Meski Gencar, FINTHEC Ketat Diawasi OJK

Petinggi OJK Jakarta dan Kupang pose bersama para jurnalis disela-sela kegiatan. Foto : Humas OJK

Era baru Financial Thechnolgy (Finthec) memberikan banyak kemudahan bagi siapa saja untuk mengakses layanan jasa keuangan dan permodalan. Finthec juga berpotensi meningkatkan pendapatan “membernya” selain masyarakat mendapatkan layanan prima sebagai dampak dari kompetisi bisnis

Bagi lembaga jasa keuangan, usaha berbasis elektronik ini dipandang strategis dalam rangka meningkatkan pendapatan pasif (pasif income), hingga meraup keuntungan besar berbasis jaringan. Sementara untuk masyarakat sebagai sasaran, hadirnya Fintech ini berpotensi memperluas lapangan kerja dan menciptakan wirausahawan baru. Secara nasional, gencarnya Fintech diprediksi meningkatkan ekonomi bangsa di era digitalisasi dan praktis turut menekan angka pengangguran.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga yang berkompeten dalam menjalani pengawasan Jasa Lembaga Keuangan Mikro maupun Perbankkan memang harus bertindak sebagai wasit yang adil. Tujuannya agar segala praktek usaha berbasis tehnologi (Financial Technology) serta layanan akses permodalan ini bisa berkembang baik, menawarkan pelayanan prima tetapi tidak boleh merugikan siapapun.

Peraturan perundang-undangan mutlak ditegakan. Semua perizinan bagi unit bisnis dan lembaga jasa keuangan mikro dan UMKM termasuk yang berbasis Finthec harus melalui persetujuan OJK,” papar Kepala Bagian Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (INBK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hari Gamawan disela-sela Kegiatan Media Gathering di Hotel Ela Tambolaka, Sumba Barat Daya  belum lama ini

Kegiatan yang diikuti 25 wartawan dari berbagai media cetak, elektronik (TV dan Radio) serta media online itu mengusung thema “Perkembangan Industri Jasa Keuangan Provinsi NTT Serta Pengenalan Fintech (Peer to Peer Lending) dan Pegadaian Swasta”. Hadir 3 petinggi  OJK Pusat diantaranya Kepala Bagian Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (INBK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hari Gamawan, Kabag Litbang Lembaga  Keuangan Khusus, Jonathan Batubara dan Kasubag Pengawasan Financial Tehnology, Alvian Taulu serta Wakil Pemimpin OJK Perwakilan NTT, I Wayan Sadyana

“Kita senang, lembaga-lembaga  keuangan yang ada bisa berkontrbusi pada masyarakat  indonesia. Tugas kita adalah bagaimana mengawasi agar prakteknya bertanggungjawab,” ujar Garmawan

Sebagai lembaga pengawas keuangan, OJK memang memegang teguh pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang digariskan. Bilamana ada Lembaga Pembiayaan yang melakukan praktek-praktek diluar aturan yang berlaku akan ditindak. Apakah nanti teguran, panggilan ataupun saksi penutupan usaha akan dilakukan OJK sesuai kewenanganya.

Lembaga itu wajib memiliki izin prinsip sebagaiman amanat undang-undang tentang Perseroan Terbatas (PT). Ketika ada yang lalai maka tahapan pengawasan yang dilakukan OJK adalah meminta klarifikasi kepada Satgas Waspada Investasi,  selain teguran tertulis hingga sampai pada penutupan usaha.  Kendati demikian yang lebih penting bagi OJK adalah melakukan edukasi bagi masyarakat dengan cara-cara yang persuasif,”ujar Gamawan

Hari Gamawan

Perlu Sosialisasi Masif

Kasubag Pengawasan Financial Tehnology, Alvian Taulu saat itu mengatakan sangat diperlukan sosialisasi sehingga produk-produk Fintech diketahui luas oleh masyarakat. Mana lembaga- lembaga keuangan yang boleh beroperasi melayani masyarakat dan mana yang belum boleh.

Dikatakan saat ini banyak produk baru dan peraturan pun terus diupdate. Nah salah satu keunggulan Finthec kendati semuanya berpusat di Jakarta namun ekspansi usaha ini terbuka luas untuk berkembang ke semua kota tanpa harus mendirikan kantor cabang.

Prospek pengembangannya bisa sangat mudah karena dimana ada saluran internet, signalnya berfungsi, banyak Industri Keuangan Non Bank (INBK), jenis UMKM berkembang maka peluang untuk membuka usaha berbasis online ini pasti masuk.

Untuk itulah pihak OJK terus melakukan sosialisasi tentang Finthec ke semua kota termasuk di  Makasar, Medan, Menado, Batam, Bali, Ternate dan masih banyak kota lainnya. Dia berharap kota-kota di NTT segera diintesifkan menyasar kelompok UMKM, para pelaku usaha juga sosialisasi ke masyarakat sehingga menekan angka keterlibatkan dalam banyak lembaga keuangan bodong.

“Namun yang pasti OJK dengan segala keterbatasan dengan waktu yang terbatas terus kami kejar, tahun ini sudah banyak yang kita lakukan. Mudahan tahun depan bisa diperluas wilayah jangkauan sosialisasi. Kami mohon dukungan teman-teman media juga,”ujar Alvian

Kunjungan peserta Media Gathering ke Kampung Adat Ratenggaro. Foto : Humas OJK

Berwisata ke Destinasi Unggulan di Sumba

Hari kedua Kegiatan OJK Media Gathering  yakni Jumat (2/11/2018), para wartawan bersama pimpinan dan pejabat OJK serta panitia berkunjung ke obyek wisata Pantai dan Kampung Adat Ratenggero di Desa Maliti Bondo Ate. Destinasi wisata lainnya yakni Pantai Weekuri dan Pantai Mananga Aba (Pantai Kita).

Kunjungan ke sejumlah obyek wisata ini dipimpin langsung Wakil Pemimpin OJK Perwakilan NTT, I Wayan Sadyana. Menggunakan satu bus pariwisata dan satu unit Toyota Inova, semua peserta nampak enjoy dengan kegiatan funtrip itu. Berfoto ria sambil menikmati pesona wisata Sumba Barat Daya adalah aktivitas terbaik ketika beranjangssana ke objek wisata nan eksotis itu. Kegiatan ini menjadi ajang mempererat kebersamaan antara awak media dan lembaga OJK Perwakilan NTT selain untuk tujuan promosi wisata. (fdl/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *