Pariwisata Maumere dan “Flores Overland Tour”

Patung Teka nampak gagah menyambut Anda Masuk Kota Maumere, Flores. Foto : Fortuna

Paket Flores Overland harus menjadi alternatif, dan itulah tugas bersama semua Bupati dan DPRD se-daratan Flores Lembata sehingga manfaat pembangunan pariwisata di Labuan Bajo kini harus bisa dirasakan bersama oleh karena adanya sinergi. Bandara  Frans Seda Maumere- Bandara Ende dan Bandara Komodo di Labuan Bajo bisa menjadi pintu masuk dan juga pintu keluarnya wisatawan yang menikmati paket wisata Flores Overland itu.

Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur  sejak dahulu kala menjadi pusat perdagangan dan jasa. Sudah sejak lama pula kota Maumere dikenal sebagai pintu masuk transportasi udara ke Pulau Flores. Bandara Frans Seda sebagai bandara tertua di Flores dianggap sebagai bandara paling nyaman yang bisa didarati pesawat propeler hingga jenis Boeing 737. Fasililitas Bandara ini boleh dibilang sangat memadai baik dari teknis maupun sumber dayanya. Tidak hanya itu, dari dari sisi transportasi laut juga menempatkan Maumere sebagai kota pelabuhan dengan intensitas bongkar muat yang paling ramai di Flores.

`Meski demikian posisi strategis Maumere ini seakan perlahan tergerus dalam lambannya berbagai pembangunan infrastruktur ketimbang kota Labuan Bajo Kabupaten di Manggarai Barat. Hal ini akibat dari kebijakan politik pariwisata nasional untuk Percepatan pembangunan infrastruktur di Labuan Bajo, Manggarai Barat pasca suksesnya Taman Nasional Komodo sebagai The New Seven Wonders tahun 2013. Menjadi Nominator 7 Keajaiban Dunia ini memacu  keterlibatan masif pemerintah pusat dan lintas stakeholders untuk membangun infrastruktur disana. Labuan Bajo kemudian ditetapkan sebagai pilot project dan destinasi unggulan pariwisata nasional.

Kebijakan percepatan pembangunan pariwisata yang didukung lintas sektor di Labuan Bajo itu juga seakan menggeser posisi Maumere sebagai kota jasa dan pusat perdagangan selama sekian dekade ini. Memandang fakta yang terjadi maka Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diego dan Wakil Bupati Romanus Woga tidak mau tinggal diam. Keduanya berkomitmen untuk mengembalikan kejayaan Maumere sebagai sentral perdagangan dan jasa di Pulau Flores.

Kalau Labuan Bajo maju karena pariwisata maka Maumere juga harus disejajarkan dari sisi kesiapan infrastruktur dan SDM dalam rangka mendukung kemajuan bersama. Pariwisata di Maumere dan Labuan Bajo harus terkoneksi sebagai sebuah kawasan wisata Flores. Menjual pariwisata Flores dengan konsep Flores Overland sangat tepat katanya. Hal ini dikarenakan kabupaten Sikka juga mempunyai potensi taman laut yang mendunia, selain jadi destinasi yang kaya budaya, tradisi, alam, religi dan juga berbagai daya tarik wisata minat khusus.

Dalam konteks ini Bupati Roby Idong dan Wabub Romanus menginginkan agar pembangunan pariwisata Flores harus sinergis dan terintegrasi sebagai kepentingan  bersama kawasan. Pariwisata Flores harus  menjadi “kegelisahan” dan visi bersama semua bupati se-daratan Flores-Lembata untuk menjual dan memasarkan keunikan Flores yang lengkap dan beranekaragam itu secara bersama-sama. Bag mereka penjualan paket wisata tidak boleh berhenti hanya sampai di Labuan Bajo, tetapi harus menjalar ke Ruteng- Borong- Bajawa- Nagekeo, Ende hingga Maumere, Larantuka dan Lembata.

Bupati Fransiskus Roberto Diego Idong kepada Fortuna di Maumere belum lama ini mengatakan paket Flores Overland harus menjadi alternatif, dan itulah tugas bersama semua Bupati dan DPRD se-daratan Flores Lembata sehingga manfaat pembangunan pariwisata di Labuan Bajo kini harus bisa dirasakan bersama oleh karena adanya sinergi. Dalam konteks  ini Bupati Roby Idong (sapaan Fransiskus Diego, red)  menginginkan agar Bandara  Frans Seda Maumere- Bandara Ende dan Bandara Komodo di Labuan Bajo bisa menjadi pintu masuk dan juga pintu keluarnya wisatawan yang menikmati paket wisata Flores Overland itu.

Pusat Perdagangan dan Jasa

Pemerintah Kabupaten Sikka kini tengah menyiapkan berbagai program strategis dan rencana aksi untuk menjadikan Maumere sebagai pusat perdagangan dan jasa. Demi alasan itu infrastruktur perhubungan darat laut dan udara juga juga dukungan sarana akomodasi harus ditingkatkan. Bandara Frans Seda Maumere sebagai pintu masuk Flores misalnya harus terus ditingkatkan baik dari sisi kualitas fisik, SDM hingga manajemen pelayanan.

Bupati Roby mengatakan Runway Bandara ini akan diperlebar 45 meter dan diperpanjang hingga 2500 meter menuju laut. Tujuanya bisa didarati pesawat berbadan lebar dan mengakut lebih banyak penumpang. Dengan demikian banyak orang mau datang ke Maumere karena harga tiketpun dipastikan murah. Dia berharap lebih banyak pesawat yang singgah di Maumere dengan tujuan dari Kupang, Denpasar, Makasar, Labuan Bajo, Lombok bahkan penerbangan internasional langsung dari Bandara Frans Seda Maumere.

Pemkab Sikka juga menginginkan agar Pelabuhan Lorens Say Maumere segera mungkin menjadi pelabuhan ekspor impor. Dengan status ini maka semua aktivitas bongkar maut hingga pemasaran produk- produk pertanian, peternakan termasuk hasil perikanan yang menjadi komoditi unggulan dari kabupaten Sikka dan kota-kota lain di Flores bisa terkonsentrasi di pelabuhan Lorens Say Maumere. Komoditi unggulan Flroes ini selanjutnya dikirim langsung ke berbagai kota tujuan di Indonesia dan juga ke negara-negara tujuan ekspor.

Terkait pemasaran dan skim ekspor produk-produk unggulan tersebut Roby Idong berharap kalau bisa tidak dalam bentuk bahan baku tetapi produk setengah jadi atau produk olahan langsung  dari pabriknya di Maumere untuk dikirim keluar.

Pasar Moderen dan Terminal

Untuk menjadikan Maumere sebagai pusat perdagangan  dan jasa maka dukungan sarana prasarana lainnya menjadi urusan mendesak. Selain fasilitas bandara dan pelabuhan laut yang kian memadai, dukungan akomodasi perhotelan, jasa perdagangan hingga pusat perbelanjaan moderen menjadi target yang ingin dibenahi pemerintah kabupaten Sikka.

Bupati Roby bahkan bertekad mengalihgfungsikan pasar bertingkat Maumere menjadi pasar moderen agar bisa menyiapkan segala kebutuhan masyarakat. Lokasi pasar tingkat itu akan ditawarkan kepada investor untuk membangun pasar moderen.

Langkah ini diambil karena Maumere terus bergerak menjadi kota maju dan pusat jasa yang tentu sangat membutuhkan fasilitas pasar moderen sekelas swalayan, mall ataupun pusat bisnis lainnya. Dengan pasar moderen ini diharapkan semua kebutuhan warga ada dan tersedia disana.

Fasilitas itu juga nantinya menjadi pusat hiburan warga selain untuk memenuhi semua keperluan wisatawan dan investor yang berdatangan ke Maumere.

“Kami sudah melihat ke arah itu. Sudah survei dan  pasar bertingkat bisa dijadikan pusat perbelanjaan moderen sekaligus pusat keramian kota. Sudah ada investor yang melirik untuk membangun pasar moderen apakah sifatnya swalayan, mall atau sejenisnya. Semua kebutuhan warga tersedia disana. Apalagi tempat ini memang strategis dan jadi pusat keramaian yang mudah dijangkau dari segala arah,” ujar Bupati Roby kepada Fortuna di Maumere belum lama ini

Baginya pembangunan pasar moderen itu tidak serta merta mengorbankan pedagang kecil yang selama ini berjualan di pasar tingkat. Langkah pertama tentu membenahi pasar Alok, menyiapkan tempat baru bagi para pedagang sebelum dipindahkan perlahan. Pasar Alok sendiri katanya akan ditata lagi menjadi pusat penjualan sembako dan kebutuhan dapur lainnya yang lebih rapih.

Dia juga berjanji akan segera membangun sebuah terminal tak jauh dari pasar Alok dengan demikian semua angkutan pedesaan yang membawa sayuran buahan dan hasil pertanian lainnya  bisa masuk ke pasar dengan mudah. Terminal ini juga baik dalam rangka mengurangi beban biaya petani di desa ketika ingin berjualan produknya di pasar Alok karena letaknya dekat pasar. (tim/42na)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *