Ritual Sakral Menyambut Air di Pulau Adonara

Teks dan Foto : Amar Ola Keda

Wanita-Wanita Adonara menadah air yang disalurkan dari pipa setelah diritualkan belum lama ini. Foto : Amar Ola Keda

Kalau mendengar kata Flores, mungkin sahabat traveler langsung tertuju pada Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat dan Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende, NTT yang menawan. Keindahan Labuan Bajo dan danau Kelimutu yang memiliki tiga warna berbeda tersebut memang tidak bisa dipungkiri. Flores sendiri pun cukup populer akan wisata alam yang beberapa masih belum terjamah. Salah satu pesona wisata alam yang tidak hanya indah namun memiliki nilai-nilai sosial adalah Pulau Adonara.

Pulau Adonara terletak di Kabupaten Flores Timur.  Pulau ini dekat sekali dengan Larantuka, ibu kota Flores Timur. Hanya perlu menyebrang menggunakan perahu motor selama kurang lebih 5 menit dari Larantuka, anda sudah langsung tiba di Pulau Adonara.

Adonara memiliki sejumlah pantai menawan, sebut saja Pantai Watotena yang memiliki pasir putih bersih dan air laut bergradasi hijau kebiruan. Keistimewaan pantai ini adalah adanya batu-batu magma bermacam bentuk yang berada di bibir pantai. Teman traveler juga bisa menikmati matahari terbenam di pantai ini, yang dapat memanjakan mata.

Selain itu, terdapat Pantai Pasir Meko yang berada di Desa Meko, Kecamatan Witihama. Terdapat tiga keunikan Pantai Pasir Meko, bentuk pantai sangat kecil memanjang di tengah-tengah laut. Pasirnya berwarna putih dengan sedikit pink akibat pecahan karang. Pantai ini diapit oleh tiga gunung berapi yang masih aktif, gunung api Ile Ape, gunung api Ile Boleng, dan gunung Batubara.

Selain memiliki beragam pantai-pantai yang indah, Pulau Adonara juga memiliki ragam budaya yang unik. Salah satu budaya yang hingga saat ini masih dilestarikan adalah ritual penyambutan atau peresmian air minum. Masyarakat adat Adonara menyebutnya ‘Wai Gere Lewo’.

Ritual ini digelar saat warga desa di Adonara saat berhasil mengalirkan air dari mata air ke kampung. Sebelum ritual adat digelar, masyarakat Adonara belum berani mengkonsumsi air karena meraka berkeyakinan, air yang belum diresmikan secara adat akan membawa malapetaka bagi diri dan keluarganya. Seluruh masyarakat Adonara punya keyakinan, air adalah jelmaan leluhur perempuan yang  harus dihormati. Karena diyakini sebagai jelmaan leluluhur perempuan, ritual adat penjemputan pun dilakukan oleh perempuan. Air dan perempuan bagi masyarakat Adonara, adalah sumber kehidupan yang harus dilindungi dan dijaga hingga akhir hayat.

Saat hari digelarnya ritual adat, seluruh masyarakat desa berkumpul di rumah adat kepala suku. Semua aktivitas lain dihentikan. Tibalah saatnya ritual sakral itu dilakukan. Beberapa kepala suku melakukan ritual ‘Bau Lolon’ sebagai simbol ritual peresmian air minum mulai digelar. Delapan perempuan yang hanya mengenakan sarung adat berdiri mengelilingi pipa air. Diatas kepalanya mereka menjunjung guci dari tanah liat. Sambil menunggu selesainya ritual Bau Lolon oleh kepala suku, delapan perempuan itu duduk bersilah menghadap pipa air. Suasana berubah jadi hening. Sambil bersujud, satu diantara perempuan itu maju bersilah. Dari sarungnya, dia mengeluarkan sebuah sarung adat dan sirih pinang yang telah disiapkan. Sarung itu dikalungkannya diatas pipa air yang sedang mengalir. Setelah mengalungkan sarung adat, perempuan itu lalu menyimpan sirih pinang persis di bawah pipa air. Saat itu juga, gong gendang ditabuh.

Usai ritual sakral itu digelar, delapan perempuan itu mengisi gucinya dengan air. Prosesi perarakan pun dimulai diiringi bunyi gong gendang dan tarian adat. Delapan perempuan yang menjunjung guci berisi air menjadi orang terdepan diiringi tarian dan ribuan warga desa. Prosesi perarakan air itu terhenti di rumah adat kepala kampung. Air yang dibawah delapan perempuan itu kemudian diisi ke dalam guci berukuran besar persis di sudut rumah adat. Ritual itu pun berakhir dengan pesta adat seluruh masyarakat kampung. Usai ritual adat, air yang sudah resmi secara adat sudah bisa digunakan warga desa.

Ritual pengalungan sarung adat dan sirih pinang itu sebagai simbol bahwa seorang perempuan Adonara tidak terlepas dari tenun dan sirih pinang. Meraka berkeyakinan, air adalah jelmaan leluhur perempuan yang wajib disambut dengan meriah secara adat bak seorang tamu agung. Menjaga kelestarian air, bagi masyarakat Adonara, sama seperti menjaga dan melindungi ibu atau saudari, mereka adalah sumber kehidupan seluruh makhluk di dunia. (amar ola keda/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *