Kure, Paskah Ala Portugis Yang Masih Tersisa di Kabupaten Timor Tengah Utara

Prosesi Pembersihan Patung, salah satu tahap penting dalam rangkian KURE. Foto : Istimewa

Mereka berdoa bergilir mengelilingi 18 rumah adat pada malam Kamis  Putih dan Malam Jumad Agung.  Inilah rangkaian Paskah Tradisional warga Kote Noemuti memperingati Hari Raya Paskah yang kemudian disebut Kure. Prosesi yang terus diwarisi umat Katolik sejak abad ke-17 di Paroki Hati Kudus Yesus Noemuti ini terdiri dari beberapa tahapan diantaranya Trebluman atau Doa Pengosongan Diri; Prosesi  Taniu Uis Neno /Soet Oe; Kure; Sabtu Aleluya dan Sefmau

Ada yang unik dalam rangkaian perayaan Paskah di Kampung Kote Kecamatan Noemuti Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Propinsi Nusa Tenggara Timur. Memasuki Pekan Suci yakni pada hari Kamis Putih, warga Kote biasanya menggelar ritual Taniu Uis Neno, sebuah acara pembersihan patung Bunda Maria dan Yesus di Kayu Salib dengan cara memandikannya.

Air bekas memandikan patung itu kemudian dibagikan kepada warga untuk membasuh muka, kaki, dan tangan yang dipercaya mampu menyembuhkan dan menjauhkan penyakit.

Setelah prosesi sakral pembersihan patung, warga mulai berdoa secara bergilir di 18 rumah adat di kampung tersebut. Sebelumnya digelar ritual lain yakni pengumpulan persembahan berupa buah-buahan dari warga sebagai tanda syukur.

Rangkaian Paskah tradisional ini oleh warga setempat disebut Kure. Tradisi ini adalah satu dari sekian sisa peninggalan bangsa Portugis yang pertama menginjakan kaki di Noemuti Pulau Timor sejak tahun 1916 untuk misi penyebaran agama Katolik.

Hingga kini Paskah tradisional “Kure” ini terus diwariskan warga Naoemuti dan selalu digelar bertepatan dengan perayaan Tri Hari Suci Paskah umat Katolik se-dunia yang lazim dimulai dari Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Kudus.

“Kita sebut Kure . Dalam prosesi ini ada beberapa tahapan yang dilalui umat di Paroki ini. Semua rumah adat di Kampung Kote dikunjungi. Kita berdoa bersama-sama secara bergilir dirumah-rumah adat yang terpelihara hingga kini,” ujar Alex da Costa, seorang warga Noemuti  kepada Fortuna belum lama ini di kediamannya.

Menurut Alex, tradisi ini telah berlangsung sejak Portugis menginjakan kaki di Noemuti beberapa abad lalu. Bahkan oleh karena alasan ini warga kabupaten TTU sering menyebut orang Noemuti sebagai orang “Eropa Hitam”.

“Ini peninggalan sejarah yang masih diwarsikan generasi kita. Sayang tradisi Kure tidak sepopuler Samana Santa di Larantuka, Flores Timur. Tetapi tradisi ini cukup unik. Tidak percaya? Mari dan saksikan,” ajaknya.

Perayaan Misa dalam konsep Inkulturasi budaya setempat. Foto : Istimewa

Historis dan Syarat Nilai Religius Magis

Untuk diketahui, Umat Katolik di Propinsi Nusa Tenggara Timur memiliki dua situs rohani bersejarah sekaligus menjadi titik awal penyebaran agama Katolik di Nusa Flobamora. Kedua bukti sejarah itu yakni Prosesi Jumad Agung (Samana Santa) di Larantuka Kabupaten Flores Timur dan Prosesi Kure atau Paskah Tradisional di Noemuti Kabupaten Timor Tengah Utara.

Ritus- ritus yang syarat dengan nilai religius magis ini menjadi pilihan bagi umat Katolik se-antero nusantara untuk merayakan Tri Hari Suci Paskah sekaligus wahana memperdalam  iman umat.

Benar bahwa Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sendiri merupakan salah satu titik sejarah dan cikal bakal hadirnya agama Katolik di pulau Timor-NTT.

Menurut sejarah, wilayah Kote-Noemuti (25 km arah barat Kota Kefamenanu) pada masa penjajahan menjadi wilayah kekuasaan Belanda namun kemudian diduduki Portugis karena ditukar dengan Maukatar (salah satu daerah di Timor Leste sekarang) sebagai wilayah kekuasaan portugis yang diduduki Belanda pada tanggal 1 November 1916.

Tentara Portugis (Topasis) yang saat itu datang bersama para imam Katolik  Fransiskan kemudian memperkenalkan dan menyebarkan agama Katolik yang mereka anut ke penduduk Kote-Noemuti.

Wisatawan Asing menikmati prosesi Kure. Foto : Fortuna

Salah satu peninggalan para Imam Fransiskan dalam misi penyebaran iman katolik adalah dengan menempatkan patung-patung kudus dan benda-benda devosional pada rumah-rumah adat (ume mnasi)  yang ada di Kote-Noemuti. Penempatan patung-patung para kudus dan benda-benda devosional ini diikuti dengan sebuah tradisi penumbuhan iman doa bergilir dari satu rumah adat ke rumah adat (ume usi neno)  saat Tri Hari Suci Paskah.

Tradisi doa bergilir (kulture religi) memasuki Tri Pekan Suci bagi umat Katolik dilaksanakan pada malam Kamis  Putih dan Malam Jumad Agung sebagai rangkaian memperingati hari raya Paskah ini kemudian disebut Kure. Prosesi yang terus diwarisi umat katolik sejak abat ke-17 di Paroki Hati Kudus Yesus Noemuti ini meliputi beberapa tahapan diantaranya Trebluman /Doa Pengosongan Diri; Prosesi  Taniu Uis Neno /Soet Oe; Kure; Sabtu Aleluya dan Sefmau

Nah, Kalau anda pernah mengikuti prosesi Samana Santa di Flores Timur maka kini saatnya anda bisa mengenal lebih dekat Prosesi Paskah Tradisional Kure di Noemuti. (fidel/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *