Ada Flores Ethnic Fashion di Festival Parade Pesona Kebangsaan Ende 29 Mei 2019

Mendagri Cahyo Kumolo Meresmikan Patung Soekarno di Ende, 1 Juni 2018. Foto : Fortuna

Event wisata nasional “Festival Pesona Parade Kebangsaan” kembali di gelar di Kota Ende Flores tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 2019.  Momentum memperingati Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni di Kota “Bung Karno” itu akan diisi dengan berbagai acara akbar.

Adapun rundown acara yang dirancang dalam Festival Parade Pesona kebangsaan di Ende tahun ini antara lain Pagelaran Budaya Nusantara, Ende Culture Expo, Pelayaran Nusantara, Parade Darat dan Festival Kopi

Menariknya, tahun ini pemerintah daerah kabupaten Ende dan Kementerian Pariwisata RI juga telah menyepakati untuk mengangkat satu tema khusus tentang tenunan Flores. Satu dari rangkaian kegiatan yang dirancang yakni Tenun Ikat Flores Ethnic Fashion.

Kegiatan itu akan dipusatkan di Jalan Soekarno Depan Kantor Dinas Pariwisata Ende. Fashion street ini merupakan kawasan bersejarah, tempat dimana Bung Karno menghabiskan hari-hari pengasingannya semasa berada di Flores.

Tenun Ikat Flores Ethnic Fashion ini merupakan yang special dari rangkaian kegiatan Festival Parade Pesona kebangsaan tahun ini. Kita pusatkan pagelaranya di Fashion Street jalan Soekarno Kota Ende,” kata Kepala Dinas Pariwista Kabupaten Ende Derson Duka kepada www.fortunaexplore.com belum lama ini.

Bupati Ende Marsel Petu, Mantan Kadispar NTT Marius Jelamu, Wakil Bupati Djafar Ahmad dan Jajaran disela-sela Pelepasan Parade 2018. Foto : Fortuna

Harus diakui, ada komitmen Pemerintahan Ende dibawah kendali Bupati Marsel Petu dan Wabub Djafar Ahmad dalam bidang pengembangan pariwisata dan  budaya daerah selama ini. Melalui pagelaran Tenun Ikat Flores Ethnic Fashion, diharapkan menjadi jembatan memperkenalkan kekayaan dan keragaman tenun ikat Flores dari Larantuka sampai Manggarai Barat.

Dunia Fashion Tenun Ikat kini makin seksi. Kita ingin perkenalkan kepada pengunjung tentang kekayaan corak,motif dan ragam karya emas mama-mama kita dari Flores yang kian menghipnotis penikmat fashion nasional dan dunia,”ujar Derson.

Selain syarat makna filosofis dan historis, Ia mengatakan Tenun Ikat Ethnic Fashion itu juga dalam rangka memotivasi generasi muda Flores untuk melihat bisnis tenun ikat sebagai sumber ekonomi baru yang selama ini  belum dieksplorasi maksimal.

Para Peserta Parade pose di Pohon Sukun; Tempat Bung karno Merenungkan Nila-Nilai Pancasila. Foto : Fortuna

Ende, Kota Sejarah dan Pusat Pariwisata

Menurut Derson, Festival Parade Pesona Kebangsaan (FPPK) merupakan satu dari 4 event nasional yang sudah masuk dalam Callender of Tourism Event nasional. Kegiatan ini digelar bersama Pemda Kabupaten Ende dan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI dan sudah berjalan beberapa tahun.

FPPK juga merupakan momentum strategis promotif yang memadukan kepentingan promosi pariwisata daerah sekaligus mengenang napak tilas Ende sebagai Kota Sejarah dan Kota Lahirnya Pancasila; Idiologi Bangsa Indonesia.

Sebagaimana diketahui, event tersebut menjadi satu giat terakbar yang paling dinanti-nantikan masyarakat Kabupaten Ende dan pulau Flores Umumnya. Ribuan masyarakat dipastikan terlibat aktif dalam memeriahkan acara yang berlangsung selama sepekan itu.

Derson Duka. Foto : Fortuna

Mereka antusias menyaksikan parade kebangsaan juga penampilan seni dan budaya di atas panggung utama yang ditampilkan seluruh komunitas dan kelompok seni budaya di Flores.

Selain parade seni dan budaya, acara biasanya dilanjutkan dengan “Malam Renungan Bung Karno” di Taman Inspirasi yang letaknya bersebelahan dengan lapangan Pancasila. Di taman inilah dahulu, saat Soekarno diasingkan oleh Belanda ke Ende, tercetus pemikiran Pancasila yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia.

Butir-butir Pancasila, oleh Soekarno, terinspirasi dari kehidupan masyarakat Ende yang majemuk namun dapat hidup berdampingan dengan damai.

Biasanya acara malam renungan Bung Karno berlangsung khidmat. Dimulai dengan mengheningkan cipta, pembacaan doa, doa bersama, pembacaan beberapa kutipan ujaran atau kata mutiara Bung karno, dan penyalaan lilin api secara bersama-sama, yang dimulai dari api yang satu dengan saling berbagi. Hal tersebut menggambarkan pelita bangsa dibangun berdasarkan semangat gotong royong.

Peserta Parade Lintas Etnis. Foto : fortuna

Dengan keunikan yang dimiliki maka Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI berkomitmen menjadikan Festival Parade Pesona Kebangsaan menjadi satu atraksi utama dan geliat pariwisata di Flores. PPK Menjadi brand dan citra khusus Ende, dibandingkan dengan kota lain di Indonesia.

Tahun 2018 kemarin event nasional FPPK itu dibuka secara resmi oleh Menteri Dalam Negeri Cahyo Kumolo sekaligus meresmikan Patung Bung Karno yang ditahtakan didepan Situs Bung Karno. Berada di Ende saat itu Mendagri Cahyo Kumolo mengenang Ir.Soekarno dan masa-masa sulit perjalanan bangsa Indonesia terutama ketika dia dibuang ke Ende tahun 1934-1939.

“Bung Karno Menggali Pancasila dari Kota Ende. Dan Festival Parade Pesona Kebangsaan kini telah menjadi bagian dari saat mengenang sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia. Melalui event ini  kita kenang napak tilas dan sejarah panjang perjalanan  Ir.Soekarno sebagai Proklamator  dan Bapak bangsa yang telah meletakan dasar dan nilai-nilai idiologis bagi bangsa Indonesia hingga saat ini,” papar Menteri Dalam Negeri Cahyo Kumolo ketika membuka Parade Pesona Kebangsaan di Ende saat itu.

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI Esthy Reko Astuti saat itu mengatakan PPK telah menjadi icon wisata sejarha budaya bagi kota Ende sekaligus melengkapi daya tarik alam yang telah melegenda di Kabupaten Ende seperti Danau Kelumutu, desa-desa adat serta alam tropis Flores.

“Daya tarik ini hendaknya disadari penuh dan dikemas secara profesional dengan standar global,” kata Esthy Reko Astuti saat itu sebagaimana dikutik dari Republika.co.id

Pemerintah, sebut Esthy, sebelumnya telah menetapkan Badan Otorita Terpadu Labuan Bajo dan Flores, sebagai satu dari sepuluh destinasi prioritas. Strategi dan arah kebijakan telah digariskan dan kini giliran masyarakat dan para pemangku kepentingan yang perlu terlibat dan berperan.

“Kita harus menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi, kenghidupkan kreativitas budaya sekaligus mempererat soliditas sosial,” kata dia.

Peserta Lintas Kecamatan Menghadiri Event PPK. Foto : Fortuna

Esthy berharap Festival Parade Pesona Kebangsaan dapat diselengarakan secara berkelanjutan serta dikelola dengan lebih kreatif dan tentunya melibatkan partisipasi warga yang akhirnya dapat menjadi perayaan tahunan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat Ende dan Indonesia secara keseluruhan.

Pemerintah akan terus mendukung, terutama melalui tiga langkah prioritas. Yakni digitalisasi pemasaran, pembangunan homestay desa wisata dan aksesibilitas bandara, yang juga hendaknya menjadi panduan bagi pemda, swasta dan masyarakat.

“Sesuatu yang tidak terlalu sulit bagi Ende karena modal sosial dan infrastruktur telah terbentuk,” kata dia.

Untuk diketahui Festival Parade Pesona Kebangsaan adalah satu dari empat event yang telah masuk dalam kalender pariwisata nasional. Tiga event lainya yakni Festival Tenun Ikat dan Parade Kuda Sandelwood di Sumba, Festival Likurai di Belu dan Festival Komodo di Manggarai Barat.

Serunya Parade laut dari Pulau Ende menuju Pelabuhan Bung Karno Ende. Foto : istimewa

Festival Parade Pesona Kebangsaan 2018 di Ende misalnya dihadiri banyak tamu undangan dari pusat, wisatawan asing serta ribuan warga Kabupaten Ende. Puluhan media masa cetak dan elektronik nasional meliput langsung event dimaskud dan menyiarkan ke seantero dunia. (Tim/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *