Fashion Show dan Tarian Kontemporer Ramaikan Festival Tenun Ikat Lamaholot

Parade Fashion Tenun Ikat Lamaholot 2019 di Taman Kota Larantuka, Rabu (23/4). Foto : Fortuna Adiz

Tenun ikat NTT memang mempesona, terlebih lagi jika dikenakan oleh wanita anggun nan cantik. Ya begitulah kesan sebagian besar penikmat seni khususnya “mata lelaki”  yang menyasikan kegiatan Festival Tenun Ikat Lamaholot pada Rabu, 23  April 2019.

Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka Flores Timur  malam itu serasa berbeda dari biasanya, lebih heboh dan meriah. Apalagi masyarakat kota Larantuka yang jarang menikmati hiburan layaknya kota-kota besar di tanah air.

Mereka semua terpesona. Ada decak kagum dengan suguhan eksotis wanita cantik dalam balutan busana tradisional Flores Timur di atas panggung.

Parade Fashion Tenun Ikat. Foto : Fortuna Adiz

Usai seremonial pembukaan Festival Tenun Ikat Lamaholot ole Bupati Flores Timur Anton Hadjon, semua mata langsung tertuju ke pentas lantaran ada pemandangan yang menyegarkan mata. Ada 16 gadis cantik finalis Oa Pariwisata Flotim 2018 berlenggak lenggok di chatwalk memperagakan busana tenun ikat karya designer Beatriks Tukan.

Adapun busana yang ditampilkan peserta Festival Tenun Ikat malam itu mewakili 9 etnis tenun ikat di Kabupaten Flores Timur.

Tika Duran, salah satu model peraga malam itu kepada fortuna mengaku bangga mengenakan busana tradisional.

Tika terlihat sangat anggun mengenakan busana tenunan dari etnis Solor. Design yang sempurna dipadukan dengan postur tubuh Tika yang tinggi semampai membuatnya cukup menjadi pusat perhatian bagi para penonton.

Tidak hanya Fashion Show, satu lagi atraksi yang sempat menghipnotis mata penonton malam itu yakni tarian kontemporer. Teriakan khas dipandukan dengan liukan tubuh indah dipentaskan secara solo oleh seorang penari profesional asli Larantuka.

Trifosa nama gadis itu. Ia berdomisili di Jogja sejak tahun 2006. Di sela-sela waktu liburannya, ia menyempatkan diri untuk tampil menghibur dan mengedukasi masyarakat terutama generasi muda Flores Timur. Sebelumnya single mom ini juga sempat tampil di Festival Nelayan Waibalun yang digelar sehari sebelumnya.

Kepada Fortuna Wanita berkulit eksotis ini mengatakan memiliki 2 sanggar seni di Jogyakarta, sanggar tari Melanesian dan sanggar tari Tide Art, Nama Tide Art sendiri diambil dari nama sapaan sehari-harinya disana.

Tide, Seorang Penari Kontemporer dalam Festival Nelayan di Waibalun- Foto : Fortuna Adiz

Tide sendiri mengaku bahwa dirinya sangat mencintai tenun ikat NTT, namun karena tidak bisa menenun, dia memutuskan untuk memperkenalkan tenun NTT melalui tariannya. Profesi sebagai penari profesional digelutinya sejak tahun 2008. Ia bahkan sering tampil mengkampanyekan Tenun Ikat NTT di event-event  akbar di Pulau Jawa.

Pagelaran Fashion Show Tenun Ikat Flores Timur itu disaksikan juga oleh Wakil Ketua III Bidang Kerjasama dan Hubungan Internasional Sekola Tinggi Pariwisata Bali Internasional, Drs. I Nyoman Urbanus, M.Si, Asisten III Bidang Administrasi Umum Propinsi NTT, Cosmas.D. Lana, S.H, M.Si, Wakil Bupati Flotim, Agustinus Payong Boli, SH, Sekda Flotim Paulus Igo Geroda dan Kadispar, Apolonia Corebima. (Adiz/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *