Sanggar OSA, Kenalkan Sumba Melalui Seni

Seni budaya merupakan kekuatan hakiki yang menjadi identitas sebuah daerah. Satu negeri yang kaya budaya juga adalah Pulau Sumba di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Selain menyabet predikat sebagai pulau terindah di dunia, Sumba menawarkan kekayaan seni budaya yang tak habis-habisnya. Potensi itu ada dan menyatu dengan orang Sumba bahkan sejak dahulu kala. Sayangnya aset seni budaya warisan leluhur ini nyaris punah tergerus arus modernisasi, digitalisasi dan oleh karena pesatnya perkembangan karya-karya musik kontemporer.

Alasan itulah yang menginpirasi lahirnya Sanggar OSA di tanah Sumba. Sanggar seni budaya itu didirikan pada tanggal 1 September  2012 atas inisiasi Elson Umbu Riada. Sanggar ini menjadi rumah belajar dan wahana pembinaan yang diperuntukan bagi kaum muda dalam bidang seni budaya Sumba khususnya di Kabupaten Sumba Tengah

Meski baru beberapa tahun hadir, Sanggar Seni OSA telah nyata berkaya membangun Sumba. Wadah non komersial ini berpartisipasi aktif dalam beberapa kegiatan sosial keagamaan, event kesenian se-pulau Sumba khususnya dalam bidang seni musik. Antusiasme dari kaum muda pun terasa sangat hangat. Mereka secara spontan bergabung dan ikut berlatih mengasah kreatifitas diri. Benar bahwa Sanggar OSA  telah berkontribusi menciptakan seniman-seniman muda berbakat terutama dalam seni tradisional, seni ptertunjukan dan musik daerah.

Pendiri Sanggar OSA, Elson Umbu Riada berkomitmen untuk terus berkarya melestarikan seni budaya Sumba yang sangat kaya itu. OSA telah menjelma menjadi sebuah laboratorium seni budaya yang sangat strategis ditengah tantangan milenial. Satu impian Elson yakni membawa Sumba kesohor ke kanca  internasional melalui karya musik ethnik

Adapun Sanggar OSA mengembangkan beberapa sub musik diantaranya OSA vocal group, OSA mini choir, OSA accapella, OSA band/akustik, OSA tari kreasi, dan OSA musik tradisional. Tidak hanya itu, ide kreatif Elson dan kawan-kawan juga mampu menyiapkan wadah bagi generasi muda yang punya talenta di bidang informasi, entertaint dan broadcasting. Segmen ini ditandai dengan mendirikan Radio Komunitas OSA pada 10 Maret 2017 dan menerbitkan buletin yang diberinama OSA online.

Karya Monumental

Dalam kiprahnya selama kurang lebih 6 tahun sejak 2012, banyak karya monumental ditorehkan OSA bagi kepentingan pelestarian dan prestasi generasi muda di Sumba. Beberapa diantaranya  yakni  terlibat dalam perlombaan Vocal Group, Pop Singer Pagelaran Budaya se-Sumba bahkan pernah beberapa kali menyabet Juara I Lomba Vocal Group Antar Gereja. Sanggar OSA juga sukses meluncurkan satu album Lagu Daerah Sumba Tengah yang dilaunching tahun 2014 lalu.

Satu prestasi yang patut diapresiasi ketika Sanggar OSA dan Bank NTT bekerjasama menggelar hajatan akbar Konser Raya Merdeka 1; sebuah konser band dalam rangka memperingati kemerdekaan RI di Sumba pada tahun 2015. Kegiatan positif lainnya yakni terlibat dalam Sayembara Lomba Paduan Suara “AYO BANGUN NTT” tahun 2017, mengikuti festival seni tingkat SMA terdiri dari Vokal Group, Solo Putra dan putri selain terlibat dalam konser rohani “Puji-Pujian Bagi Tuhan“. Terakhir crew OSA juga mengikuti Pagelaran Seni Budaya Sumba Ke XIX di Sumba Tengah September 2018. Bahkan beberapa personi dan Tim Osa juga terus tampil dalam berbagai perfomance di Bali dan kota-kota lainnya

Elson, Sang Pelopor Seni

Semua kreatifitas dan hasil yang diraih kontestan dari Sanggar OSA tentu tidak terlepas dari sosok Elson Umbu Riada. Dia punya talenta seni yang mumpuni. Dia mampu menggerakan tim seninya untuk terus berkreasi. Karya musik mereka selalu berangkat dari tema-tema lokal nan original. Terbaru, Tim Osa mampu menciptakan aneka arransemen musik tradisional untuk mengiringi tari kreasi Sumba Tengah. Satu yang pernah dilombakan yakni tarian Riki Meri dengan musik khas OsamuethniC.

Hingga saat ini Sanggar seni OSA telah menciptakan lebih dari 1000 judul lagu bahkan beberapa lagunya  sering diperlombaankan baik pop singer, vocal grup, duet  di Kabupaten Sumba Tengah dan se-daratan Pulau Sumba. Diantara lagu-lagu itu ada lagu  lilin untuk Sumba, Lestari Tanah Pusaka, Lodawa, Mauri Yehu, Tana Ma Pa Ihi, Tanah Abadi, Kemarau, Harmony Wala Wiwi. Belakangan  Tim OsamuethniC mampu memadukan Arransemen Kolaborasi musik tradisional Sumba denga alat musik modern.Semua karya lagu ciptaan OSA ini dapat juga dilink di chanel Youtube OSA ONLINE.

Tidak hanya itu, melalui Radio Komunitas OSA  mereka juga terus memperkenalkan informasi tentang alat-alat musik tradisional yang telah dilupakan oleh masyarakat Sumba Tengah ke dunia luar lewat postingan atau video di Fan Page OSA Online dan akun Youtube OSA_Orang Sumba Asli.

Saat ini Elson bersama lebih dari 50 orang anggotanya yang terbagi dalam tim OSA Junior dan OSA Senior. Dengan komposisi personil inilah Elson meramu Sanggar OSA menjadi ruang kreasi anak muda sekaligus wadah pelestarian seni budaya di Sumba Tengah.

Benar bahwa seni budaya Sumba Tengah sangat banyak namun kini menjadi langka dan memudar tergilas zaman. Melalui Sanggar Seni OSA, seni budaya tersebut tak lagi sekedar menampilkan pesona estetika semata melainkan juga menjadi corong promosi Sumba kepada dunia tentang filosofi kehidupan orang Sumba yang santun, bergotong royong  dan cinta damai.

“Takad kami Sanggar Seni OSA dan Radio Komunitas Seni OSA harus menjadi pelopor seni tersebut agar kekayaan budaya Sumba tetap ada dan berkembang dari zaman ke zaman,” ungkap Elson optimis. (Linda/42na)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *