Dukung Pariwisata, Pemda dan DPRD Sabu Raijua Sepakat Relokasi Bandara

Eksisting Gedung Terminal Bandara Tardamu di Sabu Raijua. Foto : Fortuna

Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur lagi giat-giatnya mengembangkan pariwisata. Selain menata destinasi-destinasi wisata unggulannya, pemerintah juga mengintensifikan pengembangan akses perhubungan udara dari dan ke Sabu Raijua.

Bandar Udara Tardamu di Seba saat ini yang masih terbatas secara teknis segera direlokasi ke Eilode di Sabu Tengah. Tujuannya meningkatkan kapasitas teknis operasional,frekuensi dan juga keselamatan penerbangan.

Dengan peningkatan fisik dan operasional bandara tersebut, diharapkan penerbangan ke Sabu dapat diakses langsung oleh meskapai-meskapai berbadan lebar yang berpotensi meningkatkan perekonomian dan mendongkrak kunjungan wisatawan.

Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke

“Kita juga lagi berjuang untuk tingkatkan akses perhubungan udara kita dengan merelokasi Bandara Tardamu ke Eilode di Sabu Tengah. Dengan demikian secara teknis bisa didarati pesawat berbadan lebar dan tentunya bisa membawa lebih banyak orang termasuk wisatawan asing yang ingin berkunjung ke Sabu Raijua,” papar Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke kepada Fortuna di Seba belum lama ini.

Benar bahwa potensi dan daya tarik wisata Sabu Raijua boleh dibilang sangat mumpuni namun belum digali dan promosikan secara serius. Langkah-langkah nyata yang dilakukan pemerintah saat ini yakni terus menata destinasi-destinasi wisata alam, bahari dan terus memperkuat referensi-referensi sejarah dan seni budaya daerah yang memiliki daya tarik bagi wisatawan.

Harus diakui pariwisata Sabu Raijua baru mulai seksi dalam satu tahun belakangan. Semua orang baru terbuka mata ketika salah satu potensi wisata alam “Kelabba Madja jadi viral dan mendapat nominasi nasional sebagai Surga Tersembunyi Terpopuler dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2018.

Padahal pulau yang dijuluki sebagai “Negerinya Para Dewa” itu memiliki pesona wisata yang sangat komplit baik dari sisi alam, bahari, budaya, sejarah dan tentunya wisata minat khusus.

Menurut Nikodemus, dengan pengembangan bandara dan juga peningkatkan akses perhubungan laut maka keluhan tamu dan wisatawan yang selama ini kesulitan berkunjung ke Sabu bisa segera diatasi.

Ketua DPRD Sabu Raijua, Paulus R.Tuka (kanan) dan Para Wakil Ketua ketika menghadiri HUT ke-10 Kabupaten Sabu Raijua 26 Nopember 2018. Foto : Fortuna

DPRD Dukung

Kalangan DPRD Sabu Raijua menyatakan dukungan akan rencana pemerintah merelokasi bandara Tardamu. Benar bahwa sebagai etalase NKRI, Sabu Raijua juga perlu dijamah dari sisi akses perhubungan udara.

Ketua DPRD Sabu Raijua Paulus R.Tuka mengatakan DPRD secara kelembagaan tentu mendukung berbagai langkah konstruktif dan percepatan pembangunan yang berorentasi pada kepentingan rakyat.

Baginya bandara adalah satu fasilitas publik yang sangat dibutuhkan untuk mengakses Sabu sebagai sebuah daerah kepulauan terluar selain pelabuhan fery dan juga pelabuhan Pelni.

“Sebagai daerah kepulauan, kita tentu dukung karena bandara ini adalah objek vital yang sangat strategis dalam meningkatan akses orang, barang dan jasa dari dan ke Sabu,” katanya.

Meski melihat kebutuhan warga Sabu Raijua lebih didominasi oleh moda transportasi laut namun politisi PDI Perjuangan ini yakin dengan kehadiran sebuah bandara yang lebih standar, laik dan memadai dapat memicu percepatan pembangunan perekonomian dan akses masuk wisatawan ke Sabu Raijua.  

Yulius Kismono,SE

Sementara Kepala Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) Bandara Sabu Raijua, Yulius Kismono mengatakan dengan kondisi eksisting saat ini, Bandara Terdamu sudah harus segera direlokasi. Keterbatasan lahan untuk pengembangan bandara Terdamu menjadi alasan untuk segera dipindahkan dan atau dibangun bandara baru.

Oleh karenanya dia menyatakan dukungan dan siap bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk mempercepat proses pembangunan bandara baru di Sabu Tengah yang telah direncanakan dalam program kerja Bupati Sabu Raijua beberapa tahun kedepan.

“Kita sangat mendukung secara teknis dan siap bersama pemerintah daerha dalam proses percepatan relokasi bandara Terdamu Seba ke Eilode kecamatan Sabu Tengah. Kajian teknis diharapkan segera dituntaskan dan harapan kita pengerjaan fisik bisa langsung dimulai,” paparnya  kepada Fortuna di Seba belum lama ini

Yulius mengaku telah bertemu beberapa pihak terkait di Jakarta soal pembangunan bandara baru tersebut. Bahkan dari pertemuan itu telah ada beberapa kesepakatan dan tinggal perlu koordinasi intens.

Diakui juga pihaknya telah berkoordinasi dengan Bupati Sabu Raijua, Ketua DPRD Sabu Raijua dan Bappeda setempat untuk mendukung pelaksanaan program ini.

Hal-hal terkait terkait RPK lama yang telah dibuat dan beberapa kekurangan sebagimana persyaratan-persyaratan teknis akan segera dilengkapi kembali. Demikian juga soal pembebasan lahan, studi kelayakan dan beberapa tahapan teknis diharapkan tuntas tahun ini sehingga pengerjaan fisik bisa mulai dilakukan.

“Eksekusi direncanakan setelah selesai studi. Beberapa tahapan lainnya masih terus dilakukan sehingga proses pembangunannya dapat segera terlaksana sesuai program percepatan relokasinya. Kita butuh waktu satu atau dua tahun kedepan sudah bisa eksen,” ujarnya.

Hotel Raihawu, Hotel Bintang II Yang Siap Mendukung Pembangunan Pariwisata di Sabu Raijua.  Foto : istimewa

Untuk diketahui, Bandara Terdamu Seba terletak di Jl Tardamu, Kelurahan Meba, Kecamatan Sabu Barat. Bandara ini dioperasikan oleh Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) Kemenhub RI dengan klasifikasi Bandara Kelas III. Tardamu merupakan bandara dengan landasan pacu terpendek dari 14 bandara yang ada di propinsi NTT.

Karena keterbatasan lahan dan topografi maka panjang landasan pacunya (run way) hanya dibangun 900meter dan lebar 23 meter. Meski demikian, Bandara ini memiliki terminal penumpang yang minimalis dan moderen dengan dukungan fasilitas teknis operasiona dan SDM yang memadai. Hingga saat ini Bandara Tardamu hanya bisa didarati pesawat kecil jenis Twin Otter “Susi Air” dengan kapasitas 12 tempat duduk. Susi Air melayani Rite Kupang-Sabu sehari sekali dan Sabu – Waingapu – Ende dengan Frekuensi 3 kali seminggu. (MarselTrivena/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *