Amandus : Isu Perbatasan Jadi Bergaining Pariwisata TTU

Amandus Nahas, Wakil Ketua DPRD TTU. Foto : Istimewa

Timor Tengah Utara (TTU) adalah salah satu kabupaten di Pulau Timor, Propinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan negara Republik Demokratic Timor Leste. Beberapa kabupaten lainnya yakni Kupang, TTS, Belu dan juga Kabupaten Malaka.

Secara kasat mata belum nampak geliat pembangunan berarti yang disambut gegap gempita oleh pemerintah daerah setempat selain sentuhan gedung megah di pintu perbatasan. Padahal, isu perbatasan kini menjadi isu nasional yang harusnya ditangkap sebagai peluang strategis untuk menggenjot pembangunan lintas sektor di masing-masing daerah.

Kawasan Wini di kabupaten TTU yang berbatasan dengan Distrik Oecusi Timor Leste misalnya kini tengah didandani sebagai kota kecil yang sangat indah. Pesona ini cepat atau lambat berpotensi menopang percepatan pergerakan roda perekonomian daerah. Disini, pembangunan sektor pariwisata bisa menjadi salah satu sektor kunci yang harus terus dimaksimalkan.

Wakil Ketua DPRD TTU Amandus Nahas mengatakan posisi strategtis Wini di kabupaten TTU yang berbatasan langsung dengan Oekusi Timor Leste, mesti jadi bergaining bagi Pemda untuk mendorong pembangunan infrastruktur dan suprastruktur sebagai pemicu pergerakan ekonomi daerah berbasis pariwisata.

Segala urusan pembangunan  yang berkaitan dengan kepariwistaaan di kabupaten TTU katanya bisa diarahkan untuk menata kawasan enclave Wini menjadi sebuah destinasi baru yang seksi dan strategis guna mendongkrak kemajuan daerah dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Pemerintah pusat memang telah menata wajah perbatasan secara besar-besaran untuk mendorong kemajuan lintas sektor. DPRD tentu minta pemerintah daerah juga maksimalkan isu perbatasan yang kini menjadi isu nasional untuk terus menata sesuai kewenangan daerah.  Posisi strategtis Wini TTU yang berbatasan langsung dengan Distrik Oekusi Timor Leste ini mesti jadi bergaining Pemda untuk mendorong pembangunan infrastruktur dan suprastruktur sebagai pemicu pergerakan ekonomi daerah berbasis pariwisata,” ujar Amandus kepada Fortuna belum lama ini di Kefamenanu

Benar bahwa sebagai daerah perbatasan maka semua infrastruktur pendukung dan fasilitas layanan publik harus digiatkan. Pelabuhan Wini mesti segera dintensfikan sebagai pelabuhan bongkar muat utama untuk memasok berbagai kebutuhan produk sembako dan lainnya langsung dari Surabaya. Demikian halnya kawasan Pantai Tanjung Bastian dan cekungan Wini yang dibentengi  gunung batu yang eksotis itu mesti “dijual” sebagai sebuah daya tarik wisata yang seksi dan memicu minat kunjungan wisatawan

Dikatakan penataan kota Wini yang sudah memadai harus diikuti dengan geliat Pemda membuka peluang investasi kepada calon investor untuk berinvestasi di Wini. Investor bisa menyasar modalnya dibidang perhotelan, perumahan/pemukiman juga pusat-pusat perbelanjaan. Para pengusaha dan masyarakat lokal juga diminta  untuk membangun homestay dan atau usaha kuliner yang bisa disuguhkan kepada tamu maupun siapa saja yang berkunjung ke pintu perbatasan itu.

Pantai Wini yang mulai digandrungi Kapal Pesiar Asing (Yatch). Foto ; Fortuna

Kepada masyarakat, politisi partai Golkar itu mengajak untuk menyambut kemajuan Wini dengan menyiapkan produk-produk souvernier semisal tenun ikat, industri anyaman, gerabah hingga pangan lokal yang siap dipasarkan kepada pengunjung dan wisatawan.

Dukungan untuk pengembangan sektor pariwisata di Wini juga tidak terlepas dari dukungan media masa untuk turut mempromosikan Wini di kabupaten Timor Tengah Utara sebagai kawasan wisata baru yang unggul dan bernilai jual tinggi karena pesona alam dan budayanya.  Kiat lain katanya yakni meningkatkan pagelaran event budaya daerah, event nasional dan festival perbatasan yang melibatkan tim kesenian dari kedua negara. Hal ini penting dalam  rangka kampanye “Damai di Batas”. (tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *