Soal Pengurus Koperasi Jadi “Investor” VS Rentenir

Catatan Lepas Mengurai Keluhan Anggota Kopdit Pintu Air

Tentang Koperasi,  ada seorang pakar bernama Arifinal Chaniago mendefinisikannya sebagai suatu perkumpulan  yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum, yang memberikan kebebasan kepada anggota untuk masuk dan keluar, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya.

Definsi ini tentu benar berdasarkan pengalaman empirik pergerakan koperasi di Indonesia termasuk di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang kini dinobatkan sebagai sebuah propinsi koperasi.

Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya, dimana setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil koperasi. Pembagian keuntungan koperasi yang disebut Sisa Hasil Usaha atau SHU biasanya dihitung berdasarkan andil.

Namun demikian ada yang salah kaprah dengan kehadiran lembah keuangan non bank sejenis koperasi ini. Beberapa anggota bahkan pengurus belum memahami sungguh kalau koperasi itu adalah sebuah wadah berkumpul orang-orang dengan semangat yang sama, senasib sepenanggung dan ingin bergotong royong atau mau bahu-membahu meringankan beban hidup.

Wadah dan Saham Bersama

Memutuskan bergabung di sebuah koperasi dan telah menyertakan sahamnya maka sesungguhnya dia adalah pemilik sah lembaga itu. Koperasi itu menjadi miliknya, tempat dimana dia dapat menyimpan uang, meminjam uang dan hak-hak lainnya sebagai seorang pemilik usaha. Dana simpanannya mendapatkan bunga dan ketika mau meminjam uang dari lembaga itupula dia pasti dikenakan bunga pinjaman yang sangat minimal dan terjangkau sebagai anggota. Banyak pula produk pinjaman terbaik yang ditawarkan lembaga itu baginya selain mendapakan hak Sisa Hasil Usaha (SHU) dan keuntungan non materi lainnya yang disiapkan lembaga bila anggotanya meninggal dunia atau mengalami musibah lainnya.

Nah untuk menyalurkan semua kepentingan anggota sebagaimana visi misi mulia dari hadirnya sebuah koperasi maka perlu ada orang yang mengurus. Para pengurus yang mengelola lembaga tersebut juga dipilih orang anggota. Mereka tentu orang-orang pilihan dengan kepasitas yang teruji. Kewajiban pengurus adalah melayani anggota dengan paripurna. Tidak membedahkan status sosial apalagi karena dasar suka atau tidak suka.

Pengurus juga wajib menjelaskan apapun yang menjadi pertanyaan bahkan keluhan yang disampaikan anggota. Lewat forum evaluasi yang dilakukan secara berkala maka pergerakan usaha maupun roda organisasinya bisa diperbaharui. Kalaupun nantinya dalam perjalanan para pengurus mengelola usaha itu tidak sesuai dengan aturan main yang disepakati bersama maka mereka dibisa diberi sanksi bahkan diberhentikan. Sekali lagi semuanya ini hak anggota. Disana, di koperasi ada yang namanya Rapat Anggota Tahunan (RAT). Rapat ini menjadi forum yang disiapkan koperasi utntuk mengevaluasi segala kebijakan dan pengelolaan manajamen perkoperasian termasuk membicarakan progres dan rencana kerja di tahun mendatang.

Menjadi masalah ketika seorang anggota koperasi  merasa diri hanya sebagai seorang “nasabah” atau bahkan sebagai penonton. Anggota  seakan beranggapan bahwa posisi mereka  hanya sebagai pekerja dan atau “kuda tunggangan” pengurus. Sadisnya, beberapa anggota bahkan keliru karena melihat para pengurus adalah semacam investor. Uang yang mereka pinjam dari koperasi itu adalah milik investor. Sehingga kalau ada bunga yang dikenakan atas pinjaman mereka dipandang sebagai beban yang harus disalahkan kepada pengurus.

Kata mereka, bunganya terlalu tinggi dan terlampau besar. Tidak seperti lembaga-lembaga keuangan lain sekelas bank yang mungkin lebih kecil karena ada subsidi bunga dari pemerintah seperti dana KUR untuk pengembangan usaha. Mereka juga membandingkan bunga koperasi rata-rata 1,5%- 2,5% yang selama ini diterapkan koperasi umumnya tidak seperti dana pinjaman permodalan dari pemerintah semisal program “Anggur Merah” atau Dana Pemberdayaan lainnya yang tidak dikenakan bunga. Maklum mental masyarakat kita memang cenderung HG- Harap Gampang dan mau yang gratis-gratis tanpa tantangan.

Nah, sikap mental dan pola pikir ini mestinya dihilangkan apabila seseorang ingin menjadi anggota koperasi. Karena koperasi itu adalah lembaga keuangan non bank. Dia punya aturan main sendiri, punya produk layanan serta format pelayanan juga yang nampak berbeda.

Yang paling penting dari koperasi itu adalah wadah yang mengedepankan pelayanan anggota, peduli atau empati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan. Saling melayani sesama atau gotong royong menjadi roh utama dari hadirnya sebuah koperasi. Itulah sebabnya rasa sepenanggungan, bertanggungjawab dan rasa memiliki koperasi itu hendaknya menjadi point yang paling penting.

Mental dan pola laku ini harus ditunjukan seorang anggota misalnya ketika dia mendapatkan pelayanan pinjaman koperasi, dia harus memanfaatkan pos pinjaman itu dengan sungguh sesuai peruntukannya; mengembalikan pinjaman plus bunga secara teratur karena dana yang dipinjam itu milik bersama dan pasti ada sesama anggota lain juga yang membutuhkan jikalau dikembalikan tepat waktu

Gerahnya Ketua Kopdit Pintu Air

Atas alasan ini maka betapa kagetnya Ketua KSP Kopdit Pintu Air Yakobus Jano ketika mengetahui ada anggota Pintu Air yang mengeluh kalau bunga 2% yang dikenakan anggota atas setiap produk pinjaman di Kopdit Pintu Air selama ini memberatkan. Keluhan itu disampaikan beberapa anggota kepada Pengurus dalam sebuah forum tatap muka di Maumere belum lama ini. Kepada pengurus Pintu Air, para anggota menanyakan kenapa bunga pinjaman Pintu Air sangat tinggi padahal ada beberapa lembaga keuangan lain murah dan tidak mencekik leher.

“Sangat tinggi bunga 2% dan kami sangat terbeban, mohon dipikirkan untuk samakan dengan yang lain. Bapak mereka jangan seperti investor dan kami hanyalah pekerja untuk kalian” begitu ungkap Yakobus Jano kepada Fortuna melalui selulernya belum lama ini mengutip beberapa pertanyaan anggota dalam forum itu.

Yabous Jano kemudian menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya adalah koperasi. Karena adalah koperasi maka antara anggota dan dirinya punya hak yang sama. Sama-sama adalah pemilik koperasi. Jadi kalau ada pikiran anggota bahwa mereka yang punya saham dikoperasi itu hanyalah sebagai pekerja dan pengurus dianggap semacam investor itu sebuah kekeliruan fatal. Bagiya Antara anggota dan pengurus saling membutuhkan. Ada simbiosis mutualisme. Tidak ada penguasa tunggal disebuah lembaga yang namanya koperasi karena koperasi itu milik bersama.

“Kita sama-sama sebagai pemilik lembaga ini. Ada aturan main yang baku dari sisi regulasi pemerintah pusat, ada pula kesepakatan pengurus lengkap dengan Semua anggota yang rutin dilakukan setiap bulan, triwulan, semester hingga RAT Tahunan. Terkait penetapan bunga 2% Pinjaman itu sudah 23 tahun diterapkan sejak koperasi ini masih berupa sebuah arisan hingga saat ini sebagai Koperasi Primer Nasional dengan anggotanya sekitar 250.000-an orang. Jadi ini bukan soal besaran bunganya tetapi bagaimana uang lembaga itu dikelola oleh manajemen yang profesional demi kemanfaatan bersama. Kami ada karena anggota dan  tugas kami melayani anggota” terangnya

Ada produk-produk unggulan KSP Pintu Air baik berupa simpanan, pinjaman hingga produk-produk lainnya yang menunjukan keberpihakan Pintu Air pada kelompok kecil. Ada kelompok yang selama ini dikenal dengan sebutan NTTB (Nelayan Tani Ternak dan Buruh) dan juga masyarakat umum yang membutuhkan. Kalaupun ada produk pinjaman dengan perlakukan khusus atau kebijakan-kebijakan yang dilakukan pengurus tentu sudah dalam kalkulasi yang matang agar lembaga itu tidak bubar dan anggota juga tidak dirugikan.

Tugas pengurus hanyalah menjadi mediator dan pelayan untuk mempermudah kebutuhan anggota. Jadi saya tegaskan bahwa pengurus koperasi apalagi Pintu Air sama sekali bukan investor yang menyalurkan uangnya kepada anggota dan mendapatkan bunga besar dari situ. Ini yang harus dipahami sungguh bahwa semua anggota adalah satu kesatuan dalam keluarga besar koperasi ini. Ada anggota maka ada pengurus dan ada pengurus oleh karena anggota. Pengurus dipilih oleh anggota dan bertugas melayani angota secara paripurna.  Kalau ada anggota yang merasa pelayanan pengurus tidak beres dan keluar dari aturan main maka bisa dievaluasi pada forum yang tepat untuk dibebastugaskan bahkan diberhentikan, “ tegas Yakobus sosok low profile yang telah membawa Pintu Air menyabet prestasi sebagai Koperasi Primer Nasional ini

Yakobus kembali menegaskan bahwa anggota Kopdit Pintu Air bukanlah pengguna jasa. Baik anggota dan pengurus adalah sesama pemilik koperasi. Punya hak dan kewajiban yang sesama sesuai kebijakan lembaga yang sudah ditetapkan bersama.

Dikatakan lembaganya memang menerapkan bunga 2% flat untuk semua pinjaman dan itu sudah berlaku sejak koperasi itu hadir tahun 1995. Ada juga bunga untuk Deposito 1,25%, bunga simpanan saham 1%. Sidandik 1% Sidanika 0,75%, Siduka 1,25 persen dan lain sebagainya. Kalaupun ada Dana Pihak Ketiga (DPK) tentu pengurus sudah mengkalkulasi secara matematis terkait bunga yang dikenakan. Intinya semua produk unggulan KSP Kopdit Pintu Air ini sudah dalam kesepakatan bersama pengurus dan semua anggota yang telah diperhitungkan secara matang demi kemanfaatan bersama dan juga esksitensi lembaga.

Antara Bunga Koperasi 2% atau Rentenir 20%

Keluhan anggota ini seakan mengingatkan kita akan begitu banyaknya akses permodalan liar yang selama ini tumbuh subur diluar. Pinjaman dengan bunga 2% dikeluhkan anggota meski diluar sana ada juga yang meminjamkan modalnya dengan bunga yang mencekik hingga mencapai 20%. Perilaku dimasyarakat ini tidak bisa dipungkiri bahkan para pemilik modal seakan menjadi “bos besar” yang menerapkan bunga pinjaman secara sepihak, semena-mena dengan tujuan untuk mengeruk uang warga.

Yakobus Jano mengatakan penyesalannya karena disatu satu sisi  masyarakat kita masih dikibuli tapi disisi lain mereka butuh uang segera. Praktek dimasyarakat ini menunjukan seakan-akan tidak ada lagi sumber pinjaman lain yang lebih manusiawi. Padahal banyak koperasi yang tumbuh subur saat ini yang tentunya menjadi wahana strategis bagi masyarakat untuk mengakses permodalan.

“Bayangkan 2 % saja anggota kita komplain, tetapi praktek diluar sana sangat mengggurita. Ada yang berani pinjam di rentenir dengan bunga hingga 20%. Transaksi ini terus terjadi karena satu sisi masyarakat kita belum melek finansial dan tidak mau mengakses sumber permodalan yang resmi karena mungkin beranggapan proses sulit dan lain-lain padahal kita sudah terapkan standar pelayanan yang sangat minimal. Ini juga mungkin adalah bagian dari program literasi berkoperasi yang perlu terus diintensifkan,” ujarnya menutup bincang-bincang dengan Fortuna. (fidel/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *