Generasi Muda dan Masa Depan Tenun Ikat NTT

Apriliani Nona Henny Blaan. Foto- Dok.Pribadi

Oleh : Henny Blaan

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat berbudaya. Ada begitu banyak aspek budaya yang melekat dalam seluruh tata hidup kebangsaan: bahasa, tarian, sistem kepercayaan, nyanyian, adat-istiadat, pakaian, dan sebagainya. Semua itu merupakan warisan budaya masa lalu yang tetap terawat baik hingga saat ini. Dimensi kultural itu pula yang menjadi ciri khas hidup kebangsaan, di mana mayoritas masyarakat kita amat menekankan preferensi kultural hampir dalam seluruh tatanan hidup. Salah satunya ditandai dengan cara berpakaian. Hal yang berpengaruh terhadap cara berpakaian adalah bahan dasar yang digunakan. Jika masyarakat Jawa memiliki batik untuk mengenalkan kebudayaannnya, maka masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki tenun ikat yang menjadi salah satu hasil kebudayaan, yang menjadi kebanggan masyarakat NTT pada umumnya, tanpa terkecuali Masyarakat Kabupaten Sikka.

Tenun ikat merupakan salah satu kain yang dibuat melalui proses menenun, oleh masyarakat. Fungsi tenun ikat antara lain sebagai busana untuk penggunaan sehari-hari, sebagai busana dalam tarian adat dan upacara adat, sebagai mahar dalam perkawinan, sebagai pemberian dalam acara kematian, sebagai wujud penghargaan bagi tamu yang berkunjung, sebagai bentuk cerita mengenai mitos dan cerita yang tergambar dalam motif-motifnya.

Kain tenun ikat khas Maumere (Kabupaten Sikka) adalah salah satu dari sekian banyak produk budaya yang dibuat secara tradisional, namun bernilai seni tinggi dan indah. Kain tenun ikat Maumere juga saat ini telah mendunia, yang merupakan hasil dari pemecahan Rekor MURI dan Rekor Dunia, pada tahun 2015 lalu. Hal inilah yang menjadi jembatan bagi masyarakat kabupaten Sikka, untuk memperkenalkan produk budayanya ke seluruh wilayah Indonesia, bahkan sampai ke tingkat dunia. Banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Maumere, berburu kain tenun ikat Maumere untuk dijadikan buah tangan. Tidak jarang kita juga sering melihat reporter, artis, bahkan Bapak Presiden Republik indonesia juga sudah pernah mengenakan jas berbahan dasar tenun ikat, dan juga para wisatawan luar negeri yang bahkan menjahit langsung kain tenun ikat untuk dipakai, atau dibuatkan tas dan kerajinan tangan lainya.

Proses pembuatan produk warisan budaya ini melewati sejumlah proses yang cukup rumit, dan memakan waktu yang cukup lama, bahkan hingga berbulan-bulan. Di wilayah kabupaten Sikka Ada banyak kelompok tenun ikat yang telah teridentifikasi, pun yang belum. Yang saat ini lebih dikenal adalah dari Sanggar Bliran Sina, yang terletak di kampung Watublapi, Lepo Lorun dari kampung Sikka.

Namun, seiring perkembangan zaman, sepertinya budaya menenun sendiri sudah mulai berkurang. Remaja dan genarasi muda yang mampu menenun tidak sebanyak dahulu. Saat ini lebih banyak mama-mama tua yang melakukan pekerjaan menenun. Hal ini tentu menjadi salah satu tantangan bagi keberlangsungan produk kain tenun ikat. Terlebih lagi, perkembangan zaman yang lebih modern, mendorong manusia untuk menikmati karya dan produk instan, dengan cara yang instan juga. Bahkan menenun pun saat ini bisa dengan mesin, yang membuat orang tidak tertarik untuk belajar menenun, apalagi kaum muda yang telah dimanjakan dengan yang instan. Hal ini yang membuat saya berpikir perlunya membuat gerakan dan pemberdayaan terhadap kelompok usia muda untuk terjun dan terlibat dalam produksi dan reproduksi karya pusaka tersebut.

Di kabupaten Sikka terdapat banyak organisasi kaum muda. Ada PMKRI, GMNI, BARINA, IMAM, Remaja Masjid, Pemuda Muhammadiyah, serta perkumpulan berlatar kampung atau desa/kecamatan, dan sebagainya. Organisasi kaum muda ini dapat digerakkan untuk melakukan kunjungan ke sanggar-sanggar budaya. Di sana mereka mempelajari dan mengenal tentang kebudayaan/kearifan lokal, dan salah satunya adalah tenun ikat. Bila perlu, mesti ada studi-studi spesifik oleh para mahasiswa, bukan saja untuk kepentingan akademik, tapi juga untuk mempromosikan tenun ikat secara luas. Selama ini, kebanyakan literatur kebudayaan dan promosi pariwisata, misalnya, dibuat oleh praktisi asing yang mengunjungi daerah kita. Hambatannya selalu ada di persoalan finansial. Karena itu, agaknya perlu stimulus anggaran daerah untuk kepentingan studi-studi kebudayaan oleh para mahasiswa.

Untuk menarik minat dan menambah passion kaum muda, adalah baik bila diadakan kerja sama dengan pihak pengelola pariwisata untuk mengadakan lomba menenun, atau pameran hasil tenun yang telah diperoleh dari pelatihan-pelatihan yang telah diikuti. Tidak perlu harus menenun sarung, tetapi cukup dimulai dengan menenun selempang yang sederhana. Dengan adanya kegiatan tersebut, tentunya akan menambah minat kaum muda untuk menambah pengetahuan tentang tenun ikat, serta belajar menenun dan mencintai kebudayaan daerah. Kegiatan ini dapat menjadi salah satu kegiatan positif untuk kaum muda, bukan hanya di kabupaten Sikka, tetapi juga untuk kaum muda NTT, untuk meningkatkan kecintaan mereka terhadap produk kebudayaan dan menjaga keberlanjutan tenun ikat yang menjadi kebanggaan masyarakat NTT (*

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *