Silvester Kabelen Sebut Event, Partisipasi Masyarakat dan Media Strategis Dongkrak Promosi dan Pengembangan Pariwisata Daerah

Silvester Kabelen (Baju Pink) Pose Bersama Penari Gong Bitong di Desa Hewa, Wulanggitang, Flores Timur. Foto : Istimewa

Pagelaran event yang menggandeng masyarakat dan media massa dipandang strategis dan efektif dari sisi pemasaran dan pengembangan  sebuah destinasi pariwisata. Sebagus apapun program pemasaran pariwisata akan menjadi tak bernilai apabila tidak ada manusia yang terlibat dalam sebuah event serta tidak melibatkan media massa sebagai corong informasi.

Demikian dikatakan Silvester Kabelen, Kepala Bidang Pemasaran dan Kemitraan Dinas Pariwisata Kabupaten Flores Timur (Flotim) dalam penyusunan Laporan Proyek Perubahan Kegiatan Diklat Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III (PIM3) dalam diskusi santai dengan Fortuna di ruang kerjanya, Kamis (11/4) .

Adapun Laporan proyek perubahan yang disusun Silvester berjudul “Meningkatkan Promosi Pariwisata Dengan Mengembangkan Event Berbasis Masyarakat (Comunity Based On Tourism) di Kabupaten Flores Timur”.

Judul ini diambil karena, menurutnya, salah satu bentuk promosi Pariwisata yang efektif adalah melalui event yang diperkuat dukungan masyarakat dan media massa untuk publikasi.

“Tidak hanya ada peran media untuk mengangkat potensi wisata saja tapi bagaimana kita memviralkan potensi wisata itu juga melalui event dengan dukungan maksimal dari  masyrakat setempat” tutur Sil kepada Fortuna di Larantuka,  Kamis (11/4).

Baginya, dengan adanya event dapat menarik kunjungan wisatawan ke suatu objek wisata. Event juga bisa memberi dampak bagi peningkatan ekonomi masyarakat setempat selain merangsang antusias kelompok-kelompok sadar wisata.

Untuk itu saran dia, kedepannya desa yang memiliki potensi wisata bisa mensuport dengan anggaran desa dan diperkuat melalui Dana Alokasi Umum (DAU) maupun Dana Alokasi Khusus (DAK).

“Melalui event pariwisata berbasis masyarakat ini masyarakat setempat juga diajak untuk mengangkat dan mencintai serta melestarikan budayanya yang mungkin sudah hampir punah” terangnya”.

Silvester Kabelen Bersama Ibu Elvin dari Dispar dan Para Penari WEDE di Desa Pantai Oa Flores Timur. Foto : Istimewa

Studi Banding di Kota Surabaya

Nah, sesuai Hasil Banding (BenchMarking) to The Best Practice yang dilakukan Silvester di Kota Surabaya belum lama ini, ditemukana beberapa hal baru yang coba diambilnya menjadi bagian dari inovasi dan bagaimana mengadaptasinya di Flores Timur.

Adapun beberapa pertimbangannya yakni, pertama  Kota Surabaya tidak mempunyai potensi alam. Disana hanya ada wisata sejarah. Maka dari itu Surabaya mengembangkan Museum, setiap OPD memiliki museumnya masing-masing begitu juga di kampung wisatanya. Ibu Risma sebagai Walikota Surabaya bercita-cita menjadikan Surabaya sebagai Kota Seribu Museum, “ ujar Silvester.

Hal kedua, yakni untuk mendukung wisata sejarah itu, dikembangkan wisata kuliner dengan tema yang berbeda-beda disetiap penyelenggaraan event, seperti pada event terakhir; Rujak ulek dengan batu cobe yang beratnya 1,5 ton dan itu sangat efektif menarik kunjungan wisatawan.

Ketiga, Pemerintah Kota Surabaya memiliki sebuah forum baik untuk mitra maupun pengusaha. Rapat dan diskusi diadakan secara rutin, dan ada kesempatan berdiskusi bersama pimpinan dan walikota melalui acara Welcome Dinner. Sehingga pengusaha dan mitra dilibatkan langsung dalam pengembangan pariwisatanya.

Keempat, menanamkan kebiasaan positif sejak dini dimulai dari tingkat sekolah dasar. Misalnya sarana toilet seluruh sekolah di Kota Surabaya dibangun dengan kualitas standar hotel, hal ini dimaksudkan agar peserta didik terbiasa dan tidak “kampungan” lagi kalau berkunjung ke hotel. Ada pula kegiatan Eko School, anak-anak diarahkan untuk menanam kemudian mencintai kebersihan. Tradisi membuang sampah pada tempatnya juga ditanamkan kepada seluruh masyarakat sehingga Kota Surabaya kemudian mendapat penghargaan Green & Clean City.

Kelima, adanya proses penganggaran untuk saling dukung antar OPD. Setiap OPD memiliki anggarannya masing-masing sesuai perannya untuk mendukung sebuah event/kegiatan, sehingga semua punya target kinerja bulanan.

“Semuanya akan bekerja dengan setia dan antusias melaksanakan tugas masing-masing karena mendapat tunjangan kinerja yang cukup maksimal. Dengan demikian, pekerjaan seberat/sebesar apapun akan terasa ringan bila dikerjakan bersama,” ujarnya.

Soal manajemen sampah, dia belajar banyak bagaimana  kebersihan sudah jadi budaya bagi warga Kota Surabaya. Ada kerjasama lintas sektor di Kota Surabaya dimana paling lambat 2 jam setelah penyelenggaraan event, area dalam keadaan bersih karena tim tenaga kebersihan kota selalu berada di barisan paling luar ketika ada event.

Hal-hal tersebut yang  membuat Silvester berkesimpulan bahwa event itu penting dan dalam event ada bentuk-bentuk Inovasi untuk sebuah perubahan. Inovasi tersebut baginya akan menjadi referensi untuk  pengembangan promosi pariwisata Flotim kedepannya bekerjasama dengan masyarakat dan media massa.

“Meningkatkan event berarti media promosi juga harus diperkuat, untuk itu komunikasi harus dibangun hingga ke tingkat atas, dan saya berharap ini akan mendapat respon positif penganggaran dan semua orang bisa memahami ternyata event punya nilai positif untuk pariwisata,”paparnya.

Silvester berharap bahwa semua  rencana dan inovasi itu akan didiskusikan dengan pimpinan daerah dan para pemangku kepentingan. Hal ini karena ide dan inovasi yang direferensikan itu dapat terwujud manakala adanya Good will atau komitmen dari pimpinan daerah. (Adiz/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *