Bersepeda, Olahraga dan Berwisata, Itulah Alasan KRC Sambangi Pantai Oetune di Kabupaten TTS

Komunitas KRC Sebelum Star dari Kupang- Oetune. Foto : JR

Sepeda yang dulunya merupakan sarana transportasi murah meriah kini telah bermetamorfosis baik dalam segi bentuk maupun penggunaannya. Keceriaan bersepeda nampak dalam berbagai usia, dari bayi sampai pada para lansia.

Bersepeda pun kini telah menjadi sebuah life style_ gaya hidup modern. Hal ini ditunjukkan dengan hadirnya berbagai komunitas bersepeda baik yang berbasis jenis BMX, MTB, Roadbike, Hybrid, Lipat, Fixie maupun Onthel.

Bahkan di beberapa kota besar telah muncul sebuah gerakan bike to work (B2W)  dimana telah mendorong para eksekutif yang biasanya menyetir mobil beralih menunggang sepeda sebagai alat transportasi. Bersepeda kini tidak saja sekedar hobby tetapi banyak manfaat yang bisa diperoleh darinya.

Pesona Pantai Pasir putih Oetune, TTS. Foto : JR

Selain berfaedah pada  aspek lingkungan, bersepeda juga juga sangat baik untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dan saat ini kegiatan bersepeda sudah menjadi sebuah event untuk mempromosikan potensi wisata suatu daerah. Tour de Singkarak (TdS), Tour de Ijen-Banyuwangi (TdIB), Tour de Moluccas (TdM), Tour de Flores(TdF)  telah membuktikan bahwa event tersebut telah membangun citra wilayah sebagai destinasi yang layak dan wajib dikunjungi di samping magnetic  program pembangunan lainnya.

Untuk wilayah NTT, sejak penyelenggaraan Tour de Timor (TdT)  tahun 2015 lalu,  telah mendorong munculnya kecintaan dan kegemaran masyarakat pada kegiatan bersepeda ini. Komunitas bersepedapun bermunculan.

Hampir setiap hari kita bisa temukan aktivitas para pesepeda ini baik di jalan utama maupun di jalan perkampungan, sungai maupun medan ekstrim lainnya. Kupang Roadbike Community  (KRC) dan  Kupang Cycling Community (KCC)  sangat getol bersepeda sambil mempromosikan melalui media sosial berbagai potensi wisata yang ada di sepanjang rute perjalananya.

Johny Lie Rohi, dari Komunitas KRC di Kawasan Bena, 7km Sebelum Oetune. Foto : JR

Bila KRC lebih pada kemampuan kecepatan (speed) untuk sebuah jarak yang tidak biasa (onroad), maka KCC lebih pada kemampuan mengeksplore medan yang ekstrim (offroad). KCC berprinsip loading adalah haram hukumnya, maka pada KCC dorong/loading itu sesuatu yang lumrah  kalau  memang harus demikian.

Untuk mendorong kecintaan akan olahraga bersepeda dan mempromosikan potensi DTW Alam Pantai Oetune Kabupaten TTS, maka pada hari Minggu, 7 April 2019, KRC melakukan kegiatan Cycling to Oetune dengan jarak 125 km.

Dengan mengambil titik start di pelataran Hotel Amaris Kupang, 25 peserta dalam konvoi peleton menuju titik perhentian pertama di km 50 puncak Camplong. Melewati dataran Oesao yang terkenal dengan kue cucurnya, speed  dipacu 30-35 km/h.

Seorang Peserta KRC Pose dengan Latar Pantai Oetune. Foto : JR

Namun memasuki tanjakan Camplong beberapa peserta mulai terpisah dari konvoi. Menikmati hutan Camplong yang segar seolah berada di keheningan alam, dimana penatpun tak terasa. Menuju waterpit II   di Batuputih, kecepatan > 40 km/h apalagi saat turunan Kaut dan dataran Takari. Peserta berlomba untuk menjadi yang tecepat.

Jembatan Noelmina yang menjadi kebanggaan, sayangnya dikotori dengan tindakan vandalisme yang tidak terkendali. Ini mestinya menjadi perhatian pemerintah setempat. Dari sini peserta mulai mengumpulkan energi, apalagi harus melahap tanjakan Besipa’e (waterpit III) yang dulunya pernah diupayakan menjadi  Pusat Pertenakan Sapi bekerjasama dengan Pemerintah Australia.

Tanjakan yang lumayan, dibawah sengatan terik 44ºC dan kemiringan 14º-18º beberapa peserta sudah hampir kehabisan energi dan harus berhenti beberapa kali di punggung bukitnya. Tapi semangat pantang loading tetap membuat smuanya tetap dalam ritme tujuan yang sama, mencapai Oetune.

Etape selanjutnya adalah menuju Oetune yang masih tersisa 40 km dengan turunan dan sedikit tanjakan terjal Kobe sebelum Panite selanjutnya melahap dataran Bena sekitar 35 kilo. Daerah pesawahan yang begitu luas semestinya  bisa menjadi limbungpadi daerah ini.

Dalam terik yang menerpa dari berbagai penjuru, beberapa peserta harus terpisah dari konvoi, bahkan ada yang nyasar menuju Kolbano. Namun akhirnya semua bisa tiba di Oetune dan menikmati potensi ini dengan penuh sukacita.

Oetune, tidak saja pantai yang landai yang bisa dinikmati, namun juga relief gundukan pasir yang begitu memukau dan berubah setiap saat. Pengunjung akan dibuat takjub seolah berada di Gurun Sahara.

Eksotika Pantai Oetune. Foto : JR

Para pesepeda (goweser)  berpendapat bahwa yang dicari  dalam bersepeda adalah sebuah sensasi. Sensasi menguji kemampuan diri, kesabaran, ketahanan tubuh, bermandi peluh, berpanas ria, ngos-ngosan saat melahap tanjakan, pengendalian diri, kebesamaan, tenggang rasa, kulit tubuh yang lebam, dan yang tidak kalah menarik adalah menikmati setiap potensi wisata (landscape alam, budaya, kuliner, kehidupan masyarakat, dll) sambil berswafoto dan membagikannya di media sosial.

Seorang teman bahkan secara kelakar menyatakan bahwa bersepeda membuat dia hancur karena hobby.  Banyak konsekwensi yang harus telaten dipenuhinya. Yang jelas dalam kegiatan ini canda tawa menjadi menu utama dalam suasana apapun.

Tentu ada banyak harapan dari pecinta olahraga (gaya hidup) ini.  Masyarakat telah memulainya, bahkan telah menggerakkannya. Tinggal bagaimana pemerintah bisa memanfaatkannya untuk kepentingan pembangunan daerah. Beberapa wilayah cukup sukses membuat event  bersepeda baik untuk kategori racing maupun touring,  dan menjadikannya sebagai sebuah tourism event branding. #NTTbisa, #NTTbangkit, #ExoticNTT. (tim/JR/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *