Upss, Sampah Kok Menumpuk di Depan Kantor Gubernur NTT

Sampah Yang dibiarkan berhari-hari tidak diangkut di depan Kantor Gubernur NTT. Foto diambil Selasa, 26/2/2019.

Apresiasi patut dialamatkan kepada Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Yosef  Nae Soi atas gebrakannya memerangi sampah diawal kepemimpinannya. Sampah seakan jadi momok yang menghalangi niat Pemda NTT untuk menonjolkan pariwisata sebagai sektor unggulan dalam kebijakan pemerintah 5 tahun mendatang.

Gubernur Viktor 3 bulan belakangan “meneriaki” budaya hidup sehat, bebas sampah dan bahkan memotori langsung operasi bersih-bersih sampah di semua penjuru Kota Kupang. Namun demikian fakta miris justru terjadi didepan mata.

Onggokan sampah  persis di depan Gubernuran tempat dimana Victor berkantor justru menampilkan pemandangan tak sedap. Sampah sisa dari daun-daun hasil pemangkasan pohon tidak diangkut petugas. Bahkan ada dahan yang cukup besar patah dari pohonnya dan daunnya mulai menguning di sekitar kawasan lampu merah di jalan El Tari tetapi dibiarkan tidak dirapikan sudah lebih dari seminggu.

Foto diambil Selasa,26/2/2019.

Ironisnya, onggokan sampah ini dibiarkan menumpuk sebelum pintu masuk dan pintu keluar kantor Gubernur NTT. Pemandangan ini jelas merusak wajah gedung sasando yang megah itu.

Tidak hanya itu, dahan-dahan itu seakan melengkapi tingginya rumput yang sudah menjadi semak belukar  dan menghiasi taman di jalan El Tari Kupang itu. Rumput-rumput di jalan protokol itu dibiarkan tinggi hingga diatas lutut orang dewasa tanpa dipotong.

Pemandangan yang tak elok ini tidak hanya didepan kantor gubernur tetapi juga bisa dilihat sepanjang jalan El Tari hingga rumah jabatan gubernur dan sampai di pertigaan lampu merah Polda NTT

Pertanyaannya apakah semua petugas Kebersihan dari Dinas Kebersihan Kota Kupang buta dengan onggokan yang hampir seminggu itu? Ataukah karena sampah itu ada didepan kantor gubernur jadi harus  Gubernur Viktor turun langsung untuk membersihkan sendiri lagi seperti yang dilakukan selama ini?

Foto diambil Selasa, 26/2/2019.

Antonius, seorang pelintas yang memelototi tumpukan sampah organik itu kepada Fortuna mengungkapkan kekecewaannya terhadap aparat kebersihan Kota Kupang. Baginya sampah itu harusnya segera diangkut sesaat usai dipangkas. Kalaupun ada dahan yang patah harus segera dirapikan karena itu dikawasan elit, jalan protokol—tempat orang nomor satu yang selalu mempelopori aksi bersih-bersih sampah itu berkantor.

Ini dijalan protokol– depan kantor gubernur lagi. Potongan dahan kering dan yang sudah terurai ini bikin kemomos. Rumputnya juga semakin liar tidak dipangkas hingga menjulur ke badan jalan. Ini kampung atau kota,” ujar Antonius kesal.

Dia menyarankan urusan kebersihan di Kota Kupang lebih tepat diserahkan kepada pihak ketiga atau perusahaan outsourching sehingga lebih maksimal dalam mengelola dan membersikkan lingkungan.

Kepala Dinas Kebersihan dan  Lingkungan Hidup Kota Kupang, Yeri Padji Kana coba dihubungi Fortuna terkait tumpukan sampah dan rumput liar dijalan El Tari dan beberapa ruas jalan strategis di Kota Kupang itu belum berhasil terhubung.

Semua kita tentu berharap urusan sampah ini benar-benar menjadi gerakan bersama. Urus sampah tidak boleh hanya menjadi gerakan berbasis proyek atau dana APBD. Petugas mesti peka dan sigap tanpa mengenal waktu dan apalagi menanti kesiapan pencairan dana. Manakala ada dana maka petugas membersihkan. Tapi kalau dana kebersihan diawal tahun belum cair maka sampah juga dibiarkan menunggu. (tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *