Gelisah Punahnya Tenun Ikat,Piter Manuk Gagas Festival Tenun Antar Siswa

Serba-serbi Tenunan Khas Sumba. Foto Istimewa

Tenun ikat NTT saat ini menempati ranking I nasional. Kekayaan motif, ragam, corak dan bahan dasar pembuatannya menjadi mahakarya nasional yang gaungnya bahkan terus mendunia. Namun popularitas tenun ikat NTT ini suatu saat diyakini punah tak berbekas oleh karena putusnya mata rantai produksi.

Terbayang tidak, suatu saat semua  kekayaan motif dan tenun ikat yang kita miliki hanya tinggal nama. Aset besar NTT hanya akan jadi karya mesin pabrikan yang adalah bagian dari copy paste/jiplakan mesin. Kita bakal kehilangan orang-orang hebat, mama-mama penenun dari kampung-kampung  akan pergi meninggalkan semua karya emas ini.

Itulah sebabnya, generasi muda kini tidak boleh tinggal diam. Mulai dari sekolah-sekolah dasar hingga menengah, ilmu dan praktek tentang tenun ikat harus digalakan secara masif guna melestarikan  karya tenun ikat ini.

Kegalauan ini terbersit dari seorang  Sinun Petrus Manuk, Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi NTT. Dia ragu, suatu saat, tidak ada lagi orang NTT yang bisa menenun. Pria yang akrab disapa Piter Manuk itu tengah berpikir keras untuk kembali menggenacarkan program tenun masuk sekolah menggandeng Dinas Pendidikan NTT.

Pertanyaan kritis Piter Manuk kepada wartawan adalah, “coba teman-teman wartawan punya data atau tidak, berapa banyak anak-anak usia sekolah SD-SMA/SMK yang bisa menenun. Mereka ini adalah generasi muda yang harusnya bisa mewariskan kekayaan kita ini,” ketusnya kepada Fortuna di sela-sela kegiatan Dialog Kebudayaan  di Kristal Hotel Kupang (1/10).

Dikatakan, saat ini jumlah anak sekolah di NTT yang masih menenun sangat sedikit. Bahkan hanya ada beberapa sekolah yang punya kelas muatan lokal menenun misalnya di SMPN 1 Umalulu Sumba Timur; juga di SMK 4  Kupang yang memiliki Jurusan  Tenun Ikat. Pemerintah melalui Dinas Kebudayaan terus mendorong upaya pelstarian ini dengan banyak strategi.

“Saya punya impian untuk mewariskan tenun ikat ini. Meski kewenangan ada di Dinas Pendidikan, kita akan kerjasamakan. Langkah awal adalah pembentukan Komunitas Tenun disekolah-sekolah secara berjenang mulai dari SD-SMA. Yang kedua kita mendorong SMK-SMK membuka Jurusan Tenun Ikat. Tentu tidak semua tetapi kalau kita liat dari data jumlah SMK di NTT hampir 1000 sekolah, kalau  50 %  atau 500 sekolah saja yang belajar tenun ikat di masing-masing sekolah katakanlah ada komunitas tenun ikat sejumlah jumlah 10 orang siswa saja maka  sudah banyak orang yang kita miliki,”urainya sambil berharap dengan cara sederhana ini maka ilmu tentang tenun ikat sudah tertular kepada segenap generasi muda pelajar NTT secara berjenjang.

Baginya ada kesulitan diawal itu pasti tapi harus memulai. Perlu diingat bahwa orangtua kita dahulu tanpa  pendidikan yang cukup saja, mereka mampu menciptakan motif yang apik dan perpaduan warna yang sangat menarik dan jadi kebanggaan kita sekarang.

Orangtua dahulu memang  luar biasa. Mereka tidak sekolah namun mereka ternyata lebih cerdas dari kita sekarang. Merekalah profesor Tenun Ikat. Mereka punya  ide, punya peralatan yang terbatas, bahan baku yang alami, tetapi ide itu langsung dituangkan dalam bentuk mahakarya yang eksotis dan mengagumkan,” ujarnya optimis.

Nah ini generasi muda saat ini harus mulai. Dalam satu forum akbar awal bulan ini, Dinas Kebuyayaan NTT akan melakukan dialog thematik tentang tenun ikat dan diharapkan mampu melahirkan ide yang bisa diterapkan segera kepada generasi muda NTT melalui lembaga-lembaga formal yang ada.

Output ini tentu sejalan dengan ide Kadis Piter Manuk untuk membumikan  tenun masuk sekolah mulai tahun 2019, dilanjutkan dengan  gebyar Festival Tenun Ikat Antar Siswa tahun 2020. Event akbar ini diharapkan menjadi event nasional dari NTT yang dilaunching di Jakarta. Dengan demikian gagasan besar ini bisa diikuti dengan gerakan nasional dan gerakan propinsi NTT untuk membumikan budaya daerah dan tenun ikat ini secara optimal. (fdl/42na)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *