Suling Bambu Dari Solor Harus Menggema Hingga Jakarta

Ada yang memanjakan indra pada Festival Nubun Tawa di Leworahang, kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur belum lama ini. Event wisata budaya itu menyisahkan banyak sajian menarik yang terus membekas. Diantara pagelaran budaya dan gegap gempita pembukaan hingga penutupan festival itu, ada satu magnet wisata yang tak mudah dilupakan yakni penampilan Musik Suling Bambu dari Solor Barat

Para peniup suling mambu yang didiominasi orangtua tersebut tampil begitu luar biasa dipanggung utama penutupan festival di pantai Leworahang, saat itu. Ribuan mata terpukau. Para wisatawan, Bupati Flores Timur Anton Gege, Wakil Bupati Agus Boli dan tetamu di kursi VIP juga dibuat terpesona dalam sekejab. Decak kagum penonton menyaksikan kebolehan Sanggar Sanon Nuren yang dilakoni puluhan orangtua dari Desa Tanalein, Kecamatan Solor Barat itu.

Hentakan tiupuan suling yang apik dalam ritme khas membahana ketika malam semakin larut. Lagu-lagu tempo doeloe dibangkitkan lagi dalam alunan musik khas kampung itu. Menggema dan sangat menghibur.

Laurentius Siola Hokeng, sang Ketua Sanggar yang memimpin kontes kala itu tampil begitu paripurna. Ribuan penonton seakan terbius ketika mereka tampil membawakan 5 lagu dalam berbagai genre.

Seruling Solor menjadi penampilan pemungkas yang paling ditunggu-tunggu. Begitu Laurentius mengambil microphone dan memperkenalkan profile sanggar itu dari atas panggung, penonton langsung riuh. Gaya penyampaian mantan Kepala Sekolah SDI Tunalein itu sangat dikagumi. Beberapa pengunjung dari laur Flores Timur mengaku sangat terhibur dengan pagelaran hajatan akbar berbasis budaya dan pariwistaa itu

“Saya tiga hari disini. Rangkaian acaranya bagus sekali dan banyak hal-hal baru saya belajar dari kampung ini. Terimakasih Pemda dan panitia. Satu yang buat saya terkagum adalah penampilan para orangtua yang membawakan musik tradisional Suling Bambu. Perpaduan ritme yang menghentak dengan lagu-lagu zaman dahulu malam itu membuat Festival Nubun Tawa tahun ini lebih berkesan,” papar Haryadi seorang pengunjung dari Jakarta yang kebetulan berlibur ke Flores Timur saat itu.

Harus diakui tim Musik Daerah Suling Bambu Solor menjadi spirit baru bagi generasi muda Flores Timur untuk tidak harusnya hanya menggagumi tetapi mau melestarikan seni budaya daerah itu. Opa Laurentius dan kawan-kawan telah menampilkan kekuatan terdalam pariwisata daerah itu meski usia mereka mulai renta.

Menurut Haryadi, kalau mereka yang tua-tua itu sudah bisa tampil menghibur warga di Solor dan Kota Larantuka mestinya generasinya bisa promosikan suling Solor sampai di Jakarta dan dunia. Aset budaya itu memang harus tetap dijaga dan ditularkan menjadi karya seni yang tidak saja menghibur tetapi juga bernilai ekonomi. (tim/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *