Optimisme Kabandara Yulius Kismono Relokasi Bandara Sabu Raijua

Kondisi Eksisting Terminal Bandara Tardamu,Sabu Raijua. Foto : Fortuna

Sudah 3 bulan sosok ini berada di Sabu Raijua. Sangat familiar, komunikatif dan nampak bersahaja. Pergaulannya boleh dibilang sangat luwes. Itulah sekilas kesan yang bisa diluksikan Fortuna ketika bertemu Yulis Kismono,SE Kepala Bandar Udara (Bandara) Tardamu, Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.

Dalam sebuah diskusi santai di Seba belum lama ini, pria asal Sumatera tersebut berbagi informasi sekilas perjalanan kariernya di dunia perhubungan udara.

Benar bahwa sebagai seorang abdi negara Yulius sudah “menandatangani kontrak” untuk siap ditempatkan dimana saja di seluruh Indonesia termasuk di kabupaten Sabu Raijua; sebuah daerah otonom baru yang masih dipandang terbatas dalam berbagai akses perhubungan telekomunikasi dan juga sentuhan pembangunan kemasyrakatan.

Dia yakin bahwa urusan membangun Sabu Raijua adalah tanggjungjawab bersama. Sebagai Kepala Bandara tentu dirinya ingin agar ada percepatan peningkatan konektivitas udara yang bisa menghubungkan masyarakat Sabu Raijua dengan sesama saudara sebangsa dan setanah air Indonesia yang ada di daerah lain.

Hal ini sungguh diyakininya karena secara geografis dan topografi, Sabu itu menantang Pulaunya berkarakter, lautnya indah, masyarakatnya sangat ramah dan penuh toleransi

Yulius Kismono,SE

“Sabu itu Cantik dan eksotik. Itulah kesan pertama saya ketika menginjakan kaki di pulau Sabu awal bulan Januari 2019,” ujarnya

Dia terkagum-kagum ketika turun dari pesawat Susi Air yang membawanya dari Bandara El Tari Kupang. Baginya Sabu adalah sebuah Pulau kecil di Selatan negeri ini yang menantang tetapi indah dan pesona pariwisatanya menggoda.

Untuk alasan itulah maka dirinya siap bekerja maksimal, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Bupati dan DPRD Sabu Raijua serta mitra strategis lainnya untuk sama-sama membangun akses perhubungan udara di Kabupaten Sabu Raijua agar sejajar dengan daerah-daerah lain.

Sabu Raijua yang oleh banyak cerita dinobatkan sebagai sebuah pulau terkecil, masih banyak penduduk miskin dan terisolir itu langsung ditepisnya. Hal ini dikarenakan secara kasat mata masyarakat Sabu hidup dalam kekayaan hati.

“Mungkin saja secara materi kurang tetapi orang Sabu punya solidaritas, empati dan hidup penuh kekeluargaan. Pembangunan infrastruktur memang masih terbatas namun masih bisa dijangkau dan masih dalam batas yang wajar sebagai sebuah daerah kepulauan,” ujarnya

Yulius mengaku senang tinggal di pulau seribu lontar itu. Keramahan dan keakraban masyarakat menjadi kekuatan untuk membangun daerah.

“Sambutannya sangat akrab dengan kebiasaan “Cium Sabu” memberikan kesan keakraban dan penerimaan bagi orang baru. Pemerintah daerah juga sangat welcome dengan kehadiran kami disini. Bahkan seremonial penyambutannya sangat kental dengan nuansa budaya Sabu,” ungkapnya mengenang.

Kepada Fortuna, putra Lampung ini menjelaskan kalau dirinya pernah beberapa kali berpindah tugas sejak awal bekerja sebagai staf dari Kementerian Perhubungan. Dia memulai kariernya dari Sumatera ke Jakarta, Kalimantan hingga ke Sulawesi dan sekarang bertugas ke NTT tepatnya d Kabupaten Sabu Raijua.

Berada di Kabupaten Sabu Raijua memberikan warna tersendiri dan sungguh berarti bagi dirinya. Dia seakan-akan sedang berada di surga tersembunyi, di pulau kecil nan eksotik yang bisa membuat hati teduh dan merdeka.

Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke dengan jajaran Muspida di Bandara Tardamu. Foto : Fortuna

Bersama Pemerintah Daerah Tancap Gas

Sesaat setelah mendarat di Sabu, Yulius langsung “tancap gas”. Kerinduannya untuk membangun Sabu sangat luar biasa. Dia memulainya dengan berkunjung ke mitra-mitra pemerintah daerah, DPRD juga bertemu insan pers yang ada di Sabu. Tujuanya bersilaturahmi dan menjalin kerjasama.

Dia mengaku tidak bisa bekerja sendirian tanpa ada pihak lain yang mendukung. Mitra strategis Kabandara adalah pemerintah, DPRD, Pers dan lembaga terkait lainnya terutama masyarakat setempat,”katanya.

Ada kerinduanya juga untuk berkerjasama dengan media untuk saling membuka kran informasi terkait pembangunan di Sabu Raijua, saling mengontrol dan memberikan kritik-kritik yang konstruktif terhadap apa yang menjadi persoalan kedepan. Dengan pola kemitraan yang strategis dan sinergis bersama semua pihak maka tujuan membangun Sabu Raijua yang dicitak-citakan bisa terwujud. 

Pesawat Susi Air yang setiap hari melayani Rute Kupang-Sabu,PP. Foto : Fortuna

Percepat Bangun Bandara di Eilode

Soal Pembangunan Bandara Tardamu Sabu Raijua, Yulius mengatakan dengan kondisi eksisting saat ini, Bandara Terdamu sudah harus segera direlokasi. Keterbatasan lahan untuk pengembangan bandara Terdamu menjadi alasan untuk segera dipindahkan dan atau dibangun bandara baru.

Oleh karenanya dia menyatakan dukungan dan siap bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk mempercepat proses pembangunan bandara baru di Sabu Tengah yang telah diprogramkan Bupati Sabu Raijua beberapa tahun kedepan.

“Kita sangat mendukung secara teknis dan siap bersama pemerintah daerah dalam proses percepatan relokasi bandara Tardamu Seba ke Eilode kecamatan Sabu Tengah. Kajian teknis diharapkan segera dituntaskan dan harapan kita pengerjaan fisik tidak lama lagi dimulai,” paparnya

Yulius mengaku telah bertemu beberapa pihak terkait di Jakarta soal pembangunan bandara baru tersebut. Bahkan dari pertemuan itu telah ada beberapa kesepakatan dan tinggal perlu koordinasi intens.

Diakui juga pihaknya telah berkoordinasi dengan Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke, Ketua DPRD Paulus Rabe Tuka Sabu Raijua dan Bappeda setempat untuk mendukung pelaksanaan program ini.

Hal-hal terkait terkait RPK lama yang telah dibuat dan beberapa kekurangan sebagimana persyaratan-persyaratan teknis akan segera dilengkapi. Soal pembebasan lahan, studi kelayakan dan beberapa tahapan teknis diharapkan tuntas tahun ini sehingga pengerjaan fisik bisa mulai dilakukan.

“Eksekusi direncanakan setelah selesai studi. Beberapa tahapan lainnya masih terus dilakukan sehingga proses pembangunannya dapat segera terlaksana sesuai program percepatan relokasinya. Kita optimis, butuh waktu satu atau dua tahun kedepan sudah bisa eksen,” ujarnya. (MarselTrivena/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *