Memahami Orang Sumba dari Rumah Budaya Ini

 

Rumah Budaya Sumba. Foto : Istimewa

Pulau Sumba menawarkan tujuan wisata lengkap bagi Anda para petualang dan peminat budaya. Di pulau ini dari bagian timur hingga baratnya dapat Anda temukan serentetan rumah adat beratap alang-alang, kubur batu, hingga kampung adat tradisional lengkap dengan perangkat budayanya. Bukan itu saja, Sumba juga menawarkan bahan kajian bagi para peneliti budaya.

Untuk mendapatkan informasi lengkap tentang kebudayaan di Pulau Sumba maka Anda perlu menyambangi Sumba Cultural Research and Conservation Institute atau Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba di Kalembu Nga’bangga, Weetebula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba dibuka pada 22 Oktober 2011 dan selain menjadi museum dan pusat penelitian budaya Sumba, lokasinya juga kerap menjadi tempat pementasan seni, diskusi budaya, dan toko untuk mendapatkan beragam cenderamata khas Pulau Sumba.

Rumah budaya ini didirikan atas usaha dan inisiasi Pater Robert Ramone yang merupakan seorang pastor dari CSsR (Conggregatio Sanctisimi Redemptoris). Ia telah mengupayakan pendiriannya sejak 2004 dan baru terealisasi pada 2010. Rumah budaya ini dibangun dengan dana sumbangan berbagai pihak dan lebih melandaskan pada kekuatan fisik, kekuatan intelektual, dan juga kekuatan jiwa dari orang-orang yang peduli budaya Sumba.

Pater Robert berharap rumah budaya ini menjadi ruang bagi pengunjung untuk mengenal, mencintai dan memahami Sumba. Rumah budaya ini, kata Pastor Robert, bukan untuk melestarikan Marapu (agama asli orang Sumba), melainkan juga menjadi jembatan memahami budaya Sumba.

Rumah  budaya ini berdiri di atas lahan seluas tiga hektar dengan dua bangunan kembar bercorak rumah adat Sumba yang menjadi gedung utamanya. Bangunan pertama di kiri adalah untuk kantor dan tempat tinggal, sementara yang satunya di kanan berupa galeri dan toko cenderamata. Di dalam museum atau galeri dapat Anda lihat beragam peninggalan tradisi Sumba. Beberapa diantaranya adalah totem, menhir, perhiasan, peralatan masak, dan juga foto-foto karya Pater Robert Ramone.

Di bagian tengah antara kedua gedung tersebut ada lahan pelataran yang dijadikan lahan panggung untuk pentas seni dan budaya. Pelataran tersebut diberi inisial lantainya berupa huruf C yang berasal dari bahasa Latin, yaitu: ‘cor’ artinya ‘hati’. Dalam tradisi Sumba, pada posisi huruf C itu berdiri pohon yang menandakan sahnya kampung. Huruf C itu juga berarti center atau culture. Ketika Anda berdiri persis di situ lalu menghadap depan (jalur masuk kendaraan) maka harapan semua yang datang akan membawa cinta, pergi, lalu datang lagi juga dengan membawa cinta.

Pater Robert Ramone sendiri telah lama dikenal warga Sumba selain sebagia pastor juga sebagai dokumentator budaya Sumba. Selama menjelajah Pulau Sumba, ia mendokumentasikan apa yang diamatinya dengan kamera sehingga menghasilkan ragam dokumentasi foto terkait budaya Sumba. Ia ingin mengingatkan semua orang bahwa hidup tidak akan ada nilainya tanpa tradisi. Suatu tradisi harus ada karena kesadaran diri kemudian kehidupan manusia tidak bisa berangkat dari titik nol karena tradisi menjadi kesadaran kolektif, yaitu kesadaran manusia tentang dirinya.

Oleh karena itu, bagi Pater Robert Ramone penting untuk orang Sumba mengenal sejarahnya. Apabila seseorang tidak kenal sumber identitasnya maka akan lupa diri dan seorang yang mengabaikan tempat tumbuh dan berkembang maka mudah lupa daratan. Atas upaya Pater melestarikan budaya Sumba tersebut ia mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan, diantaranya Akademikus Award NTT, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan dari Persatuan Bisnis Indonesia.(Berbagaisumber/42na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *