Jelang Semana Santa dan Himbauan Kadispar Corebima Soal Kewajaran Tarif Hotel di Larantuka

Hotel Asa, Salah Satu Hotel Terbaik di Kota Larantuka. Foto : Fortuna

Kota Larantuka di Flores Timur Propinsi Nusa Tenggara TImur menjadi destinasi tujuan wisata rohani yang paling diburu umat Kristiani dan para peziarah jelang Perayaan Paskah. Disana, di kota Reinha Larantuka rutin digelar Samana Santa; sebuah Tradisi Paskah unik warisan Portugis yang sudah berlangsung lebih dari 5 Abad.

Nah  karena dibanjiri ribuan pengunjung maka kandala klasik yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan tiket pesawat, kapal/fery hingga tempat penginapan dan atau kebutuhan kuliner bagi peziarah

Harga sewa penginapan atau hotel cendrung tinggi pada momentum Samana Santa tersebut. Jangankan hotel berbintang, penginapan-penginapan kecil dan perumahan wargapun dipastikan penuh sesak sebagai dampak dari membludaknya para peziarah ini.

Pantauan Fortuna via treveloka, Tarif kamar hotel di Larantuka per-malampun dipatok sangat maksimal untuk beberapa hotel kelas menengah dan atas. Beberapa hotel berbintang dan melati di Larantuka mematok kisaran harga Rp 352.680 sampai RP 1.423.529 per malam per kamar.

Bambang Jack Purwanto seorang warga JogJakarta yang ingin membooking hotel di Kota Larantuka sulit mendapatkannya. Memasuki masa Pekan Suci dari tanggal 17- 22 April 2019 nampak semua kamar hotel sudah terisi.

Saya coba booking beberapa Hotel Bintang semisal Hotel Asa dan Hoten Sun Rise untuk mengikuti Pekan Suci bersama keluarga tetapi kesulitan pas waktu ngebookingnya. Untung ada seorang sahabat kami dari Solo yang sudah lama disana menyiapkan rumahnya untuk kami tempati selama sepekan disana,” ujar Bambang dalam layanan messangernya kepada Fortuna, Rabu (10/4).

Ia mengisahkan dirinya selama ini hanya mengikuti informasi tentang Samana Santa lewat media. Kali ini kebetulan ada waktu libur kami ingin sekeluarga kesana, ya wisata rohani sekalian,” ujar pria asal Jogyakarta itu.

Kadis Pariwisata dan kebudayaan, Apolonia Corebima. Foto : Fortuna

Untuk mengatasi masalah ini maka  Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur Ny.Apolonia Corebima pada hari Kamis (11/4) menggelar rapat persiapan Semana Santa 2019 bersama Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia Cabang Flores Timur.

Apolonia Corebima mengungkapkan bahwa banyak keluhan dari para wisatawan/peziarah yang dialamatkan kepada pemerintah melalui Disparbud tentang sulitnya mendapatkan pelayanan akomodasi, makanan dan minuman karena selama perayaan Tri Hari Suci karena banyak rumah makan dan restauran yang tutup.

Apolonia meminta agar para pemilik hotel atau  dan serta warung makan tidak menaikan tarif hotel dan harga makanan secara berlebihan.

“Hotel-hotel dan penginapan kita harapkan tidak menaikan tarif hotel secara tidak wajar. Kenaikan tarif hotel harus transparan dan jangan berlebihan. Para tamu memang dapat membayar namun yang perlu diperhatikan adalah kesan para wisatawan setelah meninggalkan hotel atau penginapan yang menilai tarif hotel di Larantuka terlalu mahal,” tambahnya.

Menurut Apolonia, Semana Santa adalah ikon Flores Timur, dan banyak wisatawan yang berziarah atau berkunjung ke Flores Timur pada saat tersebut sehingga pelayanan yang diberikan harus ramah dan sopan sehingga muncul kesan baik yang ditinggalkan oleh wisatawan selama berada di sini.

Wanita yang baru genap setahun menjadi Kadis Parbud Flores Timur ini meminta kerjasama dari pemilik hotel untuk boleh menawarkan syal dan selendang tenunan yang sudah dititipkan oleh Disparbud Flores Timur di hotel-hotel tersebut. Syal dan selendang itu dikumpulkan dari para penenun yang ada di Flores Timur.

Para pemilik hotel juga diminta untuk menghimbau para wisatawan yang mengunakan jasa penginapan mereka agar mengenakan syal atau selendang tersebut sebagi souvenir dan tanda pengenal selama mengikuti prosesi Semana Santa.

“Hal ini juga membantu para penenun kita agar ada dampak ekonomi yang dapat dirasakan dengan adanya Semana Santa ini,” tambahnya.

Apolonia juga berharap hotel-hotel dapat menyediakan Kopi Leworook di hotel-hotel mereka sehingga dapat membantu usaha-usaha lokal yang ada di Flores Timur.

Kopi Leworook sendiri secara resmi sudah dilaunching oleh Bupati Flores Timur pada soft opening Festival Bale Nagi di Pantai Rako (07/04/2019).

Corebima juga mengharapkan anggota PHRI dapat menjalin kerjasama yang baik antara pemerintah dengan anggota lainnya sehingga tercipta sebuah jaringan kerja yang saling memberi manfaat.

“Berikan pelayanan yang ramah dan santun, agar kesan baik tentang kota Larantuka tetap terjaga,” ujarnya

Dalam rapat persiapan Semana Santa antara Disparbud Flores Timur dengan anggota PHRI di Kantor Disparbud (11/04/2019) ini, para pemilik hotel mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah dalam beberapa hal teknis menyangkut ijin operasional dan pengetatan tarif di beberapa hotel.

Mereka berharap kerjasama, peran aktif dan promosi dari Disparbud agar usaha mereka dapat meningkat.

Oleh karena itu, Kepala Bidang Kerjasama dan Kemitraan Disparbud, Silvester Kabelen mengungkapan bahwa Disparbud Flores Timur sudah memiliki website resmi di www.pariwisata.florestimurkab.go.id yang dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan usaha mereka.

Melalui website itu, Disparbud berusaha mempromosikan warung-warung makan dan restauran yang ada di kota Larantuka dengan menu andalannya masing-masing.

“Kupang memiliki kuliner khas seperti Se’i Babi. Sudah saatnya Flores Timur juga punya kuliner khas seperti rumpu-rampe atau kuah ikan asam,” lanjut Silvester. (www.pariwisata.florestimurkab.go.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *