Guti Nale dan Isyarat Sukses Panen di Mingar Lembata

Perpaduan Budaya dan Seni disel-sela Acara Guti Nale di Mingar, Lembata belum lama ini. Foto : Alvin Beraf

Pemerintah Kabupaten Lembata Nusa Tnggara Timur belum lama ini menggelar Festival Guti Nale di Mingar. Acara berjalan lancar, sukses dan syarat isu-isu pelestarian budaya. Ribuan warga sontak kaget. Mereka tumpah rumah menyaksikan event yang berlangsung selama 2 hari tersebut.

Festival bertajuk “Duli Gere, Lewo Rae Malu”menampilkan beragam acara seperti karnaval Nale, Tarian Kolosal, Kuliner Nale dan acara Guti Nale yang diehalt di Pantai Benebong Riangbaka Mingar.

Guti Nale sendiri adalah sebuah tradisi warisan nenek moyang orang Mingar, Desa Pasir Putih, Kecamatan Nagawutung.

Paulus Pati Kabelen seorang warga powaris tradisi ini mengatakan, Guti Nale merupakan tradisi warisan nenek moyang. Guti Nale artinya menangkap atau mengambil Nale atau Nyale (sejenis cacing laut).

Nale secara history berasal dari Duli, laut di Alor tepatnya di Selat Merica. Nale tersebut dibawa ke kampung Mingar oleh Srona dan Srani. Keduanya mengaku berasal dari Duli.

Lanjut Paulus, mulanya Belake dan Geroda, dua bersaudara dari Suku Ketupapa pergi melaut. Mereka juga mengajak Ama Belawa dari Suku Atakabelen untuk menyusul mereka sambil membawa tuak. Ketika sampai di pantai, keduanya sontak melihat dua orang yang tengah berenang  dalam amukan gelombang ke Pantai Watan Raja.

Belake dan Geroda penasaran. Mereka berdua menghampiri dan bertanya asal dan tujuan kedua orang itu. Keduanya memperkenalkan diri sebagai Srona dan Srani yang berasal dari Duli.

Masing-masing mereka membawa batu yang merupakan jelmaan istri mereka yakni Srupu dan Srepe. Dua istri ini berasal dari dunia lain, dunia gaib.

Asal mereka dari Duli. Mereka datang ke Mingar untuk mengikuti nale yang sudah lama meninggalkan kampung mereka.

Srona dan Srani diminta agar bersembunyi di atas pohon pandan sambile menunggu Blake dan Geroda pulang melaut.

Sesaat kemudian, datanglah Ama Belawa membawa tuak dan diikuti anjing piaraannya. Anjing itu tiba-tiba menggonggong ke atas daun pandan tempat persembunyian Srona dan Srani.

Keduanya pun keluar dari persembunyian dan turun dari pohon pandan bertemu Ama Belawa. Sambil menunggu Belake dan Geroda, Srona dan Srani menceritakan hal yang sama soal kedatangan mereka. Tak lama Belake dan Geroda kembali.

Srona dan Srani pun diajak ke kampung, kemudian diperkenalkan kepada warga kampung. Mereka diterima dan menetap di Mingar. Kepada warga kampung, keduanya pun memperkenalkan tata cara mengambil nale dan ritual-ritual yang mendahuluinya.

Di Duang Waitobi inilah Srona dan Srani memasukkan dua batu yang mereka bawa dari Duli. Dua batu ini merupakan jelmaan dari istri mereka yakni Srupu dan Srepe.

Kedua batu ini dikenal dengan sebutan batu ikan nale. Srona dan Srani juga menunjukkan cara memberikan makan kepada kedua batu ini dan hanya diberi makan sebelum mengambil nale.

Saat meninggal, tengkorak kepala Srona dan Srani ditempatkan di lokasi yang disebut Duli Ulu (di bagian timur lapangan sepak bola Mingar). Sementara jasadnya dikuburkan di  Klete, Kampung Adat Mingar.

Hal lain pun diceritakan Tokoh muda Mingar Yoris Lamuda dan Lukas Labi Sura.

Menurut Yoris, Orang Mingar percaya bahwa Nale adalah jelmaan dari wujud tertinggi yang datang untuk mengabarkan semacam isyarat semesta, bahwa tahun yang lagi diajalani adalah tahun penuh kesuburan dan kelimpahan makanan, dari ladang-ladang petani terisi begitu juga hasil tangkapan ikan dari melaut berlimpah.

Wujud nale yang muncul setiap tahun adalah serupa koloni cacing yang berwarna hijau keemasan.

Kata Yoris, ketika Nale naik ke permukaan dan membentang itu seperti bentangan motif sarung serupa permadani yang cantik. Apalagi ditingkap obor yang bernyala dari warga yang datang mengambil nale.

Proses pengambilan nale yang biasanya terjadi pada bulan Februari dan Maret itu pun melalui ritus adat.

Suku yang dipercayakan sejak kemunculan nalepada masa purba hingga sekarang adalah Suku Ketupapa. Suku inilah yang pertama kali mendapat semcam ilham untuk mengambil nale.

Selain itu Lukas Labi (76) warga Mingar menegaskan, Nale pertama sekali itu diperkenalkan oleh dua laki-laki yang bernama Srona dan Srani. (Alvinberaf/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *