Uma Uta, Desa Wisata Terbaik Tingkat Nasional

Wajah-wajah Anggota Sanggar Doka Tawa Tana. Foto : istimewa

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menyerahkan penghargaan kepada 10 besar Community Based Tourism (CBT). Kesepuluh Desa wisata yang  mendapat penghargaan tersebut yakni Desa Nglinggo D.I Yogyakarta, Desa Wisata  Semen Jawa Timur, Desa Wisata Sanur Kauh Bali, Desa Wisata Batu Layang Jawa  Barat, Desa Uma Uta Nusa Tenggara Timur, Desa Wisata Abang Batu Dinding Bali, Desa Wisata Nagarilawang Sumatera Barat, Desa Wisata Kemenuh Bali, Desa Wisata Kubu Gadang Sumatera Barat dan Desa Wisata Krebet Binangun D.I Yogyakarta.

Desa Uma Uta, Kecamatan Bola Kabupaten  Sikka dalam penilaian ini menempati Terbaik Kelima dalam pengelolaan CBT (Community Based Tourism) Desa Wisata Tingkat Nasional.

Penyerahan penghargaan dilakukan di Gedung Sapta Pesona Balairung Soesilo Sudirman, pada Rabu,(5/12/2018). Penghargaan diserahkan oleh Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan, Rizky Handayani kepada Ketua Kelompok Sanggar Doka Tawa Tana Desa Uma Uta, Cletus Beru. Adapun jenis penghargaan berupa piagam penghargaan, plakat dan uang tunai sebesar 5 juta rupiah.

Hadir pada kesempatan itu Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka Petrus Poling, seluruh perwakilan penerima CBT dari seluruh Indonesia, para pejabat terkait dan beberapa Pengurus CBT Doka Tawa Tana, Maumere.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka Petrus Poling kepada Fortuna saat itu mengaku bangga dengan raihan prestasi yang diperoleh CBT Doka Tawa Tana pimpinan Cletus Beru. Dia memberi apresiasi atas semangat juang dan kegigihan Cletus dan seluruh anggota CBT yang telaqh mendedikasikan diri selama kurang lebih 8 tahun membangun pariwisata seni dan budaya di kampung Uma Uta.

Petrus berharap penghargaan itu dapat memacu penyelenggaraan CBT  Uma Uta agar  kedepan dapat dikelola dengan lebih baik lagi. Dikatakan Dinas Pariwisata Sikka selama ini memang selalu mendukung semua program pengembangan desa berbasis pariwisata yang melibatkan desa-desa di Kabupaten Sikka dalam kegiatan seni budaya.

Petrus meminta untuk tidak segan-segan menjadi fasilitator dalam program pengembangan pariwisata desa di Lingkup Kabupaten Sikka. Tujuanya agar lahir “Cletus-Cletus” baru di kabupaten Sikka yang mau benar-benar memberi diri untuk sesama masyarakat mengurus kepariwisataan di lingkungannya

Sementara Cletus Beru kepada Fortuna usai menerima penghargaan itu mengisahkan perjuangan mempertahankan budaya leluhurnya yang bermula dari mendirikan sanggar Doka Tawa Tana pada tahun 2010. Waktu itu baginya merupakan momen penting karena warisan leluhur dihidupkan lagi. Tujuannya yakni mempertahankan keberlanjutan nilai-nilai seni budaya yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan generasi mendatang agar tidak punah. Tujuan itu bisa dicapai dengan berbagai  program dan rencana aksi nyata yang telah dilakoni selama kurang lebih 8 tahun belakangan.

Produk Tenun Ikat hasil Karya Ibu-Ibu Doka Tawa Tana Desa Uma Uta, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikk. Foto : Istimewa

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan Cletus bersama sanggar Doka Tawa Tana yakni  pementasan seni tari, music gambus dan suling, atraksi proses tenun ikat tradisional,  menenun sarung dan selempang dari kapas lokal, budidaya tanaman pewarna dan kapas local, pelatihan pembuatan pewarna alam bagi anak-anak SLTP, SLTA dan remaja muda-mudi, pelatihan pembuatan souvenir  dari bahan local dan sarung pemuda usia angkatan kerja, workshop  tenun ikat berbasis kapas dan pewarna tanaman lokal, hingga pendidikan tentang teknik dan tata krama menerima wisatawan.

Cletus berjanji akan terus menjaga dan menata kampung dengan aneka kearifan lokal sebagaimana yang ditekuni di komunitas Sanggar Doka Tawa Tana selama ini. Baginya penghargaan ini menjadi motivasi bagi dirnya dan semua anggota kelompok masyarakat untuk elbih giat membagun desa guna mendukung industri kepariwisatan di kabupaten Sikka

Kepada pemerintah, dia meminta untuk terus memberi perhatian kepada Desa Wisata Uma Uta dan desa- desa lain di kabupaten Sikka dalam melestarikan dan menjaga warisan leluhur agar tidak punah dan lekang oleh karena ulah modernisasi. (Laurens/42na-Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *