Air Mata Cletus Untuk Pelestarian Budaya Sikka

Suasana Penyerahana Penghargaan di Gedung Sapta Pesona, Kemenpar RI, Kamis, (5/12). Foto : Laurens Sogelaka

Ada yang unik disela-sela acara Penyerahan Penghargaan kepada 10 besar Community Based Tourism (CBT) Desa Wisata Terbaik tahun 2019 oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia di Jakarta, Rabu,(5/12/2018). Dari 10 Desa Wisata penerima penghargaan itu ada wakil dari Propinsi Nusa  Tenggar Timur yakni CBT Doka Tawa Tana pimpinan Cletus Beru. CBT ini beralamat di Desa Uma Uta, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Flores.

Sebagai pelaku wisata yang selama ini konsern melestarikan, menjaga dan mempromosikan berbagai potensi seni budaya peninggalan leluhur di Kampung Dokar, Desa Uma Uta, Cletus Beru pantas merasa terharu ketika didaulat untuk menerima penghargaan dari pemerintah pusat sebagai Desa Wisata Terbaik Nasional Tahun 2018. Tidaklah berlebihan ketika Cletus Beru harus meneteskan air mata disela-sela acara itu. Dia membathin karena mengingat napak tilas perjuangan dirinya bersama warga sekampung terlibat aktif membangun pariwisata di kampung Dokar.

Letih memang, dengan semangat pantang menyerah Cletus harus awali semuanya dengan mengajak warga Desa Uma Uta untuk terus melestarikan budaya yang dititipkan leluhur mereka dikala zaman kian maju. Saat dimana urusan pelestarian budaya dan tradisi seakan hanya menjadi milik generasi zaman old.

Benar ada ungkapan bahwa proses yang matang tidak akan menghianati hasilnya. Perjuangan panjang Cletus bersama generasi muda dan semua orangtua di kampung halamannya kini membuka mata banyak orang bahwa mencintai seni budaya daerah dan merawatnya bukanlah pekerjaan sia-sia.

Hasil yang diraih Cletus dan semua Anggota CBT Doka Tawa Tana hari ini adalah bukti nyata  bahwa merawat budaya daerah, mempromosikan tenun ikat juga berbagai potensi wisata lainnya yang ada di Desa Uma Uta adalah anugerah. Melalui kegiatan itu maka dirinya bisa tampil dan mendapat apresiasi dari pemerintah pusat melalui kementerian pariwisata.

Kepada Fortuna di Jakarta, Cletus mengisahkan perjuangan mempertahankan budaya leluhurnya yang  bermula dari mendirikan sanggar Doka Tawa Tana pada tahun 2010. Waktu itu baginya merupakan momen penting karena warisan leluhur dihidupkan lagi. Tujuannya yakni mempertahankan keberlanjutan nilai-nilai seni budaya yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan generasi mendatang agar tidak punah. Tujuan itu bisa dicapai dengan berbagai rencana program dan aksi nyata yang telah dilakoni selama kurang lebih 8 tahun belakangan.

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan Cletus bersama sanggar Doka Tawa Tana yakni  pementasan seni tari, music gambus dan suling, atraksi proses tenun ikat tradisional,  menenun sarung dan selempang dari kapas lokal, budidaya tanaman pewarna dan kapas local, pelatihan pembuatan pewarna alam bagi anak-anak SLTP, SLTA dan remaja muda-mudi, pelatihan pembuatan souvenir  dari bahan local dan sarung pemuda usia angkatan kerja, workshop  tenun ikat berbasis kapas dan pewarna tanaman lokal, hingga pendidikan tentang teknik dan tata krama menerima wisatawan.

Usai menerima penghargaan ini, Cletus berjanji akan terus menjaga dan menata kampung dengan aneka kearifan lokal sebagaimana yang ditekuni di komunitas Sanggar Doka Tawa Tana selama ini. Baginya penghargaan ini menjadi motivasi bagi dirnya dan semua anggota kelompok masyarakat untuk lebih giat membangun desa guna mendukung industri kepariwisataan di kabupaten Sikka

Kepada pemerintah, dia meminta untuk terus memberi perhatian kepada Desa Wisata Uma Uta dan desa- desa lain di kabupaten Sikka dalam melestarikan dan menjaga warisan leluhur agar tidak punah dan lekang oleh karena ulah modernisasi.

Cletus Beru dan Sekretaris Dinas Pariwisata Sikka, Petrus Poling, disela-sela acara Penyerahan Penghargaan di Kantor Kemenpar RI, Kamis, (5/12) Foto : Laurens Sogelaka

Untuk diketahui, tahun 2018 Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menyerahkan penghargaan kepada 10 besar Community Based Tourism (CBT). Ke sepuluh Desa wisata yang  mendapat penghargaan tersebut yakni Desa Nglinggo D.I Yogyakarta, Desa Wisata  Semen Jawa Timur, Desa Wisata Sanur Kauh Bali, Desa Wisata Batu Layang Jawa  Barat, Desa Uma Uta Nusa Tenggara Timur, Desa Wisata Abang Batu Dinding Bali, Desa Wisata Nagarilawang Sumatera Barat, Desa Wisata Kemenuh Bali, Desa Wisata Kubu Gadang Sumatera Barat dan Desa Wisata Krebet Binangun D.I Yogyakarta.

Desa Uma Uta, Kecamatan Bola Kabupaten  Sikka dalam penilaian ini menempati Terbaik Kelima dalam pengelolaan CBT (Community Based Tourism) Desa Wisata Tingkat Nasional. (Laurens/42na-Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *