Cahyani Inginkan Ada BLK Tenun Ikat

Ketua Dekranasda Kabupaten Sikka, Maria Cahyani Idong dalam Balutan Pakaian Adat Sikka Krowe. Foto : Dok. Pribadi

“Kekayaan motif, ragam, corak dan bahan dasar pembuatannya menjadi mahakarya nasional yang gaungnya bahkan terus mendunia. Namun popularitas tenun ikat NTT ini suatu saat diyakini punah tak berbekas oleh karena putusnya mata rantai produksi”

Tenun ikat Maumere sudah menjadi konsumsi publik. Dalam berbagai pameran dan pagelaran fashion show ditingkat nasional maupun dunia, aneka motif dan corak tenunan Maumere selalu menjadi thema yang dibidik para designer dan penikmat fashion. Ragam dan corak motif dari kota ini selalu mengundang decak kagum pengunjung. Penggunaan pewarna alami dari tumbunan dan akar-akanr yang khas juga menjadi satu alasanya. Tidak heran pasaran tenun ikat Maumere juga kini merambah pangsa pasar fashion nusantara dan internasional.

Selain untuk kepentingan fashion, motif-motif khas Maumere juga cenderung dipilih untuk bahan baku pembuatan berbagai jenis handicraft dan aksesories dengan harga pasar yang fantastis. Meski pasarnya gemilang, rumah produksi dan sentra-sentral industri makin berkurang. Para penenun yang selama ini didominasi kaum ibu-ibu usia tua mulai memasuki fase “jenuh”.

Dimata Ketua Dekrasada Kabupaten Sikka Maria Cahyani, berkurangnya volume produksi tenuna ikat Kabupaten Sikka menjadi kandala serius ditengah meningkatnya permintaan pasar bahan baku tenun ikat. Fenomena ini harus disikapi dengan menghadirkan wadah yang secara serius menggali melestarikan, memotivasi lebih banyak  generasi untuk menekuni industri ini. Salah satu solusinya yakni dengan mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) Tenun Ikat di Maumere.

BLK itu nantinya menjadi laboratorium untuk mendidik, mendampingi serta meningkatkan nilai jual produksi tenun ikat Maumere sesuai dengan standar nasional. Wadah ini jadi ruang bagi semua orang baik ibu-ibu, wanita muda bahkan pria yang tertarik dan ingin belajar tentang tenun ikat. Di BLK inipula semua urusan tenun ikat mulai dari persiapan bahan baku, pembuatan ikat motif, bahan baku alami dan semua jenis kebutuhan untuk menghasilkan sebuah  produk tenun ikat dipelajari. Melalui Dekranasda tentu akan memfasilitasi apa yang menjadi kandalanya termasuk membantu urusan pemasaran.

“Benar bahwa selama ini urusan menenun hanya jadi kerjaan ibu-ibu lanjut usia. Itupun hanya menjadi pekerjaan sampingan yang tidak harus dilakukan meski pangsa pasarnya sangat besar. Tidak banyak wanita muda  kini mau berlatih menenun karena takut dianggap kolot, kampungan dan tidak hits meski peluang kerja dan bisnis disegmen ini sangat besar. Melalui BLK ini kita rubah pola pikir masyarakat. Kita ingin mata rantai tenun ikat ini tidak punah bahkan hilang termakan zaman,” ujar Cahyani kepada Fortuna di Maumere belum lama ini.

Benar bahwa tenun ikat NTT saat ini menempati ranking I nasional. Kekayaan motif, ragam, corak dan bahan dasar pembuatannya menjadi mahakarya nasional yang gaungnya bahkan terus mendunia. Namun popularitas tenun ikat NTT ini suatu saat diyakini punah tak berbekas oleh karena putusnya mata rantai produksi.

Terbayang tidak, suatu saat semua  kekayaan motif dan tenun ikat yang kita miliki hanya tinggal nama. Aset besar Maumere ini hanya akan jadi karya mesin pabrikan yang adalah bagian dari copy paste/jiplakan mesin. Kita bakal kehilangan orang-orang hebat, mama-mama penenun dari kampung-kampung  akan pergi meninggalkan semua karya emas ini.

Kehadiran BLK ini juga katanya menjadi mitra stakeholders dan siap bekerjasama dengan semua rumah produksi, sanggar tenun di kabuapten Sikka dan juga semua pihak yang sama-sama konsern di bidang ini. Bahkan para pelatih atau instruktur akan dihadirkan dari mereka yang sudah mahir menenun di sanggar- sangar tenun ikat juga dari para perancang model lokal dan nasional yang siap mendukung program ini.

Memberi nilai lebih pada sebuah produk kerajian terutama askesories berbasis tenun ikat juga menjadi target yang harus dicapai BLK ini. Dengan bermodalkan sisa kain tenun (percah) seorang pengrajin juga bisa dilatih menghasilkan puluhan jenis dan karya kreatif yang kini lagi seksi peminatnya. Cinderamata dari tenun ikat juga bisa didapaktan dari produk seperti dompet, tas, ikat pinggang, sepatu, gelang, baju dan lain sebagainya bisa dilahirkan dari rumah produksi ini.

Selain tenun ikat, kalau nanti BLK di Sikka dibangun maka juga akan menjadi laboratorium pengembangan produk-produk kerajinan daerah lainnya yang menjadi unggulan dikabupaten Sikka.

Seorang Wisatawan Asing Mendemonstrasi Proses pembuatan tenun Ikat asal Kabupaten Sikka di Sanggar Doka Tawa Tana. Foto : Kletus Beru

Kerjasama Dengan Sekolah-sekolah

Urusan tenun ikat yang membanggakan ini harus jadi urusan bersama. Itulah sebabnya Cahyani mengatakan generasi muda kini tidak boleh tinggal diam. Mulai dari sekolah-sekolah dasar hingga menengah, ilmu dan praktek tentang tenun ikat harus digalakan secara masif guna melestarikan mahakarya ini.

BLK ini akan menjadi tempat belajar semua kalangan terutama pemuda-pemudi juga anak sekolah yang mau berkunjung dan menyaksikan proses pembuatan tenun ikat kabupaten Sikka. Kita akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan sekaligus kunjungi sekolah-sekolah dan motivasi juga hal ini apalagi pemerintah propinsi juga sudah punya tekad yang sama untuk melestarikan tenun ikat,”ujarnya. (Tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *