Puluhan Tahun Berkeliling NTT, Dua Bule Inggris Ini Minta Jaga Keaslian Tenun

David dan Sue di sela-sela menyaksikan Festival Tenun Ikat di Taman kota Larantuka,(23/4). Foto : Adiz Fortuna

Ratusan penenun lokal Flores Timur banjiri Taman Kota Larantuka, Selasa 23 April 2019. Mereka mewakili 9 etnis dari kecamatan-kecamatan di Flores Timur yakni Wulanggitang,  Ilebura, Titehena, Lewolema, Ile Mandiri, Demon Pagong, Larantuka, Solor dan Adonara.

Setiap etnis mengirim sekitar 50 orang penenun. Seraya membawa perlengkapan menenun masing-masing, mereka duduk berjejer sambil beratraksi sepanjang kurang lebih 500 meter di Taman Kota Felix Fernandez Larantuka.

Masih dalam rangkaian Festival Bale Nagi, Festival Tenun Ikat Lamaholot Flores Timur yang digelar sore hingga malam hari itu sukses mencuri perhatian dari masyarakat setempat, pengunjung dari luar kota bahkan dari luar negeri. Sejak sore hari, lokasi event sudah dipenuhi pengunjung yang datang dari berbagai daerah, kalangan dan usia.

Bupati Anton Hadjon dan Asisten III Setda Propinsi NTT Cosmas Lana meninjau Atraksi Tenun di Taman Kota Larantuka, (23/4). Foto : Adiz Fortuna

Diantara kerumunan penonton ada David Richardson dan Sue Richardson, dua wisatawan asal Inggris.  Mereka terlihat sedang asyik mengamati atraksi tenun dari etnis Wulanggitang. Keduanya mengaku sangat mencintai Tenun Ikat dari NTT. Saking cintanya mereka sudah dan sedang mempelajari prosesi tenun NTT yang nantinya ditulis dalam bentuk buku tentang tenun ikat NTT.

“We have been coming to NTT for 30 years, we love Tenun Ikat from NTT, It’s Beautiful, we are now studying and writing about the tenun ikat of NTT”, tutur Sue dengan semangat kepada fortuna.

Setiap tahunnya, mereka juga berlayar menggelilingi NTT untuk belajar dan memperkenalkan tenun ikat NTT kepada dunia.

“Every year we lead the tour on a small traditional Indonesian Phinisi, travelling from island to island on NTT with Americans, Europeans, Asians, Australians with small goal but introducing them to the weaving of these Island”, terang David.

David dan Sue berharap masyarakat dapat mempertahankan keaslian tenun itu sendiri, baik dari prosesi benang pintal maupun bahan pewarnanya. Hal ini kata mereka karena orang di seluruh dunia lebih cenderung mencari yang natural.

Hal lain yang disarankan untuk pemerintah setempat agar berkonsentrasi terhadap kondisi dunia yg sedang sekarat karena sampah, pemerintah diharapkan dapat membuat program edukasi agar masyarakat berhenti membuang sampah plastik, karena menurut mereka, sampah plastik telah menutupi sebagian besar pantai-pantai indah di dunia. (Adiz/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *