Rekatkan Tradisi Menuju Kota Kefamenanu “Ume Naek Ume Mese”

Bupati Raymundus Fernandes dan Wabup Aloysius Kobes ketika menyerahkan hadiah bagi peserta Napak Tilas. Foto : Fortuna

Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Propinsi Nusa Tenggara Timur adalah satu kabupaten perbatasan Indonesia dan negara Timor Leste. Daerah ini dibelah oleh satu wilayah enclave di Oekusi yang kini masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif. Sebagai daerah yang menjadi beranda terdepan NKRI, kabupaten TTU ditantang untuk mempertahankan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Tradisi budaya dan nilai-nilai kearifan lokal terus dilestarikan. Seni budaya dipandang menjadi filter akan masuknya pengaruh budaya asing yang kian menggerus zaman. Dengan mempertahankan seni budaya,  pemerintah daerah dan rakyat TTU ingin menunjukan diri sebagai daerah yang bermartabat, berkepribadian serta setia dan bangga menjadi warga negara Indonesia

Kekuatan akan jatidiri sebagai daerah yang “taat budaya” ini kasat mata terlihat dalam berbagai hajatan nasional regional maupun lokal.  Dalam berbagai event dan Perayaan Hari Besar Nasional, pemerintah daerah TTU mewajibkan seluruh komponen baik Pejabat politik dan Unsur Forkompimda TTU, DPRD TTU, ASN, pelajar mahasiswa dan masyarakat mengenakan secara lengkap pakian adat daerahnya.  Hal yang sama juga terlihat pada saat pagelaran Upacara Penghormatan Bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Kefamenanu ke-96 pada tanggal 22 September kemarin

Dikomandani Bupati Raymundus Fernandes dan Wakil Bupati Aloysius Kobes, kegiatan memeriahkan HUT Kefamenanu ini diisi dengan berbagai acara. Selain bernuansa olahraga dan fisik, ada beberapa event seni budaya dan ritus sejarah dilakonkan. Sebut saja Pentas Seni Budaya Antar Wilayah/ Kecamatan, Parade/Karnaval Budaya dengan melibatkan semua suku/etnis yang berdomisili di kota Kefamenanu yang mengenakan pakaian adatnya masing-masing serta pagelaran pentas/atraksi budaya lokal seperti tinju tradisional (Manantika) dan lain sebagainya. Satu tradisi yang pasti dilakukan pada HUT Kota Kefamennau setiap tahun adalah Upacara Adat/Ritus dan pagelaran Napak Tilas sejarah Kota dari kota Lama di Naeltoko ke Kota Kefamenanu saat ini. Perayaan HUT Kota Kefamenanu tahun 2018 dirancang berlangsung 10 hari yang dimeriahkan dengan pameran pembangunan, aneka perlombaan, festival, konser/hiburan rakyat, napaktilas,  karnaval budaya, upacara bendera hingga  acara puncak.

Kapolres TTU dengan jajarannya dalam balutan busana lokal kabupaten TTU. Foto : Fortuna

Napak Tilas dari Noeltoko menuju Kota Kefamenau menjadi satu acara penting dari rangkaian acara yang dirancang pemerintah kabupaten TTU dalam setiap perayaan HUT Kota Kefamenanu. Acara ini didahului dengan pagelaran ritual adat di lokasi kota lama (Naeltoko) untuk meminta restu alam dan memberi makan para leluhur yang dipandang sebagai peletak dasar berdirinya kota Kefamenanu. Acara selanjutnya adalah pelepasan peserta Napak Tilas di hari kedua. Untuk tahun 2018 ada puluhan peserta dari berbagai latarbelakang dan komunitas mengikuti Napak Tilas. Melalui kegiata tersebut peserta diajak mengenang dan merefleksikan perjuangan para pendahulu mulai dari melawan penjajah, merebutkan kemerdekaan, hingga menguasai wilayah Noeltoko yang dijadikan pusat pemerintah ketiga swapraja Biinmafo ditanah Timor hingga musyawarah dan prosesi pemindahan ibukota kabupaten TTU dari Noetoko ke kota Kefamenanu saat itu. Napak Tilas dalam 2 etape ini dilepas secara resmi oleh Bupati TTU Raymundus Fernandes langsung dari Noeltoko menuju daerah Haumeni pada hari pertama dan selanjutnya dari Haumeni menuju Kota Kefamenanu.

“Selain menanamkan semangat bela negara, nasionalisme dan patriotisme kepada generasi muda yang terlibat, Napak Tilas  memberikan pesan moral untuk selalu menghargai perjuangan para pendahulu, merefleksikan tapak-tapak perjuangan serta memotivasi generasi muda untuk terus bekerja dengan semangat tinggi membangun TTU sebagai sebuah daerah perbatasan yang syarat dengan isu separatisme dan disintegrasi,” papar Raymundus ketika melepas peserta Napak Tilas di Noeltoko saat itu.

Nuansa budaya juga terpantau saat pagelaran upacara bendera pada tanggal 22 September. Apel bendera yang biasanya dengan protap bernuansa nasional terutama dari aspek pakaian yang dikenakan peserta baik Inspektur upacara (pakian kebesaran nasional), pembina upacara, peserta hingga para tamu undangan, tidak nampak dalam perayaan di Kefamenanu kali ini. Pemda TTU sebaliknya menggelar apel bendera dengan mengerahkan seluruh peserta upacara memakai busana lokal khas TTU. Peserta upacara yang datang dari berbagai latarbelakang diwajibkan mengenakan pakian adat TTU lengkap dengan aksesoriesnya. Bupati TTU Raymundus Fernandes yang menjadi Inspektur Upacara tampil gagah dengan pakian adat kebesaran TTU khas Miomafo. Demikian juga Wakil Bupati Aloysius Kobes dengan pakian adat dari Insana, jajaran Forkompimda TTU, mantan bupati Anton Amaunut, anggota DPRD Propinsi NTT Dolfianus Kolo dan semua tamu undangan di tenda VIP semuanya tampil dalam balutan budaya pakian khas TTU. Hal yang sama juga ditampilkan petugas apel mulai dari penggerek bendera merah putih, pembaca Teks Pancasila dan UUD, pembaca lembaran Sejarah Kota Kefamenanu; semuanya tampil dengan busana khas daerah. Upacara berstandar nasional saat itu diramu sedemikian rupa hingga syarat nuansa kedaerahan tanpa meninggalkan nilai dan makna dasar dari sebuah upacara. Lapangan Oemanu dipadati peserta apel bendera dari unsur anak-anak sekolah, utusan mahasiswa, OKP, para pegawai pagi itu menjadi begitu elok dengan tampilan pakaian adat khas tiga Swaparaja TTU; Biinmafo (Biboki Insana Miomafo) tersebut.

Anak- Anak TTU bangga mengenakan pakaian adat TTU. Foto : Fortuna

Pemandangan yang sama ketika memasuki kegiatan Karnaval Budaya. Ribuan warga masyarakat  dari berbagai etnis tumpah ruah dijalan-jalan protokol dan memadati lapangan taman kota di depan Rumah Jabatan Bupati TTU. Berbeda dengan saat apel dan prosesi napak tilas, suasana karnaval ini tetap dalam nuansa budaya namun yang ditampilkan soal keragamaan budaya. Selain delegasi budaya dari 22 kecamatan di kabupaten TTU, ratusan peserta dari berbagai etnis dan komunitas  mengambil bagian dalam parade budaya tahun ini. Kegiatan itu benar-benar ingin menampilkan kekhasan seni budaya nusantara dan pakaian daerah dari masing- masing etnis yang selama ini berdomisili di kabupaten TTU. Tidak hanya mengenakan pakaian tradisional dan aksesories dari masing-masing etnis, peserta karnaval  juga menampilkan musik tradisional, tarian serta berbagai atraksi budaya lokal dari setiap etnis.

Setelah dilepas secara resmi oleh Bupati Raymundus Fernandes, Wakil Bupati Alo Kobes dan Unsur Forkompimda TTU, di depan Rumah jabatan bupati, para peserta seakan “berdemontrasi” kepada ribuan penonton yang berjejer rapi  disepanjang jalan protokol yang mereka lalui. Event ini menambah semarak perayaan “Hari Jadi” kota Kefamenanu yang mungil nan dinamis itu.

Karnaval budaya yang dimeriahkan ribuan warga dari berbagai latarbelakang ini menjadi simbol keragaman nusantara. Kabupaten TTU adalah Indonesia mini yang siap menerima semua orang yang beritikad baik membangun daerah itu. Hal tersebut juga memberi isyarat bahwa masyarakat kabupaten Timor Tengah Utara adalah orang yang ramah, suka bersahabat serta siap bersinergi dan berbagi dengan siapa saja. Untuk itulah tidak mengherankan ketika pemerintahan Bupati Raymundus Fernandes dan Aloysius Kobes memilih filosofi pembangunan “Ume Naek Ume Mese”; menjadikan TTU sebagai ruamh besar untuk semua.

“Kota Kefamenanu dan kabupaten TTU ini adalah milik semua orang. Kita menempatkan diri sebagai rumah besar (Ume Naek Ume Mese) yang nyaman bagi siapa saja yang datang, berdomisili dan berkarya di TTU. Semaraknya karnaval tahun ini ingin mempertegas kepada publik nusantara bahwa apapun perbedaan latarbelakang suku, agama adat budaya dan tradisi tidak boleh melunturkan persaudaraan dan semangat bersama membangun kabupaten TTU,” papar Bupati TTU Raymundus Fernandes dalam sambutannya ketika menutup kegiatan HUT Kota kefamenanu di lapangan Oemanu saat itu

Tradisi budaya dan ritus yang begitu mendominasi dalam setiap hajatan di kabupaten TTU menjadi satu indikator bahwa pemerintah daerah itu melihat seni budaya dan warisan tradisi lokal menjadi 2 aset besar yang sudah melekat dengan keseharian masyarakat setempat. Membangun kabupaten TTU tidak hanya bisa dilakukan melalui kemampuan perencanaan pemerintah yang bombastis tetapi perlu dipadukan dengan kearifan lokal.  Aspek partisipasi masyarakat lokal berbasis budaya menjadi satu peluru yang siap memajukan pembangunan.

Kapolores TTU, AKBP Rishian Krisna Budhiaswant dan Istri nampak angguh mengenakan pakian adat khas Kabupaten TTU dalam Karnval Budaya tahun 2018. foto : Fortuna

Wajib Berbusana Adat daerah

Terkait penggunaan pakaian adat daerah yang  begitu mendominasi dalam setiap pagelaran event di TTU dalam beberapa tahun terakhir, Raymundus mengatakan sudah menjadi kewajiban bagi dirinya dan wakil bupati untuk terus mendorong masyarakat menggunakan pakian adat daerah. Selain sebagai bentuk pengakuan pakian adat sebagai aset daerah, melestarikan dan mewariskan kepada generasi muda untuk mengenal jati dirinya sebagai orang TTU adalah sasaran yang mau dicapai. Kebijakan mewajibkan ASN dan masyarakat mengenakan pakaian daerah tentu memberi dampak ekonomi bagi pengrajin yang keseharinnya bekerja menghasilkan tenunan motif khas TTU.

Ini bukan untuk gagah-gagahan tetapi ini niat suci kami. Sudah bertahun-tahun kami wajibkan semua orang pakai pakian adat. Mulai dari kami dua; saya dan pak wakil juga jajaran pemerintah dan Forkompimda bahkan DPRD TTU. Selain untuk alasan pelestarian pakaian adat sebagai aset budaya daerah,  kebijakan ini untuk menghargai mahakarya mama-mama kita dari kampung yang saban hari mengurus usaha tenun ikat. Dari usaha tenun ikat ini mereka bisa mendapatkan sesen dua untuk bisa menghidupi diri, keluarga termasuk untuk menyekolahkan anak-anak,” ujar Raymundus diamini Wabub Alo Kobes saat itu.

Untuk diketahui, Pemda TTU dalam beberapa tahun terakhir mewajibkan seluruh ASN/PNS dilingkup kerja masing-masing untuk mengenakan pakaian adat TTU lengkap pada jam kantor setiap bulan 2 kali. Dalam beberapa hajatan pemda, para ASN juga diwajibkan  menggunakan pakian adat setempat. Bahkan sebagai pemilik kebijakan Bupati Raymundus Fernandes dan Wakil Bupati Alo Kobes menjadi contoh dengan selalu mengenakan pakaian adat TTU lengkap sesuai jadwal. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *