presiden maupun Dewan Perwakilan Rakyat, serta Dewan Perwakilan Daerah baru saja kita lalui dengan amam dan damai, dan tentunya kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaanNya kepada bangsa Indonesia hingga saat ini dan kita terus memohon penyertaan Nya untuk kedepannya. Kiranya siapapun Presiden terpilih mendapat penyertaan dan hikmat dari Tuhan YME dalam memimpin negeri tercinta ini.

Harus diakui bahwa dalam empat setengah tahun terakhir ini bidang Pariwisata sangat maju pesat dibandingkan dengan beberapa bidang-bidang yang lain di tanah air kita. Sebagai insan Pariwisata tentunya kita wajib mensyukuri hal tersebut karena dengan dibangunnya berbagai infrastruktur di daerah-daerah menyebabkan terbukanya destinasi-destinasi di daerah sehingga lebih mudah dikunjungi oleh para wisatawan.

Setiap destinasi pun seakan berlomba-lomba untuk terus meningkatkan kunjungan wisatawannya. Hal ini mengakibatkan Devisa Negara yang tumbuh subur mencapai 17,00 Milyar USD pada tahun 2018, meningkat dibanding tahun 2017 hanya sebesar 15,20 Milyar USD. Singkatnya industri Pariwisata sangat bangga dan berterima kasih kepada pemerintah atas kemajuan ini.

Namun demikian, akhir-akhir ini industri Pariwisata Nasional seakan lesu, ada penurunan kunjungan wisatawan yang cukup signifikan, khusunya wisatawan domestik. Labuan Bajo sebagai destinasi unggulan NTT bahkan diperkirakan turun sampai lebih dari 30%. Memang sangat aneh, karena ditengah suasana yang tadinya sangat ideal bagi banyak wisatawan untuk berwisata, tetapi secara tiba-tiba menjadi turun drastis juga.

Bukan hanya itu saja, beberapa Travel Agent (khusus Ticketing) banyak yang justru “Gulung Tikar”, Mengapa demikian? Ada beberapa factor yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

Lesunya Usaha Travel Agent,

Banyaknya Travel Agent (TA) yang “Gulung Tikar” lebih disebabkan oleh faktor Strategi Bisnis dari para Airlines dan Persaingan antara Travel Agent Konvensional dan Travel Agent Digital. Untuk diketahui juga bahwa hampir semua airlines saat ini berangsur-angsur semakin mengurangi porsi komisi yang diberikan kepada para Travel Agent konvensional.

Bahkan saat ini ada Travel Agent konvensional yang hanya menerima komisi sebesar Rp, 10.000 (Sepuluh ribu rupiah) untuk satu rute tertentu. Hal ini diperparah lagi dengan kondisi dimana para Travel Agent konvensional semakin terjepit diterjang gelombang Digitalisasi yang benar-benar digunakan dengan baik oleh beberapa pemain dengan modal besar dengan system Online Travel Agent (OTA).

Ratusan Wisatawan ketika berkunjung ke Flores Timur, Februari 2017. Foto : Doc. Fortuna

Sebenarnya hal ini tidak ada yang salah karena sudah merupakan bagian dari perkembangan globalisasi, termasuk digitalisasi dalam bidang reservasi atau pemesanan dalamnya. Disini kita minta alangkah baiknya Pemerintah bisa menata regulasi yang tepat sehingga digitalisasi tersebut tidak serta merta mematikan usaha Tavel Agent kecil. Tanpa disadari hal ini berpotensi meningkatakan pengangguran di daerah akibat dari “mati” nya Travel Agent konvensional karena tergilas oleh Online Travel Agent (OTA) yang serba digital.

Memang dengan adanya Online Travel Agent saat ini harus diakui dapat mempermudah orang untuk melakukan pemesanan banyak barang, termasuk tiket maupun hotel secara cepat dan instan. Akan tetapi perlu juga digaris bawahi bahwa hasil yang didapatkan oleh Perusahaan OTA tersebut tidak berdampak pada iklim investasi di daerah. Demikian halnya hasil dari belanja pengguna OTA tersebut pun tidak masuk ke kas Daerah melalui pajak daerah ebagaimana kewajiban Perusahan yang berdomisili di daerah.

Memang masalah ini dilematis namun diperlukan kearifan dari Pemerintah Daerah dalam mengeluarkan regulasi yang dapat melindungi para pengusaha Travel Agent Konvensional di daerah supaya tidak gulung tikar. Disisi lain dapat dipacu agar mereka dapat meningkatkan mutu pelayanan bagi para konsumen. Travel Agent Konvensional juga dituntut untuk berbuat lebih banyak lagi disamping menjual tiket semata.

Satu solusi terbaik bagi TA untuk terus eksis adalah pengusaha Travel Agent bisa berperan sebagai Tour Operator. Masih banyak daerah khususnya di NTT ini yang membutuhkan Tour Operator untuk dapat lebih mempromosikan destinasi-destinasi dan menjual paket wisata dari dan ke propinsi NTT.

Dampak Bagi Tour Operator

Pantauan terhadap trend usaha jasa Tour Operator akhir-akhir inipun tidak berjalan mulus. Mereka sedang menghadapi beberapa kendala yang berakibat pada turunnya kunjungan wisatawan, antara lain

Pertama, Bencana Alam. Kejadian bencana alam yang terus menerus melilit banysa ini menjadi salah satu pemicu menurunnya tingkat kunjungan wisatawan ke Indonesia. Tentu tidak bisa mempersalahkan siapapun tatapi hanya dengan bermohon kepada sang pencipta  sehingga bumi dan alam semesta ini dilindungi.

Kedua, Naiknya Harga Tiket Pesawat. Salah satu pemicu terhadap berkurannya kunjungan wisatawan adalah naiknya harga tiket penerbangan domestik yang cukup tinggi, secara tiba-tiba entah apa penyebabnya. Hal ini tentu saja membuat masyarakat, khususnya masyarakat dari golongan ekonomi menengah ke bawah yang tadinya bisa berwisata dengan menggunakan transportasi pesawat udara dengan harga yang terjangkau, praktis tidak bisa lagi melakukan hal itu.

Dampak ikutannya adalah industry Pariwisata (Tour Operator, Hotel, Restaurant, Guide, Transportasi, Kerajinan masyarakat) juga menerima tumpahannya. Sebagai contoh Labuan bajo yang selama ini menjadi Destinasi utama di NTT hanya bisa dikunjungi wisatawan kelas menengah keatas atau dari perusahan-perusahan cukup besar saja yang masih bisa berwisata ke tempat ini. Kunjungan wisatawan lokal dari kalangan anak muda milenial ataupun backpacker saat ini terpantau sangat kecil.

Singkat kata kenaikan harga tiket ini sangat mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan domestik. Dalam berbagai diskusi muncul pertanyaan; mengapa kenaikan harga tiket pesawat ini hanya terjadi di Indonesia? Atau Mengapa tiket penerbangan dari Aceh ke Jakarta melalui Kuala lumpur lebih murah ketimbang penerbangan langsung Aceh-Jakarta?

Inilah alasan mengapa banyak wisatawan domestik akhirnya memutuskan untuk berwisata ke luar negeri daripada ke dalam negeri sendiri yang biaya perjalanannya justru lebih mahal ketimbang biaya perjalanan ke luar negeri.

Keadaan ini tentunya sangat bertolak belakang dengan semangat membangun destinasi daerah dan event-event promosi daerah yang sering kita lakukan baik secara nasional maupun secara internasional. Harus diingat bahwa sekencang apapun kita mempromosikan daerah tetapi apabila tidak ditunjang dengan harga tiket penerbangan yang terjangkau ke destinasi tersebut maka sulit untuk mengharapkan kunjungan ke daerah tersebut, khususnya dari wisatawan domestik.

Kita sangat mengharapkan kepada Pemerintah khususnya pada kabinet yang baru agar dapat sesegera mungkin untuk mengupayakan harga tiket domestik ini dapat kembali normal seperti sediakala

Ketiga, Isu-Isu Menjelang dan Pasca Pemilu. Harus diakui bahwa cukup banyak calon wisatawan yang masih khawatir dengan kestabilan keamanan di tanah air, khususnya menjelang hari-hari raya keagamaan atau Pemilu. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya terjadi postphone atau Penundaan Perjalanan wisata yang telah mereka rencanakan sampai pada selesainya Pemilu pada beberapa Tour Operator di NTT.

Membludaknya Wisatawan ke RoteNdao, September 2013. Foto : Fortuna

Untuk itu kita sangat mengharapkan juga agar ke depannya Pemerintah dapat betul-betul memberi jaminan keamanan pada situasi apapun. Faktor keamanan tentu merupakan salah satu faktor penting pada promosi destinasi. Tanpa adanya jaminan keamanan sangat sulit untuk mengharapkan kunjungan wisatawan, baik itu wisatawan nusantara sendiri, maupun wisatawan dari manca Negara. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *